Sabigaju.com – Jumat pagi sekitar pukul 07.43 WIB Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik setelah lama tertidur sejak letusan dahsyat pada 2010 lalu. Letusan kali ini berbeda dari letusan Gunung Merapi pada masa sebelumnya. Kali ini letusan tidak dipicu oleh aktivitas magma sehingga letusan ini termasuk dalam erupsi freatik. Berikut ini fakta menarik seputar erupsi Gunung Merapi pada 11 Mei 2018, simak selengkapnya!

Letusan Gunung Merapi kali ini termasuk dalam erupsi freatik

Letusan Gunung Merapi kali ini berbeda dengan letusan pada tahun 2010 silam. Letusan kali ini dipicu oleh akumulasi gas dan uap air yang mendorong material vulkanik sisa erupsi tujuh tahun lalu. Dilansir dari setkab.go.id, Kasbani selaku Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa erupsi freatik ini bisa terjadi kapan saja pada gunung api yang aktif dan tidak berbahaya. Penyebab dari erupsi ini adalah adanya kontak air dengan panas di bawa tanah sehingga erupsi freatik ini didominasi oleh uap air.

Baca juga: Gunung Merapi Meletus Jadi Trending Topic Hari Ini

Meski erupsi freatik ini cukup aman, namun warga sekitar dan juga pendaki di Gunung Merapi dibuat panik. Sesaat erupsi freatik terjadi, daerah di sekitar puncak gunung ini merasakan gempa vulkanik yang disusul dengan letusan yang disertai kepulan asap tebal. Asap tebal yang memuat material vulkanik sisa letusan 2010 itu membumbung setingga 5,5 kilo meter dan terjadi selama 5 menit . Erupsi ini juga disertai peningkatan suhu udara mencapai 80-90 derajat celcius sejak letusan mulai terdeteksi pada pukul 07.40 WIB.

HanikHumaida, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengatakan bahwa asap warna putih yang keluar saat erupsi freatik terjadi terdiri dari uap air dan abu. Dia juga menambahkan erupsi freatik ini berbeda dengan erupsi yang disebabkan oleh aktivitas magma di perut Merapi. Pasalnya, erupsi freatik hampir tak bisa diprediksi sebelumnya.

Ada sekitar 160 pendaki di Pasar Bubrah saat erupsi terjadi

Erupsi gunung Merapi yang terjadi kemarin tidak menunjukkan gejala aktivitas vulkanik yang signifikan sehingga jalur pendakian pun tidak ditutup sebelumnya. Oleh karena itu, saat erupsi terjadi ada sekitar 160 pendaki di Pasar Bubrah yang mendaki melalui jalur selo. Tim SAR dengan cepat tanggap akan keselamatan para pendaki ini. Sekitar enam jam pasca-erupsi terjadi, Pembina SAR Barameru Selo, Samsuri mengatakan bahwa timnya sudah mengevakuasi 132 pendaki. Sementara sisanya sebanyak 38 orang masih dalam proses evakuasi. Untungnya, erupsi freatik ini tidak memicu wedhus gembel atau awan panas. Meskipun ada himbauan untuk menjauh dari radius 3 km dari puncak Merapi, tetapi para pendaki berhasil diselamatkan semua.

Beredar video kepanikan pendaki saat erupsi freatik terjadi

Setelah evakuasi selesai, media sosial terutama Instagram mulai diramaikan oleh postingan dari para pendaki yang berhasil sampai di bawah. Mereka mengunggah suasana saat erupsi freatik tersebut terjadi. Kepanikan tentu tidak terhindarkan, tetapi untungnya hal itu tidak memicu kecelakaan para diri pendaki. Hingga saat ini, erupsi Merapi yang terjadi kemarin tidak menimbulkan korban jiwa dan status keamanannya pun tetap normal.

Terjadi hujan abu vulkanik di beberapa wilayah di Yogyakarta

Bila erupsi tahun 2010 silam membawa abu vulkanik ke Kabupaten Magelang, kali ini angin membawa material abu vulkanik ke beberapa wilayah di Yogyakarta. Daerah Sleman, Bantul, bahkan Kulon Progo tak luput dari hujan abu vulkanik. Kali ini hujan abu vulkanik terjadi relatif singkat dan tidak terlalu tebal. Meski demikian, apotek hingga mini market diserbu oleh orang-orang yang memburu masker. Pengalaman hujan abu yang disebabkan oleh erupsi Merapi tahun 2010 hingga dampak erupsi Gunung Kelud beberapa tahun silam telah melatih warga Yogyakarta untuk lebih tanggap bencana dan berusaha tidak panik menghadapinya.

Nah, itulah beberapa fakta menarik dari erupsi freatik Gunung Merapi yang terjadi pada Jumat, 11 Mei 2018 lalu. Berada di sekitar gunung api memang memaksa kita untuk lebih tanggap terhadap risiko bencana kapan saja. Stay save! (sbg/Erny)

Comments