Momen Sumpah pemuda
Gedung Kramat Raya 106  adalah tempat berlangsungnya momen Sumpah Pemuda Jakarta pada 28 Oktober 1928. (Foto: Instagram)

Sabigaju.com – Hari ini Sabtu (28/10), bangsa Indonesia memperingati momen Sumpah Pemuda yang dicetuskan 89 tahun lalu tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928.

Momen Sumpah Pemuda tersebut terjadi di sebuah rumah di Jalan Kramat Raya No 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Dalam rapat pada 28 Oktober 1928 itu, ribuan pemuda memenuhi aula Gedung Kramat 106 hingga ke lapangan dan Jalan Kramat Raya.

Nah, kali ini Sabigaju mencoba mengajak kamu untuk membahas tentang gedung bersejarah yang  tempat berlangsungnya momen Sumpah Pemuda yang terletak di kawasan Jakarta Pusat

Gedung Kramat 106 pada awalnya dimiliki oleh Sie Kong Liong yang dibangun pada awal tahun 1900. Gedung Kramat 106 itu berdiri di atas sebidang tanah seluas 1.285 meter persegi dengan satu bangunan utama dan dua paviliun serta memiliki beberapa kamar, aula, dan lapangan.

BACA JUGA: Kicau Warganet Hantarkan Hari Sumpah Pemuda Jadi Trending Topic

Momen Sumpah Pemuda
Bangunan awal Gedung Kramat Raya 106 sebelum menjadi Museum Sumpah pemuda Jakarta (Foto: Instagram)

Dahulu, Gedung Kramat 106 ini kerap digunakan untuk kongkow-kongkow pemuda atau mahasiswa di Jakarta. Banyak pemuda yang berasal dari berbagai suku dan berbagai perguruan tinggi juga tinggal dan berkumpul di gedung ini.

Namun bukan untuk sekedar haha hihi. Di gedung ini para pemuda menuangkan pemikiran mereka untuk berdiskusi, berdebat politik, belajar hingga berlatih kesenian, kala itu.

Kisah Gedung Kramat 106

Sekitar 6 tahun pasca diselenggarakannya Kongres Pemuda ke-2 di Gedung Kramat 106, Gedung ini beberapa kali mengalami alih fungsi tak lagi menjadi pondokan atau indekos bagi mahasiswa.

Gedung itu disewakan kepada seorang keturunan Tiongkok, Pang Tjem Jam yang menggunakan gedung itu sebagai tempat tinggalnya selama kurang lebih tiga tahun.

Pada 1937, gedung itu kemudian disewakan kepada Loh Jing Tjoe untuk kemudian dijadikan sebagai toko bunga hingga 1948.

BACA JUGA:

Pose Merah Putih Merona Selebriti Saat Rayakan Peringatan Sumpah Pemuda 

Sejak 1948, Loh Jing Tjoe mengubah gedung tersebut menjadi sebuah hotel bernama Hersia hingga 1951. Dari situ, kemudian Gedung Kramat 106 disewa Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungan karyawannya.

Barulah pada 1973, gedung itu diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.

Wajah Gedung Kramat 106 Saat Ini

Momen Sumpah Pemuda
Diorama di Museum Sumpah Pemuda Jakarta (Foto: Instagram)

 

Sekarang jadi Keren

Saat ini, Museum yang pernah menjadi tempat berlangsungnya   momen Sumpah Pemuda sudah keren banget. Tempat bersejarah itu kini dilengkapi pendingin ruangan dan layar interaktif.

Di museum itu terdapat beberapa diorama. Diorama-diorama itu menunjukkan bagaimana situasi dan kondisi pemuda pada masa 1920-an.

Di bagian depan, terdapat tiga diorama pemuda yang sedang berdiskusi. Mereka duduk mengelilingi meja bundar. Di atas meja dan kursinya terdapat buku-buku.

Momen Sumpah Pemuda
Salah satu Diorama di Museum Sumpah pemuda Jakarta

Saat masuk ke dalam, di Ruang Kongres Pemuda I, terdapat diorama pemuda yang sedang duduk mendengarkan radio.

Di setiap ruangan, terdapat papan berisikan informasi-informasi seputar organisasi kepemudaan saat itu.

Ada pula satu ruangan bernama Ruang Indonesia Raya yang berisikan informasi soal lagu kebangsaan Indonesia. Di sana juga terdapat biola milik WR Soepratman.

Momen Sumpah Pemuda
Biola yang digunakan WR Supratman memainkan lagu Indonesia Raya saat Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Gedung Kramat Raya 106.

Perbaikan dan penambahan fasilitas terus dilakukan pihaknya. Supaya semakin banyak pengunjung yang datang ke Museum Sumpah Pemuda.

Nah, buat kamu yang ingin berkunjung ke museum ini kamu bisa datang sesuai dengan jam buka yaitu, Selasa – Minggu Pukul 08.00 – 16.00 Wib Museum ini tutup di hari Senin dan hari libur nasional.

Museum ini bisa dengan mudah kamu datangi  sebab begitu banyak angkutan umum maupun online yang melintas di museum ini. (Sbg/Rig)

Comments