Sabigaju.com – Kehidupan berumah tangga memiliki kompleksitasnya masing-masing. Perubahan peran seseorang dari individu menjadi suami atau istri adalah fase hidup yang gampang-gampang susah. Ditambah jika kamu akan atau sudah menjadi orang tua. Perubahan fase ini kadang tidak lebih mudah jika ditambah faktor lain seperti mertua dan saudara ipar. Keluarga dari pasangan kita, mau tidak mau akan jadi bagian dari hidup kita juga. Beberapa anggota keluarga pasangan, mungkin ada saja yang ikut andil terlalu banyak alias ikut campur. Di sinilah kadang kehidupan kita terasa tidak nyaman, atau bahkan terganggu. Jika kamu merasa mertua kamu mulai mengganggu dan ikut campur dengan hidup barumu, coba baca tips berikut ini:

  1. Bicara baik-baik dari hati ke hati. Tips klise ini akan selalu manjur jika kamu melakukannya dengan cara yang benar. Setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing. Terkadang dua belah pihak, yaitu kamu dan mertuamu, harus menjalani tahap negosiasi dalam menjalankan sudut pandangnya. Ajak pasanganmu berempati dengan perasaan orang tuanya. Lalu jelaskan baik-baik apa yang kamu dan pasanganmu inginkan. Sebagai mertua yang bijak, tentu dia akan mencoba juga memahamimu. Namun tidak jarang mertua yang ngotot atau tetap memaksakan kehendak, disini lah kamu harus sabar. Mungkin butuh waktu untuk sang mertua menerima penjelasanmu.
  2. Abaikan bagian buruknya. Jika peran ikut campur sang mertua adalah berupa pendapat atau kata-kata, kamu selalu punya pilihan untuk mengabaikannya. Tanpa mengurangi rasa hormat, dengarkanlah denga baik semua ucapan dan masukannya. Jangan lupa balas lisan dengan lisan yang baik, tanpa berubah sikap menjadi defensive. Pilihanmu juga tetap bisa kamu jalankan tanpa menyakiti perasaannya. Pada akhirnya jika ia tersinggung dengan pilihanmu (bukan ucapanmu), jelaskan alasanmu dengan baik.
  3. Mediasi pihak ketiga. Ini adalah trik yang lumayan menantang. Melibatkan orang ketiga selain dirimu dan mertua kamu adalah resiko yang patut diambil. Terutama jika mertua adalah orang yang berpikiran keras atau kolot. Pihak ketiga yang kamu pilih juga harus kamu pikirkan baik-baik. Selain pasangan, cari tau siapa lagi orang yang bisa membantumu menjadi penengah antara kalian. Biasanya suami atau istri sang mertua, kakak atau adiknya, atau kakak atau adik pasanganmu. Lewat orang ketiga ini, usahakan tetap hormat pada mertua walau kamu bermaksud menghindari kontak langsung dengannya.
  4. Buka diri lewat cerita baik dan menenangkan sang mertua. Ikut campurnya mertua pada rumah tangga anak adalah hal yang bisa dibilang wajar. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya kesusahan atau bersedih karena suatu hal. Jika kekhawatiran mertua terhadap kalian malah terasa mengganggu, saatnya kamu ‘menutup’ diri dari mertua. Tidak berarti menjauh, namun langkah ini berarti membatasi pengetahuan mereka tentang detail kehidupanmu.
  5. Berceritalah sebanyak mungkin hal baik dan menyenangkan yang kamu rasakan dengan pasanganmu. Semakin banyak cerita seru dan positif yang ia dengar, semakin kecil rasa khawatirnya.
  6. Ajak mertua kamu melakukan kegiatan seru yang kalian sama-sama suka. Hal ini terasa berat jika kamu dan mertua berbeda jauh ketertarikan dan hobinya. Tetaplah berusaha mencari celah untuk bisa beraktivitas seru bersama mertua.
  7. Kalau mau usaha lebih, cobalah belajar hal baru yang ia suka dan senangkan hatinya. Mertua yang senang pada menantunya cenderung percaya dan tidak khawatir berlebih pada mertuanya. Dari sini, selain membuatnya percaya, kamu juga membuat pikirannya teralih dari mencampuri rumah tanggamu. Ekstra poinnya, kamu jadi punya hobi seru baru dan menambah pengalaman atau teman.

Perlu diingat bahwa tidak ada orang tua yang ingin anaknya susah atau sedih. Terkadang langkah atau ucapan mertua memang sulit diterima dengan perasaan dan akal sehat. Ini semua pun adalah faktor ego masing-masing individu dalam menerima pendapat orang lain. Sebagai menantu, tentu peranmu untuk menghormati dan menyayangi mertua seperti orang tua sendiri juga sulit. Namun ini bukan alasan untuk tidak membalas ‘perhatian’ mereka dengan baik juga. Cobalah selalu memahami perasaan mereka, kelak jika kamu punya anak, kamu juga ingin kok dihargai dan dipahami oleh menantumu. Intinya: empati. (Sbg/Novel)

Sumber foto: Media Free
Comments