Sabitalk Pahami Depresi
Aryoputro Nugroho saat memandu dialog Sabitalk yang membahas kecenderungan meningkatnya Depresi saat ini bersama Lilik Saraswati dan Septiana Iskandar. (Foto; Yovita/Sabigaju.com)

Sabigaju.com – Depresi sepertinya telah menjadi momok, kultur bahkan trend yang terjadi di Indonesia dan di belahan dunia internasional saat ini. Terlebih depresi itu bukan hanya tentang sedih namun depresi merupakan suatu bentuk sedih dan tertekan yang berkepanjangan.

Hal tersebut mengemuka lewat dialog striming yang disiarkan beberapa waktu lalu yang menghadirkan dua orang psikolog, Septiana Iskandar serta Lilik Saraswati.

Menurut Septiana, gejala depresi dapat dilihat saat seseorang telah kehilangan fungsi-fungsi dirinya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat. Misalnya saja saat seorang anak atau remaja dia tidak mau sekolah, atau seorang manusia yang terlihat dewasa namun seakan kehilangan semangat hidup termasuk tidak dapat konsentrasi lantaran menjadi korban akibat depresi bekerja.

Dialog yang dipandu oleh Aryo juga membahas pentingnya perhatian khusus dari masyarakat terhadap individu yang mengalami stress berkepanjangan ataupun orang yang menjadi korban depresi sebab ada dampak yang bisa membahayakan diri ataupun lingkungan sekitar.

Sabitalk Pahami Depresi
Lilik Saraswati  dan Septiana Iskandar saat tampil dalam Dialog Sabitalk beberapa waktu lalu. (Foto: Yovita -Sabigaju.com)

Menurut Septiana Iskandar, stress atau depresi yang dialami oleh individu pada prinsipnya bisa ditanggulangi selama ada suatu support system. Dalam hal ini support system adalah lingkungan secure, teman dan awareness orang tua bersangkutan.

Ditambahkannya bahwa support system disini termasuk halnya mengenai bagaimana treatment dari teman atau orang tua yang harus aktif mengajak bicara dan mengajak untuk refreshing agar mendatangkan kenyamanan dalam berbicara bagi si korban tentu merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.

Hal itu penting sebab bila depresi dibiarkan berkepanjangan bisa mengakibatkan efek-efek lebih lanjut seperti sakit hingga paling ekstrimnya bunuh diri.

Disisi lain Lilik Saraswati mengingatkan agar masyarakat harus cukup peka untuk melihat perubahan-perubahan kebiasaan yang sedang terjadi termasuk dengan peka melihat bagaimana status update dari korban depresi ini di sosial media bersangkutan.

Misalnya saja kita dapat memberikan perhatian sebagai peran penting untuk menurunkan kadar stress bagi individu yang tengah depresi.

Lilik menyarankan agar korban depresi perlu untuk memperhatikan output-output apa saja yang bisa dilakukan untuk melepaskan kadar depresi bagi dirinya. Misalnya dengan cara mendengarkan musik, menemukan komunitas baru, traveling, belanja atau dengan cara pelepasan apapun sesuai kesenangan dari korban depresi.

Depresi dan Bunuh Diri Selebriti

Dalam dialog tersebut Aryoputro Nugroho sempat menyinggung tentang sejumlah selebriti papan atas yang telah menjadi korban depresi yang ekstrim dan memilih melakukan bunuh diri untuk mengakhiri permasalahannya. Beberapa di antaranya yaitu Chester Bennnigton (vokalis Linkin Park), Chris Cornell (vokalis Soundgarden) ataupun komedian papan atas Robin Williams.

Menurut Septi, ketenaran, popularitas selain menjadi blessing juga bisa menjadi curse. Misalnya saja ketenaran dan kesuksesan yang diperoleh oleh komedian internasional seperti Robin Williams muncul dari rasa feeling loneliness, ekspektasi atau beban tekanan tertentu terutama ketika artis harus juggling memainkan suatu peran diluar karakter dia.

Buat kalian yang ingin mengikuti Dialog Sabitalk dengan tema Pahami Depresi Agar Tidak Bunuh Diri tersebut, kamu bisa mennyaksikan video lengkapnya di bawah ini yah. (Sbg/Ary/Rig)

Comments