Raga diperkosa, jiwa terluka, sekarang nyawa yang tiada.

Sabigaju.com – Sungguh nahas nasib gadis berusia 14 tahun asal Paraguay ini. Ia dikabarkan meninggal usai melahirkan anak dari hasil pemerkosaan oleh pria berusia 34 tahun.

Seperti dilansir The Gurdian, bayi mungilnya justru berhasil diselamatkan walau masih harus dibantu dengan alat pernapasan. Sebelumnya, gadis malang yang tak disebutkan namanya ini memang sudah dirawat selama 20 hari sebelum melahirkan karena komplikasi selama masa kehamilan.

Dokter yang menangainya berkata bahwa ibu muda tersebut telah melahirkan secara normal, hanya saja ia mengalami permasalahan pada respiratorinya. Walau tim medis telah berusaha menyelamatkannya lewat tindakan caesar, tetap saja takdir berkata lain. Gadis yang hamil setelah diperkosa ini akhirnya meninggal usai melahirkan.

“Sangat tiba-tiba. Kami berusaha untuk melakukan perawatan intensif. Tapi akhirnya kami tak bisa menyelamatkannya. Tubuhnya belum siap untuk hamil,” kata Herman Martinez, direktur Rumah Sakit Nasional Itaugua kepada media lokal (23/3).

Baca juga: Publik Kecam Anggota Parlemen Malaysia yang Usulkan Pemerkosa Menikahi Korbannya

Paraguay memang negara dengan hukum yang sangat ketat berkenaan dengan aborsi. Pada tahun 2015 silam, seorang gadis berusia 10 tahun bahkan melahirkan seorang anak hasil pemerkosaan oleh ayah tirinya. Walau ia selamat dalam masa persalinannya, namun gadis yang diberi nama samaran Mainumby itu tak mendapat rumah singgah yang layak seperti yang dijanjikan pemerintah setempat.

Paraguay juga merupakan negara yang terkenal dengan tingginya kasus pemerkosaan. Ini terbukti dari data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Paraguay bahwa 889 anak perempuan (berusia 10-14 tahun) telah melahirkan terhitung pada tahun 2015.

“Negara kami memang tak punya pendidikan seks berdasarkan sains, kami hanya mengandalkan agama mayoritas, yakni Katolik, terkait hukum tersebut berdasarkan agama, bukan ilmiah,” kata Rosalia Vega, seorang perwakilan Paraguay di Amnesti Internasional.

Indonesia yang Tak Jauh Berbeda

Menurut data yang dihimpun (20166/Voa Indonesia), 93 persen korban pemerkosaan di Indonesia bahkan lebih memilih berdiam diri. Mereka tak punya daya untuk melaporkan apa yang menimpanya kepada lembaga penegakkan hukum.

Tentu beberapa hal menjadi sebab korban lebih memilih tindakan itu. Mereka takut disalahkan, takut akan akibat diancam, takut dengan stigma sosial yang ada di masyarakat, dan bahkan tak percaya dengan lembaga hukum yang ada di negaranya sendiri.

Survey mengenaskan lain menyebutkan bahwa 58 persen responden mengalami pelecehan seksual secara verbal. Sebanyak 25 persen juga diserang secara fisik oleh pelakunya. (sbg/Dinda)

Comments