Taman Wisata Alam aias TWA Batu Putih yang berada di Kabupaten Bitung, Sulawesi Utara memiliki pesona keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa. (Foto Instagram asritntbr)
Taman Wisata Alam aias TWA Batu Putih yang berada di Kabupaten Bitung, Sulawesi Utara memiliki pesona keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa. (Foto Instagram asritntbr)

Sabaigaju.com – Kekayaan dan keanekaragaman alam Indonesia pastinya memiliki pesona tak diragukan lagi. Salah satu wilayah yang memiliki dua hal itu ada di sebuah kawasan wisata yang berada di Provinsi Sulawesi Utara.

Salah satu keragaman hayati yang kan dibahas Sabigaju kali ini adalah sebuah Taman Wisata  Alam alias TWA Batu Putih yang berada di Kabupaten Bitung, Sulawesi Utara. Taman Wisata ini memiliki pesona keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa.

Jika kamu penyuka wisata adventure, Cagar Alam Batu Angus Tangkoko adalah pilihan tepat untuk kamu sambangi, Sob.

TWA Batu Putih Laboratorium Alam Berhawa Sejuk

TWA Batu Putih bisa dibilang sebagai laboratorium alam, dari pengobatan, pertanian, hingga teknologi ada di sana. Bagaimana tidak, Cagar Alam Tangkoko terbentang seluas 8.745 hektar di ujung timur Pulau Sulawesi tersebut memiliki begitu banyak keragaman hayati.

Ada bermacam flora, seperti, Beringin (Ficus spp), Aras (Duabanga moluccana), Nantu (Palaquium obtusifolium), Edelweis (Anaphalis javanicum), Kantong Semar (Nephentes gynamphora).

View this post on Instagram

Macaca nigra-Yaki TWA Batuputih-Bitung, Sulawesi Utara Yaki, merupakan monyet endemik Sulawesi Utara. Yaki bisa ditemukan di Taman Wisata Alam Batuputih, Bitung, Sulawesi Utara. Populasi Yaki saat ini mulai semakin berkurang oleh perburuan yang sudah terjadi sejak lama, untuk dijadikan bahan makanan oleh sebagian masyarakat di Sulawesi Utara, serta perubahan hutan di habitat alaminya. Ayo bantu merubah pola fikir masyarakat, lewat informasi konservasi tentang Yaki. Karena Alam melindungi manusia dengab caranya yang misterius. Ayo ke TWA Batuputih..!!!😊 ; ; ; #kphk #kphktangkoko #twabatuputih #bksdasulut #bitung #ripopoto #exploreindonesianforest2018 F/4.8 1/60 sec ISO-900 Foc. Leght 116 mm Flash Auto. Max. Aperture 4.5

A post shared by Rivo Fernando Rahasia (@riporahasia) on

TWA Batu Putih juga ‘rumah’ monyet hitam Sulawesi atau Yaki (Macaca Nigra). Ada juga Rusa (Cervus timorensis), Musang Coklat (Macrogalidia Musschenbroeki), Tarsius (Tarsius Spectrum) serta Kus-Kus (Ailurops Ursinus).

Taman wisata ini merupakan rumah bagi tak kurang dari 140 jenis burung. Di sini kamu dapat menjumpai Burung Enggang, Rangkong (Rhyticeros Cassidix), Maleo (Macrocephalon maleo) hingga Elang Laut (Haliaeetus leucogaster).

Gag Cuma Hutan ada Pantainya Juga

Dengan kondisi topografi yang landai, berjalan di Taman Wisata Batuputih di Tangkoko terasa sangat menyenangkan dan tidak terasa berat bagi para wisatawan, yang jarang melintasi hutan sekalipun.

Apalagi dengan kondisi suhu udara antara 20 hingga 25 derajat Celcius, suhu ini masih terasa sejuk bagi para wisatawan yang terbiasa di kawasan tropis.

TWA Batu Putih mempunyai pantai yang indah dengan pasir lembut berwarna hitam mengkilat. Saking lembutnya cukup sulit untuk berlari, karena kaki mudah terperosok di lembutnya pasir.

Tipe gelombang lautnya memudahkan wisatawan untuk melakukan kagiatan berperahu, memancing, dan menikmati keindahan alam bawah laut.

TWA ini juga merupakan pulau peneluran penyu secara alami. Diperkirakan terdapat sekitar 100 ekor penyu di perairan pulau ini.

Sayang, wilayah ini sangat jarang dikunjungi wisatawan lokal Informasi yang dihimpun Sabigaju, 90 persen pengunjung adalah wisatawan dan peneliti dari luar negeri, seperti Swiss, Spanyol, Belanda, Inggris, Jerman, Rusia, dan bahkan Estonia. Pengunjung Indonesia, masih sangat jarang berkunjung ke taman wisata alam ini. (Sbg/Rig)

Comments