Source : http://www.myanmar-responsiblebusiness.org

Sabigaju.com – Media sosial memang berfungsi sebagai wadah digital untuk memfasilitasi seseorang dalam mengekspresikan gagasannya. Meskipun demikian media sosial dapat menjadi buah simalakama. Ada juga mereka yang harus masuk penjara karena ulah ucapan mereka di media sosial kepada pihak tertentu.

Seorang peneliti dari University of Sussex mengatakan kalau ujaran kebencian dikatakan sebagai bagian dari kriminalitas kebencian. Hal ini dirumuskan sebagai aksi menghasut orang lain untuk membenci pihak tertentu, tidak hanya berdasarkan SARA. Tetapi lebih jauh lagi berdasarkan  disabilitas atau orientasi seksual (Isu LGBT misalnya). Salah satunya adalah video kakak beradik di kuningan yang telah salah dihakimi oleh seorang ibu-ibu.

Motivasi dari hate speech yang mengarah kriminalitas kebencian juga mempunyai virusnya. Walters et.al. menyebutkan virusnya bernama “prasangka buruk” terhadap orang atau kelompok tertentu. Prasangka ini dapat terbentuk dari sosialisasi dan internalisasi dari keluarga, sekolah, teman teman atau masyarakat di sekitar pembuat hate speech.

Selain unsur prasangka ada unsur lain yang Sobat Sabi harus ketahui juga nih.

Sebubah studi yang dilakukan McDevit et. al. (2002) mengindikasikan motivasi lain yang dimiliki para pembuat ujaran kebencian. Perasaan senang atau sensasi adalah sesuatu yang dikejar oleh 66% pelaku yang diteliti McDevit et. al. Menariknya, mereka yang mengejar kesenangan ini bukanlah orang-orang dengan level prasangka tinggi, melainkan orang 0rang yang level prasangkanya rendah atau sedang.

Dengan kata lain, bukan mereka yang membenci satu pihak sampai ke ubun-ubun yang punya motivasi ini, melainkan orang-orang yang sekedar tidak suka atau punya sentimen sesaat yang kerap ditemukan membuat ujaran kebencian.

Ujaran kebencian juga dapat ditinjau dari aspek psikologi. Kendati kitab pegangan para psikolog dunia, DSM-V, tidak mengategorikan ujaran atau kriminalitas kebencian sebagai suatu penyakit kejiwaan, seorang psikiater bernama Dr Alvin F Poussaint dari Harvard University justru memandang sebaliknya.

Dr Alvin F Poussaint menyebutkan bahwa ujaran dan kriminalitas kebencian itu berelasi dengan isu mental. Ia mengambil contoh Adolf Hitler yang mengidap paranoia atau delusional hingga membuat destruksi perang dunia III.

Selain prasangka buruk, isu mental, kebiasaan pikiran yang menghakimi (Judging Habit) tanpa tedeng aling-aling dan tanpa klarifikasi/cross check/tabbayun pada suatu kelompok akan memuluskan misi jelek tersebut. Dapat dipahami pula bahwa hal itu dilakukan sebagai upaya untuk membentuk kohesi sosial.

Source : http://taufiqurokhman.com

Sepintas perilaku hate speech masih dapat ditoleransi oleh sebagian besar masyarakat. Apalagi ada perumpamaan norma sosial  umum yang berlaku di masyarakat yang menyebutkan “sing waras ngalah”. Jadilah kita menjadi seorang masyarakat yang hidup dalam kepatutan hening demi mencapai terminologi “waras” yang dikiranya masih relevan dan diperlukan.

Bagi kamu yang peduli dengan kondisi bangsa ini, bagi kamu yang menginginkan kedamaian di negara ini dan bagi kamu yang merindukan perubahan kalian punya beberapa hal yang musti dipersiapkan.

Strategi Menetralkan Ujaran Kebencian (Hate Speech) di Medsos

source : http://imgur.com

Bagi kamu yang akhirnya ingin berperan menetralkan hate speech pada dasarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Budayakan Riset, Perbandingan  dan Perbanyak Wawasan 

Melakukan berbagai riset atau penelitian via literatur atau riset dari jurnal yang valid sangat diperlukan. Bisa diperdalam dari sisi sejarah, hukum, psikologi, ekonomi, hingga hukum universal sebagai bentuk sanggahan opini lain atas argumen dari pihak pelaku hate speech lakukan.

2. Memilih Kosa Kata (positif dan konstruktif)

Setelah melakukan riset, kamu bisa melakukan pemilihan ulang kata-kata dan kalimat sebelum disampaikan ke medsos.

Reframing merupakan salah satu tools dari Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang jitu untuk merubah perilaku atau emosi negatif dengan merubah sudut pandang. Sesuai namanya, reframing merupakan teknik bingkai ulang suatu peristiwa dengan sudut pandang yang lebih positif.

 

3. Fokus Kepada Substansi bukan Subyek 

Pada saat tahap argumentasi cukup banyak orang yang awalnya ingin menyerang ideologi atau substansi kemudian malah melebar menjadi topik yang menjurus SARA.

Pastikan ketika sedang argumen kamu hanya tetap berdebat mengenai substansi atau esensinya saja. Jangan menyebut fisik, keluarga, suku, agama dan ras dia sebagai sesuatu yang sifatnya melenceng dari argumen yang kamu bangun agar menjadi positif dan konstruktif.

4. Mengetahui Siapa Lawan Bicaramu

Di dalam dunia medsos kamu bisa saja berargumen dengan siapapun dan kapapun pun. Kalau bisa coba cari tahu profil orang tersebut dan periksa mutual friends atau following/followers dia berapa dan seperti apa.

Dari situ kamu akan bisa tahu data mapping dan pemilihan kata-kata yang lebih baik dan bijaksana. Kamu tentu tidak akan memilih diksi yang rumit untuk berdebat dengan orang yang tidak akan mengerti arti bahasamu kan, sob?

5. Bersikap Sabar dan Harus Lebih Empatik kepada Perbedaan

Persinggungan atas perbedaan point of view memang kerapkali terjadi. Intinya, kamu jangan bersikap reaktif dan sekiranya kamu akan lebih baik harus bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas (wider perspective).  berusaha melihat atau merasakan sesuatu dari someone else shoes.

Karena dengan  bisa lebih empatik dengan sudut pandang pelaku hate speech akan membuat kamu lebih mudah untuk menyampaikan pendapat tanpa terlihat menyerang pihak lain.

6. Menasihati hatinya tanpa Menghakimi Balik 

Hampir semua source of conflict berasal dari prasangka dan penghakiman (judgment) dari seseorang. Terhadap hal ini tentu merupakan sesuatu yang wajib diberikan informasi dan nasihat dengan itikad baik berikut dengan contoh kasus agar sekiranya orang tersebut tidak melakukan destruksi yang lebih ekstensif.

Kalau bisa hindari konflik sebisa mungkin yah sob. Tapi kalaupun kamu sudah atau harus terlibat karena menyangkut prinsip kehidupan pastikan kamu bisa mengikuti beberapa tips kami di atas. (Sbg/Ary).

Comments