Orang-orang kerap kebingungan antara memilih bertualang dengan membali barang yang mereka inginkan. (Foto: Pexels)

Sabigaju.com – Kebahagiaan adalah salah satu hal penting dalam hidup. Rasanya kita semua berupaya melakukan berbagai cara agar bisa mendapat kebahagiaan itu–terlepas dari apa definisi kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan juga salah satu indikator sehatnya sebuah lingkungan sosial, termasuk jika kebahagiaan itu dikaitkan dengan faktor ekonomi.

“Uang bisa membeli kebahagiaan” vs “uang tidak bisa membeli kebahagiaan” masih jadi pro kontra sejak lama. Tiap pilihan punya alasan rasional yang saling terkait dengan definisi kebahagiaannya masing-masing. Kalau berdasarkan penelitian ilmiah, kebahagiaan dari segi ekonomi ini bukan soal bisa atau tidak bisanya uang tersebut membeli kebahagiaan, tapi untuk apa uang itu dialokasikan.

Banyak orang menghabiskan uang mereka untuk membeli barang, dengan alasan; barang bisa lebih tahan lama sehingga bisa membuat bahagia lebih lama. Kalau kamu termasuk salah satu yang berpikiran demikian, sayangnya kamu salah besar. Kamu akan lebih bahagia dengan uangmu jika kamu pakai untuk mendapatkan pengalaman baru.

BACA JUGA: 5 Hal Ini Wajib Kamu Siapkan Sebelum Solo Traveling Pertama Kali

“Salah satu musuh dari kebahagiaan adalah adaptasi. Kita membeli barang untuk membuat kita bahagia, dan kita berhasil, tapi hanya sementara. Barang baru memang menarik untuk kita pada awalnya, tapi kemudian kita terbiasa dengan keberadaannya,” kata Dr. Thomas Gilovich, profesor psikologi di Cornell University.

Jadi, dibanding kamu menghabiskan uang untuk membeli iPhone atau BMW jenis terbaru, Gilovich merekomendasikan kamu untuk menghabiskan uang dengan “membeli” petualangan kalau kamu ingin lebih bahagia. Contohnya, pameran seni, aktivitas outdoor, kursus, ataupun traveling.

Pengalaman kita akan menjadi bagian yang lebih besar dalam diri kita dibanding benda-benda tersebut. Menurut Gilovich, kita bisa saja menyukai benda-benda tersebut dan menganggap benda itu sebagai “identitas” diri kita. Tapi, biar bagaimanapun benda itu tetap terpisah dengan diri kita, sementara pengalaman berada di dalam diri; dalam bentuk kenangan, pelajaran maupun nilai-nilai panutan. “Kita adalah kumpulan pengalaman-pengalaman kita,” katanya.

Pengalaman juga membuat kita jadi orang yang lebih berempati. Kamu tentu bakalan lebih merasa ‘terkoneksi’ dengan seseorang yang pernah mengalami pengalaman serupa denganmu, dibanding dengan seseorang yang punya jenis ponsel sama denganmu, kan?

So, kalau kamu mau jadi lebih bahagia, pakai uangmu untuk bertualang sebanyak-banyaknya daripada mengoleksi barang, ya! (sbg/Fitri)

Comments