Mental Illness
(Foto: IMDB)

Sabigaju.com – Film Joker bisa dibilang sebagai film antihero yang sempurna lengkap dengan kondisi mental illness yang dialaminya.

Joaquin Phoenix mampu memerankannya dengan nyaris sempurna. Joker yang yang ia mainkan adalah sosok yang mati rasa, menikmati permainan gilanya, gila dan betul-betul sakit mental.

Banyak dari penonton yang bilang bahwa mereka bisa terlarut dalam derita dan tragedi yang dialami Arthur Fleck. Sebetulnya, apa sih mental illness yang sudah dialaminya?

BACA JUGA: Film Joker: Gangguan Mental dan Kriminalitas 

Sedikit Cerita dari Film Joker

Kota Gotham  dalam film tersebut digambarkan dalam situasi yang begitu berat. Ada jurang lebar antara si kaya dan si miskin.

Permasalahan yang dialami masyarakatnya juga membuat mereka menjadi frustasi, tak terkecuali Arthur Fleck.

Todd Phillips menggambarkan satu demi satu tragedi yang dialami di awal film dengan begitu perlahan. Ini yang membuat penonton sepertinya terasa miris.

Dari mulai ia dipecat dari pekerjaannya hingga saat ia dibully ketika menjadi badut. Arthur hidup bersama ibunya.

mental Illness
(Foto: IMDB)

Ia semakin menggila ketika ia menemukan surat ibunya untuk ayah dari Bruce Wayne, si Batman yang akan jadi musuhnya.

Setiap merasa frustasi, Arthur tertawa keras. Ia melihat, lebih tepatnya memaksa dirinya untuk melihat semua kesakitan di hidupnya sebagai komedi. Dari sini ia menjadi sosok yang begitu gila.

BACA JUGA: Tampang Bengis Joaquin Phoenix di Film Joker Akhirnya Muncul 

Menyibak Kondisi Mental Ilness

Sebetulnya, apa sih yang diderita Arthur? Seperti apa mental illness yang dialaminya?

Mengutip dari laman Metro.co.uk, Arthur sudah sangat kesulitan membendung penyakit mentalnya. Ia keluar masuk sesi konseling namun tetap gagal.

Bahkan psikolognya pun mulai kebingungan karena Arthur selalu gagal mengungkap perasaannya secara jujur. Ia bahkan mengabaikan pengobatan.

“The worst part about having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t.”

Mental Illness
(Foto: IMDB)

Dengan betul sekali, Arthur menggambarkan masyarakat dalam memandang seseorang yang menderita mental illness.

Bagian terburuk yang harus dialami penderita adalah mereka harus berpura-pura baik-baik saja karena orang-orang berharap seperti itu.

Dalam laman Psychology Today, seorang terapis menganalisa apa yang dialami Arthur. Ia mengatakan bahwa berbeda dengan bipolar atau skizofernia,

BACA JUGA: Benarkah Pekerja Kreatif Rentan Terkena Gangguan Mental? 

Arthur yang menjelma menjadi Joker ini konsisten, penuh perhitungan, punya tujuan dan tidak secara langsung tampak menderita. Joker yang punya rencana membuat kekacauan nampaknya menikmati rencana itu.

Neel Burton, sang psikolog, menyatakan lebih lanjut bahwa hal yang dialami Joker ini tak lain adalah bentuk kekuatan yang ada dalam diri manusia untuk mendobrak suatu tatanan.

Mental Illness
(Foto: IMDB)

Dalam mitologi Yunani, ada sebuah pesta Dionsysian yang digambarkan dengan tarian dan pesta mabuk sebagai inversi alami dan merupakan salah satu cara masyarakat lepas dari pengekangan.

Pesta ini merupakan pengalihan agar dobrakan tersebut tak berubah menjadi hal yang lebih membahayakan.

Gambaran ini merupakan pelarian orang-orang dari peran sosial mereka yang terbatas dan kembali ke keadaan alami yang lebih otentik. Setidaknya, itu yang digambarkan oleh psikolog modern sekaligus filsuf Sigmund Freud.

BACA JUGA: Menikmati Hidup Itu Perlu Demi Kesehatan Mentalmu

Mental Illness dan Hypersanity

Joker, adalah perwujudan ekstrem dari apa yang dijelaskan di atas. Burton mempertanyakan apakah Joker benar-benar menderita sakit mental hypersanity? Yakni keadaan bebas dari kesadaran yang lebih tinggi.

Orang-orang hipersanity ini tenang, terkendali dan konstruktif. Namun bagaimanapun juga, Joker adalah antihero, seorang antagonis yang membuat kerusakan dan kerugian walau bukan di tangannya langsung.

Mental Illness
(Foto: IMDB)

Begitulah seorang hipersanity. Mereka mampu merangkul bayangan mereka dan memanfaatkanya tanpa didorong, didominasi dan dipaksa olehnya.

Analisa terhadap mental illness yang dialami Joker sepertinya takkan pernah selesai. Namun yang pasti, mental ilness yang muncul akibat kondisi sosial yang ada harus segera mendapat sorotan. Kita sudah tak patut lagi menghakimi mereka secara tidak adil. (Sbg/Dinda)

Comments