Bukan Turis
(Grafis: Sabigaju/ Sigit Sulistyo)

Sabigaju.com –  Ada satu penggalan bait puisi karya Widji Thukul yang berbunyi: “Ini tanah airmu. Di sini kita bukan turis.”

Ungkapan tersebut begitu menguggah dan mengajak kita untuk tidak sekedar datang ke pelosok, foto-foto, lalu selesai, tanpa bersentuhan langsung dengan warga ataupun budaya setempat yah mirip turis.

Menjadi traveler dengan pergi ke tempat jauh dan bertemu dengan orang-orang dengan pola pikir, bahasa, dan cara hidup yang jauh berbeda itu juga adalah cara kita belajar mengenal keragaman budaya  negeri ini selain mengenal keindahan alamnya.

Nah, berikut perbedaan antara traveler alias bukan turis dengan turis dilihat dari berbagai sisi.

Turis Menghambur-hamburkan, Traveler Menemukan

Memang tidak ada cara yang salah saat berpergian, tapi pasti ada cara yang lebih baik. Turis cenderung tidak ingin menemukan suatu yang baru atau mengunjungi tempat yang menakutkan. Mereka pergi hanya untuk mengatakan bahwa mereka telah pergi.

Sementara traveler selalu ingin berpetualang bahkan punya mimpi tersesat di kota-kota asing. Mereka melakukan perjalanan untuk mencari dan menemukan berbagai hal yang ada dalam diri mereka sendiri.

Turis Berpikir Kembali ke Rumah,Tempat Asing Justru Rumahnya Traveler

Para traveler menyadari bahwa rumah bukanlah tempat untuk menetap. Traveler rela meninggalkan kamar nyaman di rumah dan makanan yang enak. Mereka lebih memilih untuk tidur dan makan di tempat yang fantastis.

Traveler merasa tempat ternyaman di dunia adalah keluar dari zona nyaman itu sendiri. “Tiap orang adalah guru, tiap tempat adalah sekolah” nampaknya menjadi slogan yang tepat bagi para traveler.

BACA JUGA: Kebiasaan Berhemat Bakal Bikin Kamu Makin Sering Jalan-jalan 

Soal Koper dan Ransel

Turis mendahulukan kenyamanan mereka dalam perjalanan. Tanpa benar-benar melihat tempat yang mereka tuju, turis kerap pindah dari hotel ke hotel lainnya.

Sementara traveler turun ke jalanan, bertemu dengan orang baru dan menemukan kearifan dari penduduk lokal.

Turis Perlu Peta, Traveler Mengikuti Arah Angin Berhembus

Sebagian besar turis telah memetakan dan merencanakan segala sesuatunya bahkan sebelum mereka melakukan perjalanan. Mereka tahu persis kemana mereka ingin pergi dan apa yang harus dilakukan.

Sementara para individu bukan turis alias  traveler lebih memilih ‘tersesat’ daripada harus memamerkan tiket pesawat hanya untuk menyenangkan pengikut mereka di Instagram.

BACA JUGA: Posisi Duduk Ternyaman di Pesawat Biar Enggak Mabuk Udara!

Turis Menjaga Jarak, Traveler Melebur

Saat berada di tempat yang baru, turis cenderung mempertahankan bahasa ibu mereka sendiri. Sementara traveler coba mempelajari bahasa dari komunitas yang mereka kunjungi.

Wisatawan menjaga jarak dengan apa yang mereka temukan, traveler cenderung melebur. Contoh lainnya adalah, seorang traveler akan terus mengagumi makanan yang disajikan orang lokal meski tidak sesuai dengan lidah dan seleranya.

Turis Non-stop Mengambil Gambar, Traveler Mengambil Semuanya

Perjalanan wisata bukan hanya perihal mengambil gambar yang menawan dan mengunggahnya ke jejaring sosial.

Memang tidak ada yang salah dengan itu, namun saat Anda hanya fokus untuk mengambil gambar yang menawan,kamu akan kehilangan kesempatan besar merasakan berbagai hal menarik yang tidak bisa tergambarkan dengan kamera secanggih apapun.

Seorang traveler tahu betul kapan seharusnya mengambil gambar.

BACA JUGA: Negara Tujuan Wisata dengan Budget Minim 

Turis Membaca Buku, Traveler Menulis Bukut

Turis adalah pembaca buku yang baik, mulai dari buku panduan perjalanan, hingga buku yang isinya berbagai tips fashion dalam perjalanan wisata. mereka pun puas dengan uraian dan foto.

Saat turis cenderung membaca, para traveler justru membuat tulisan.Mereka mengubah suatu pengalaman menjadi kisah yang patut untuk diceritakan kembali dalam tulisan.

Negeri ini memiliki berbagai keindahan  alam serta keragaman budaya yang luar biasa dan tidak ada tandingannya di dunia? Masih mau jadi  turis? Mikir. (Sbg/Rig)

Comments