Fashion menjadi salah satu penyumbang polusi lingkungan terbesar kedua setelah minyak. (Foto: Unsplash)

Sabigaju.com – Sebagai bagian dari kebutuhan primer atau utama, sandang atau pakaian adalah hal yang tidak terlepaskan dari keseharian kita sebagai manusia. Imbasnya, industri sandang atau fashion menjadi suatu komoditas bisnis yang menjanjikan dan terus berkembang.

Selain model dan tren yang kerap berubah, rupanya ada beberapa fakta unik di balik pakaian yang kita kenakan. Yuk, kita baca bareng-bareng, Sob!

BACA JUGA: Gaya Fashion Melania Trump Sebagai First Lady

Industri fashion adalah polutan terbesar nomor 2 di dunia setelah minyak

Tanpa disadari, ternyata pembuatan sehelai kain untuk pakaian memakan banyak sumber daya alam dan mempengaruhi ekosistem. Selain itu, pembuatan pakaian, terutama dalam jumlah besar, juga mengakibatkan dampak polusi lingkungan. Baik dari ampas sisa pembuatan bahan, hingga mesin pabrik yang digunakan untuk konveksi, semua prosesnya berpengaruh pada lingkungan. Dari sinilah tren sustainable fashion berawal dan berkembang.

Sustainable fashion adalah tujuan mode berikutnya bagi para pelaku bisnis dan penggemar fashion

Sebagai orang yang peduli dengan gaya berpakaian, banyak juga gerakan atau kampanye yang menggalakkan kelestarian lingkungan. Sejak 2015, mulai banyak merek terkemuka di bidang fashion yang mengangkat sustainable fashion sebagai tema besarnya. Dengan mendalami dan memahami sustainable fashion beberapa merek dan desainer mengajak masyarakat untuk semakin sadar akan pentingnya lingkungan. Beberapa merk yang mengusung kampanye sustainable fashion adalah H&M dan Zara.

Bahan katun

Sebagai bahan paling umum untuk pakaian, ternyata menyumbang kerusakan untuk tanah dan air dari pohonnya. Berasal dari pohon kapas, membuat bahan katun mengakibatkan pemborosan air untuk menyiramnya, dan mencemari tanah karena pestisida yang digunakan. Pestisida yang digunakan pada pohon kapas juga merusak kualitas air di sekitar pepohonan atau perkebunan tempat budidayanya.

BACA JUGA: Amber Scholl Ciptakan Gaun Pesta Cantik dari Kantong Plastik

Selain katun, bahan sintetis juga bukan solusi terbaik sebagai alternatif pengganti katun

Bahan serat buatan seperti nylon, spandex dan acrylic ternyata juga mengakibatkan polusi sistem air. Melepaskan 1,900 mikroserat ke air, pencucian bahan-bahan ini mencemari ekosistem yang ada di air sekitar kita.

Bahan denim dan kulit adalah bahan yang paling berbahaya karena proses pewarnaan yang dilaluinya

Negara-negara yang memproduksi denim dan kulit dalam jumlah besar harus mempertimbangkan aspek keamanan bagi para pekerjanya. Bersentuhan langsung secara intens dengan bahan denim dan kulit beresiko untuk para buruh pabrik. Hal ini disebabkan karena unsur kimia yang akan terekspos dari bahan tersebut dan mengenai kulit para pekerja.

Dari fakta mencengangkan di atas, sebagai pelanggan tentunya tetap ada langkah yang bisa diambil untuk turut menjaga lingkungan. Salah satunya adalah dengan cara mengecek situs pakaian kesukaan kalian, dan lihat apakah mereka memiliki ‘sustainable policy’ terhadap produk mereka.

Kita juga bisa membantu melestarikan lingkungan dengan memilih dengan baik cairan dan cara pencucian yang tepat untuk bahan pakaian kita. Memilih pakaian yang aman bagi lingkungan bisa jadi adalah pilihan yang lebih mahal. Namun demi kebaikan alam dan kelangsungan ekosistem, ada baiknya kita mulai pertimbangkan lagi dana untuk pakaian kita. (sbg/Novel)

Comments