Sabigaju.com – Cerita tentang keindahan pantai Sawarna yang terletak di wilayah Banten Selatan bukanlah hal baru. Pada awal tahun 2010, booming wisatawan asing yang ingin berselancar dalam derasnya gelombang ombak Sawarna di balik eksotika alamnya bahkan sudah bergema.

Bersamaan dengan terus berdirinya penginapan dan penataan pantai yang masih jauh dari jangkauan wisatawan lokal itu, eksotisme Sawarna terus didengungkan. Eksotisme pemandangan alam, juga biru laut perawan yang mempesona memang menjadi daya tarik tersendiri. Meski bagi wisatawan lokal yang tak mampu berselancar, ke Sawarna hanya dapat menikmati pemandangannya saja.

Pantai Sawarna Banten (Instagram devid.ong)

Padahal di balik cerita indahnya pantai Sawarna, dengan segala kendala medan tempuh yang harus dilalui, baik melalui jalur Sukabumi Jawa Barat, maupun Serang Banten, terselip kisah nostalgia para pendiri bangsa yang sempat berunding jelang mengusir tentara sekutu pada tahun 1944. Hingga terjadi perdebatan sengit antara Bung Karno dan Tan Makala ihwal penting dan tidaknya melawan tentara Sekutu dengan bantuan Jepang.

Tan Malaka (Foto by KITLV)

Kala itu Tan Malaka menyamar dalam pekerja tambang mandor dengan nama Ilyas Hussein dengan lantang mendebat berbagai pemikiran Soekarno.

Berbagai argument yang dilontarkan oleh Tan Malaka seakan membuat Soekarno pun gerah. Momen mendebarkan terjadi manakala Tan Malaka yang kala itu menyamar sebagai Ilyas Hussein, dengan sigap hendak merebut mikropon yang berada di dekat Soekarno. Namun, ia gagal lantaran Camat wilayah Bayah lebih dulu mengambilnya.

Dalam catatan sejarah, perdebatan itu memang tak selesai. Debat antara Tan Malaka dengan Soekarno baru selesai manakala Soekarno dan rombongan memutuskan untuk pulang ke Jakarta.

Perlahan Bung Karno baru mengenali pejuang lelaki yang selama ini menghilang dikejar-kejar tak hanya dinas intelijen Hindia Belanda (PID), atau Kempeitay Jepang, melainkan semua aparat penjajah; Inggris dan Amerika hingga para agen rahasia Rusia.

Nostalgia itu seakan menjadi penanda betapa kawasan Sawarna menjadi cikal bakal wilayah yang bukan saja eksotis dengan pantai yang terhubung dengan laut Hindia, dengan kekayaan batubara, tapi muatan historis di dalamnya. Dimana termaktub jejak revolusi menuju gerbang kemerdekaan.

Perdebatan rumit Bung Karno dan Tan Malaka, rupanya serumit jalan terjal dan berkelok jika Anda hendak menunju pantai nan eksotik itu. Meski sebenarnya jalur menuju Sawarna banyak alternatifnya yang bisa Anda tempuh namun tetap saja butuh perjuangan untuk sampai kesana.

Pantai Sawarna (Instagram littlealesya)

Jika Anda memilih jalur Serang, pusat kota pemerintahan Banten, tak jauh dari Jakarta, Anda harus melewati dua kabupaten sekaligus, kabupaten Pandeglang, lalu melewati jalan sepi nan berkelok menuju Malimping, Kabupaten Lebak.

Dari jalur ini, jika Anda berangkat dari Jakarta, memang tidak akan menemukan jalan macet. Waktu yang ditempuh jika Anda dari Jakarta sekitar 5 jam baru Anda akan sampai disana.

Pantai Sawarna Banten (Instagram beachseaisland)

Sementara jika Anda menempuh jalur melalui pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat, Anda masih harus berjuang membelah kemacetan Jakarta-Sukabumi, meski jalan yang akan dilintasi terbilang mulus, dibandingkan melalui jalur serang.

Di jalur ini jalanan berkelok dan curam juga terbilang banyak yang bakal Anda temui sebelum akhirnya sampai di pantai nan eksotik itu. Ada pun waktu tempuh diperkirakan 5 jam dari Jakarta, tapi itu dengan catatan perjalanan Jakarta-Sukabumi terbilang lancar. Jika macet masih sulit diprediksi. (Sbg/Ink)

Comments