Waktu Makan
Sebuah penelitian mengungkap bahwa ternyata bukan waktu makan yang penting melainkan apa yang kita makanlah yang harus diperhatikan. (Foto: Pexels)

Sabigaju com – Banyak orang yang memberi patokan waktu alias jadwal makan agar mendapat manfaat hidup sehat. Itulah

Hal itu bisa kamu dengar dari banyaknya saran misalnya waktu makan sebelum tidur sebaiknya ada interval dua jam setelah makan.

Asumsinya, jeda itu memberi kesempatan kadar gula darah jangka panjang alias HbA1 kembali normal alias stabil.

Tapi sebuah penelitian mengungkap bahwa ternyata bukan waktu makan yang penting melainkan apa yang kita makanlah yang harus diutamakan.

Studi Soal Waktu Makan dan Jenis Makanan

Dalam sebuah studi baru dari Universitas Okayama, Jepang juga meragu soal kebutuhan jeda dua jam itu.

Para peneliti melaporkan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa interval dua jam antara makan malam dan waktu tidur dapat mempengaruhi kadar gula darah jangka panjang.

Mereka mengambil kesimpulan itu setelah mengamati 1.573 orang dewasa sehat di Jepang selama tiga tahun. Waktu makan dan pola tidur peserta dipantau, tes darah juga dilakukan secara rutin.

Mayoritas peserta menerapkan jeda dua jam antara makan malam dan tidur. Namun, 16 persen laki-laki dan delapan persen perempuan menerapkan jeda yang lebih singkat.

Adapun hasil analisis tes darah kelompok jeda singkat mengungkap, “Tidak seperti kepercayaan umum, memastikan jeda antara waktu makan dan tidur tidak berpengaruh signifikan pada kadar HbA1c,” tulis peneliti dalam jurnal BMJ Nutrition.

“Porsi sehat, komponen makanan, cukup tidur, menghindari rokok, konsumsi alkohol, dan kelebihan berat badan adalah variabel yang lebih berpengaruh pada proses metabolisme,” jelas peneliti.

Hal ini senada dengan saran ahli diet Alissa Rumsey. Apa yang kamu santap  dan seberapa banyak porsinya jauh lebih penting untuk ukuran pinggang.

“Saya sarankan untuk tidak mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar, karbohidrat berubah menjadi gula dalam darah dan menyebabkan peningkatan insulin,” papar Rumsey.

“Karena akan tidur, Anda tidak menggunakan gula itu untuk energi, jadi cenderung menyimpannya sebagai lemak.” Tambahnya.

Jadi, jangan buru-buru merencanakan makan besar lalu langsung tidur nanti malam. Layaknya menambahkan garam dalam masakan, riset ini sebaiknya disikapi dengan hati-hati.

BACA JUGA:

Beda Negara Beda kebiasaan

Hal penting yang menjadi catatan adalah riset ini dihelat di Jepang. Makanan khas negeri sakura ini kaya akan sayuran dan ukuran porsi kecil.

Hal itu tentunya bakal berbeda dengan pola makan orang sibuk di Jakarta ataupun kota -kota besar lainnya di Indonesia cenderung bertolak belakang.

Pilihannya mencakup makanan yang diproses dan mengandung gula tambahan. Semua itu cenderung berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Selain jenis makanan, porsi juga perlu diperhatikan. Sebaiknya kamu memastikan pola makan hari itu sesuai kebutuhan.

Kalau kamu cenderung melewatkan waktu makan, atau tidak cukup makan di siang hari, ada kemungkinan makan berlebihan di malam hari, atau mengudap makanan cepat saji.

Perlu diingat, asupan kalori tambahan lah yang menyebabkan kenaikan berat badan. Sebab selama tidak makan berlebihan, kamu tidak akan menambah berat badan kapanpun kamu mengonsumsi kalori,. Sbg/Rig)

 

Comments