Sabigaju.com – Meski usianya sudah senja ternyata tak menyurutkan niat artis senior Nani Wijaya untuk menikah lagi setelah suaminya meninggal dunia, Misbach Yusa Biran, enam tahun silam.

Kabar rencana pernikahan Nani Wijaya itu datangnya langsung dari seniman senior sekaligus sastrawan bernama Ajip Rosidi, calon suami Nani Wijaya. Diakuinya, jika tidak ada aral melintang, ia akan mempersunting pemain Tukang Bubur Naik Haji The Series pada bulan April 2017.

Pernikahan tersebut tergolong sudah ujur sebab Ajip yang berusia 79 tahun sedangkan Nani Wijaya yang usianya 72 tahun. Ajip Rosidi merupakan seorang duda, istrinya bernama Fatimah telah meninggal dunia, dua tahun silam. Sedangkan Nani Wijaya seorang janda yang ditinggal suaminya Misbach Yusa Biran, enam tahun lalu.

Baginya, usia bukan suatu penghalang untuk membangun kehidupan baru di usia senja. Dengan menikah, mereka bisa saling menjaga serta melindungi satu sama lain. Prinsip tersebut menjadi modal utama lantaran keduanya juga tak ada proses pacaran atau penjajakan cinta seperti anak muda.

“Ah, mana ada cinta-cintaan. Sudah kakek-kakek dan nenek-nenek. Kami bertemu sebulan lalu, lalu sepakat berumah tangga, “ katanya yang dengan lantang jika menikah hanya untuk mencari teman hidup dipenghujung hidup. “Saya dan dia hanya butuh teman saja.” ujar Ajip.

Nani Wijaya (Twitter @SCTV_)

Meski tak menyebutkan tanggal pernikahannya tapi Ajib mengijinkan kepada seluruh keluarga, sahabat dan kerabat untuk datang di hari pernikahannya nanti. “Tidak ada resepsi resepsian, tidak ada undangan. Yang mau datang silakan saja, tempat akad nikah kami di Cirebon, “ kata Ajip ketika dikonfirmasi rekannya di Yayasan Obor Jakarta.

Seperti diketahui, Ajip Rosidi merupakan guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka) sejak tahun 1981. Sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) serta Tenri Daigaku (1982-1994), ia tetap aktif memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di Indonesia.

Setelah pensiun, pria kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938 langsung menetap di tanah kelahirannya. Namun, ia tetap mengelola lembaga nonprofit seperti yayasan Kebudayaan Rancage dan Pusat Studi Sunda.

Comments