PrePex, alat khitan ciptaan Israel yang bisa dilakukan tanpa bedah, tanpa jahitan dan juga rasa sakit. (Foto: timesofisrael.com)

Sabigaju.com – Khitan dulu wajib dilakukan oleh kaum laki-laki sebagai pertanda kedewasaan, khususnya bagi mereka yang beragama muslim.

Namun dewasa ini khitan menjadi penting karena ada alasan medis di baliknya, salah satunya yaitu mengurangi risiko penyakin menular seksual seperti HIV.

BACA JUGA: Fenomena Perawatan dengan Stem Cell, Berbahayakah?

Metode sunat buat kaum laki-laki pun semakin beragam dari yang tradisional sampai pakai teknologi termutakhir. Yang tradisional adalah khitan dengan menggunakan bantuan bon supit (juru khitan), bengkong (sebutan untuk ‘dukun’ khitan dalam budaya masyarakat Betawi), dengan pisau, silet, maupun bambu yang telah ditajamkan.

Namun, proses ini sudah sangat jarang ditemui di daerah perkotaan. Mungkin peminatnya pun semakin berkurang mengingat proses ini lebih sakit dan berisiko, sementara ada opsi lain yang lebih aman.

Salah satu opsi metode khitan yang paling mutakhir yakni dengan PrePex. For your information, PrePex merupakan teknologi yang berasal dari Israel. Dalam prosesnya, tidak ada penggunaan jarum suntik dan minim sekali rasa sakit.

Jangan bayangkan sebuah perangkat besar dengan laser, PrePex hanyalah perangkat sederhana yang berbentuk seperti cincin. Cara penggunaannya pun mudah, cukup ditempelkan pada area kulit kemaluan, kemudian aliran darah di bagian tersebut akan terhambat dan cincin terlepas dengna sendirinya tanpa rasa sakit berlebih.

Setelah beberapa kali diuji, alat buatan Circ MedTech ini akhirnya disepakati WHO sebagai alat khitan yang aman. PrePex pun kini telah digunakan di banyak negara, termasuk di Indonesia.

BACA JUGA: Depresi Menjadi Alasan Terbesar Kasus Bunuh Diri Selebriti

Tahun 2016 lalu, sebanyak 3000 PrePex digunakan untuk program sunat massal di Papua. Berkat alat tersebut, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua mengklaim risiko penularan HIV menurun sebanyak 76% di wilayahnya.

Keberhasilan tersebut membuat WHO tertarik untuk mengunjungi Papua dan melakukan studi banding secara langsung Maret lalu. Nantinya, pelajaran dari keberhasilan PrePex untuk mencegah HIV di Papua akan diterapkan ke negara-negara lainnya. (Sbg/Fit)

Comments