Pergi ke Kantor mengenakan masker
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Saat ini hampir semua orang mengenakan masker saat keluar dari rumah demi mencegah penularan virus corona. Aturan ini sudah sesuai dengan instruksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang baru, dan diikuti oleh pemerintah Indonesia.

Umumnya masker yang dikenakan orang saat ini adalah masker kain berlapis, sebab masker bedah dan N95 hanya untuk tenaga kesehatan.

Lantas apakah dengan memakai masker kita sudah bisa kembali bersosialisasi seperti biasa?

BACA JUGA: Pandemi Covid-19 Mengubah Pribadi Manusia Jadi Lebih Baik?

Mengenakan Masker

Menurut Peter Gulick, spesialis penyakit menular dan profesor kedokteran di Michigan State University, mengenakan masker kain memang baik. Namun, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan social distancing maupun physical distancing.

Penggunaan masker darurat dapat berguna saat kita berada di supermarket dan apotek yang notabene merupakan tempat tersulit untuk menerapkan jarak sosial. Namun, masker ini tidak bisa digunakan sebagai pengganti jarak sosial.

“Masker wajah tidak menggantikan jarak sosial. Fungsi masker bukanlah untuk dipakai sehingga kita bisa lebih dekat dengan orang lain,” ujar Gulick.

Jika kita ingin menjaga diri dan komunitas kita dari virus corona, kita harus menerapkan jarak sosial.

Masker wajah tidak menggantikan jarak yang perlu kita jaga dari orang lain, kata Philip Robinson, direktur pencegahan infeksi di Hoag Memorial Hospital Presbyterian di Newport Beach, California.

“Setiap orang yang melakukan isolasi diri mengurangi risiko menulari orang lain,” kata Robinson.

Ia menambahkan, dalam waktu 30 hari, seorang individu yang tidak mempraktikkan jarak sosial berisiko menginfeksi ratusan orang.

“Dengan mengurangi kontak fisik sebesar 75 persen, risiko infeksi individu itu merosot menjadi 2,5 orang,” katanya.

BACA JUGA: Akankah Kebiasaan Berjabat Tangan Bakal Hilang Selamanya?

Sampai kapan Kita Mesti Menjaga Jarak?

Pemaparan itu tentunya menimbulkan pertanyaan , kapan tepatnya pandemi ini akan berakhir, dan kita dapat kembali menjalankan aktivitas sebagai manusia normal?

Berdasarkan hasil penelitian di Harvard T.H. Chan’s School of Public Health, langkah pembatasan sosial ( social distancing) akan diperlukan hingga tahun 2022.

Hal itu diramalkan bakal terjadi jikamasih tidak ada vaksin atau pun perawatan yang efektif terhadap mereka yang terjangkit virus corona.

Pada sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science, tim ahli epidemiologi di Harvard juga menilai apa yang diketahui tentang Covid-19 -dan virus corona lain, untuk memprediksi kemungkinan skenario krisis kesehatan global saat ini.

Studi itu mencatat, langkah pembatasan sosial seperti menutup sekolah, larangan berkumpul di area umum, dan tetap berada di rumah, bisa diperlukan hingga beberapa tahun mendatang.

“Tidak ada intervensi lain, metrik kunci untuk keberhasilan pembatasan sosial adalah apakah kapasitas perawatan kritis telah dilampaui. Untuk menghindari ini, pembatasan sosial yang lama mungkin diperlukan hingga tahun 2022.” Demikian diungkapkan peneliti dalam laporan tersebut.

Mari kita Terus berharap agar para peneliti dapat menemukan obat  yang dapat mengatasi pandemi ini agar kita dapat  beraktivitas seperti sedia kala. (Sbg/Rig)

Comments