Sabigaju.com – Tragedi Mako Brimob memang telah berakhir. Namun hingga kini, peristiwa tersebut masih menyisakan kengerian di kepala banyak penyimak dan luka di hati para korban.

Bagaimana tidak, lima anggota kepolisian meninggal usai kerusuhan yang terjadi pada Rabu malam (9/5) silam. Nampak keji, itu sebabnya banyak masyarakat yang mengutuk para napi sebagai sebab kematian dari lima polisi tersebut.

Bicara sebab musabab, agaknya hal ini masih simpang siur. Diwartakan Tirto, sebab tragedi yang masih saja dibincangkan publik ini nampaknya agak lain jika melihat dari keterangan napi. Seorang terdakwa bernama Wawan Kurniawan alias Abu Afif (ia adalah pimpinan Jamaan Ansharut Daulah Pekanbaru) disebut-sebut menjadi awal mula adanya tragedi Mako Brimob ini.

Kita tak bisa serta merta menyebut Wawan sebagai penyebab kerusuhan. Sebab menurut keterangan yang ada, Wawan merajuk karena makanan yang dititipkan sang istri tertahan di meja polisi. Ini bukan pertama kalinya menurut beberapa napi di sana. Ada banyak hal yang membuat napi merasa haknya dibatasi, mulai dari makanan, besukan dan sebagainya.

Jika kita masih ingin menuding Wawan sebagai penyebabnya, maka lebih pantas kita menudingnya sebagai provokator karena usai merasa kesal, ia memprovokasi sesama napi untuk membuat kericuhan. Ini menurut versi kuasa hukumnya sendiri, Asludin Hatjani dan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Mohamad Iqbal seperti yang dilansir Tirto.

Bukan Cuma soal Makanan

Menurut banyak keterangan napi di sana, kericuhan ini terjadi pasca akumulasi kekesalan mereka terhadap apa yang terjadi selama mereka di tahan. Abu Qutaibah, sosok yang dituakan di rutan tersebut, menyebutkan bahwa ada beberapa kejadian yang membuat napiter di sana begitu geram. Misalnya saja kisah penelanjangan akhwat-nya ketika pemeriksaaan pengunjung yang sekali lagi ini menurut versi terdakwa.

Kemudian, lanjut Abu Qutaibah, di kala para napi meminta penjelasan kepada kantor sipir, seorang anggota Densus 88 meletupkan tembakan yang mengenai dada Abu Afif.

Ketidaknyamanan ini dibenarkan oleh Muhammad Jibriel Abdul Rahman, mantan terpidana kasus tindak pidana terorisme Pemboman Hotel JW Marriot tahun 2009. Ia bercerita bahwa memang banyak ketidaknyamanan di rutan tersebut selama para terdakwa ditahan.

Baca juga: Warga Jakarta Pantau Kegaduhan di Mako Brimob Hingga Keluhan Macet Parah di Pondok Indah

Namun disini, Jibriel menyatakan bahwa hal itu adalah sebuah kewajaran.

“Saat orang divonis masuk ke dalam penjara, dia enggak akan pernah senyaman apa yang dia lakukan. Jadi kalau kamu merasa dizalimi, itu wajar. Kalau enggak mau, ya bebas aja,” demikian ujarannya seperti dikutip Tirto.

Kemudian hal senada juga diungkapkan oleh pengacara deportan ISIS yang tertangkap di perbatasan Suriah Firdaus Ghazali. Ia bercerita bahwa pernah diperintahkan untuk membuka semua pakaian hingga celana dalam. Seorang terpidana bom bali Ali Fauzi juga mengatakan yang tak jauh berbeda.

Dari semua uraian di atas, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto membantah. “Itu hoax, saya berani jamin,” tegasnya.

Keterangan yang Simpang Siur

Ya, keterangan dari pihak kepolisian maupun para napi memang membuat semua kronologi tampak bias. Di hari terjadinya tragedi, polisi, seperti yang diuraikan Tirto, tampak menutupi banyak hal.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebutkan bahwa kerusuhan terjadi usai Magrib. Namun versi lain datang dari Wakapolri Komjen Syafruddin yang menyebutkan bahwa kerusuhan sudah terjadi mulai pukul 5 sore.

Namun, waktu yang diutarakan Syarifuddin dinilai tak masuk akal sebab Wawan kala itu sedang ada di tengan persidangan di Jakarta Barat.

Kemudian soal penyanderaan, polisi tak berusaha memberikan keterangan apapun. Akhirnya sampai Rabu dini hari, Brigjen M Iqbal mengumumkan bahwa beberapa polisi hanya mengalami luka yang tidak serius.

Versi lain datang dari kantor berita ISIS Amaq yang menyebutkan bahwa lima polisi dinyatakan tewas. Para jurnalis yang bertugas dijauhkan dari Mako dan polisi sempat membantah kabar tewasnya lima polisi tersebut.

Barulah pada pukul 16.20, enam orang dinyatakan tewas. Lima di antaranya berasal dari anggota kepolisian dan satu dari seorang teroris bernama Benny Syamsu Tresno.

Masih banyak kabar simpang siur terkait tragedi Mako Brimob. Ini hanya sebagian yang bisa Sabigaju bahas untuk kamu, Sobat Sabi. Namun sudah sebaiknya kita tidak saling tuding demi menghargai para korban dari tragedi ini. (sbg/Dinda)

Comments