Sabigaju.com – Banyak di antara kita yang rasanya sulit untuk berhenti memikirkan makanan. Mungkin tidak Anda sadari, tetapi terobsesi dengan makanan memang hal yang wajar. Terlebih lagi untuk Anda yang sedang menjalani program diet ketat. Alih-alih bahagia dengan menu makanan sehat yang Anda pilih. Jauh dalam diri Anda, perasaan berat dan terobsesi dengan menu makanan idaman terus menghantui. Inilah permulaan yang bisa memicu eating disorder. Kita mengelompokkan makanan dengan label ‘good’ untuk makanan yang dianggap sehat, sementara makanan lain dikategorikan ‘bad’.

Cara mengatasi overeating dan eating disorder

Selene Milano menuliskan kisahnya dalam mengatasi obsesinya terhadap makanan yang kemudian diunggah oleh Health.com. Pada tulisan tersebut, dia bercerita tentang bagaimana dia mengatasi masalah makan berlebihan. Selene mengandalkan bantuan dari psychotherapist Alexis Conason, di New York City. Setelah menjalani privat dan grup terapi selama kurang lebih dua tahun, Selene mempelajari konsep mindful eating atau makan dengan penuh kesadaran yang bisa diartikan sebagai makanlah apa yang Anda inginkan pada waktu Anda menginginkannya. Terdengar sangat sederhana dan jauh berbeda dari konsep diet.

Dr.Conason juga menjelaskan bahwa masalah overeating itu seringkali terjadi karena kita membatasi untuk mengonsumsi makanan tertentu dan hal itu perlahan merusak mental. Saat tahu Anda hanya diberi kesempatan mengonsumsi es krim dalam waktu ini saja dan harus menghilangkannya dari pikiran, maka yang terjadi mental Anda justru memanfaatkan sebaik-baiknya waktu sekarang untuk makan es krim sebanyak mungkin. Sesaat setelah itu, kesadaran Anda akan kembali dan perasaan bersalah pun muncul. Bersalah karena mengonsumsi makanan tertentu dengan berlebihan dan perasaan gagal untuk menahan diri juga hadir.

Mindful eating adalah gagasan yang memang terlihat begitu sederhana, tetapi ketika Anda menerapkannya sangat mungkin perasaan bebas untuk mengonsumsi beragam makanan tersebut justru akan membawa Anda menjadi lebih bahagia dan berhenti memikirkan makanan tersebut. Dengan sendirinya, tubuh akan mengirimkan sinyal dengan sendirinya agar Anda tidak makan terlalu banyak. Seringkali keinginan mengonsumsi makanan dengan berlebihan itu muncul karena Anda terlalu menahannya. Sibuk menggolong-golongkan ‘good food’ dan ‘bad food’ yang malah meningkatkan obsesi Anda pada suatu makanan.

Selene juga menceritakan bagaimana mindful eating membuatnya yang sempat berpikir ingin menghabiskan beberapa kotak brownies, akhirnya merasa cukup pada kotak pertama saja. Namun, Conason juga mengungkapkan bahwa mindful eating ini perlu waktu. Terutama tentang tubuh yang dengan sendirinya mengirimkan sinyal cukup dan ingin berhenti makan. Butuh waktu untuk Anda memiliki apa yang diinginkan kemudian berhasil menolak untuk mengonsumsinya lagi. Tak heran bila Selene pun membutuhkan waktu terapi hingga dua tahun untuk benar-benar bisa menjalankan mindful eating.

Untuk Anda yang selama ini mengalami permasalahan seputar overeating atau eating disorder lainnya, mindful eating mungkin bisa dicoba sebagai cara untuk mengatasinya. Selamat mencoba! (Sbg/Ern)

Comments