Makan bersama Keluarga
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Pandemi Covid-19 turut menyebabkan munculnya perubahan tren dalam urusan makan. Jika sebelum pandemi, makan bersama keluarga  adalah momen spesial yang jarang terjadi. Hal itu kini muncul dan menjadi kebiasaan.

Selain itu, di banyak tempat, orang-orang sepertinya mulai mengikuti tren mengonsumsi makanan sehat yang berbasis tumbuhan.

Nah, kali ini sabigaju.com akan membahas dua hal itu untuk kamu semua.

BACA JUGA: Nyetir Mobil Usai Makan Siang, Jangan Deh Gaes! 

Kebiasaan Makan Bersama Hidup Kembali

Sebelum pandemi berlangsung, pemandangan  anak-anak makan malam bersama orangtua mereka, sulit ditemui. Sebab umumnya   ayah dan ibu mereka sama-sama bekerja untuk memenuhi penghasilan keluarga.

Penelitian telah menunjukkan, 30-35 persen keluarga umumnya makan dengan anggota keluarga kurang dari tiga kali seminggu, namun pandemi telah mengubah kebiasaan itu.

Kini, banyak orang  yang memilih makan bersama anggota keluarga,  Bahkan ada banyak orangtua yang kini menyadari besarnya manfaat yang didapat dari makan bersama dengan anggota keluarga.

Penelitian menemukan, makan bersama keluarga membantu anak-anak meningkatkan harga diri dan kesuksesan di sekolah, serta menurunkan risiko depresi.

Makan Bersama Keluarga
(Foto: Freepik.com)

Menurut Family Meals Movement, tingkat obesitas anak lebih rendah dikaitkan dengan anak yang makan bersama keluarga mereka.

Meskipun beberapa orangtua memiliki lebih banyak waktu untuk merencanakan menu makanan karena Covid-19, kita tidak harus selalu memasak makan malam.

Menurut Thalia E. Prum, ahli gizi dan nutrisionis terakreditasi yang berfokus pada perencanaan makan keluarga, “makanan yang dibeli di luar dan dibawa pulang bisa menjadi pilihan baik.”

Prum melanjutkan, anak-anak mendapat manfaat dari makan bersama keluarga sedikitnya tiga kali seminggu. Penting untuk dicatat, makan bersama keluarga tidak harus makan malam.

” Makan bersama keluarga bisa sarapan atau makan siang,” kata Prum. “Meluangkan waktu untuk makan bersama adalah hal paling penting, apakah itu duduk di lantai, di mobil atau di bawah pohon.” urainya

“Semoga orangtua akan menyadari bahwa makan bersama keluarga adalah pengalaman menyenangkan yang mereka ingin pertahankan setelah pandemi berakhir. Mereka hanya perlu menjadikannya prioritas.”  tambah Prum

BACA JUGA: Ramai-ramai Bawa Bekal Makanan di Era New Normal 

Makanan Berbasis Tumbuhan Makin Diminati

Berkurangnya produksi daging di masa pandemi  juga telah memaksa orang untuk mulai beralih pada makanan nabati. Ini bukan hal yang buruk, mengingat makanan nabati sehat bagi tubuh kita dan planet bumi.

Hewan ternak menghasilkan 18 persen gas rumah kaca, lebih banyak dari polusi yang dihasilkan oleh segala jenis transportasi, termasuk mobil dan pesawat. Akan tetapi, kita tidak perlu menjadi seorang vegan untuk memperbaiki kesehatan atau lingkungan.

Makanan Sehat
(Foto: Freepik.com)

BACA JUGA: Terobsesi Pola Makan Sehat, Bisa Bikin Kamu Ortoreksia 

Perawat dan ahli diet terdaftar, Dawn Jackson Blatner mencetuskan Flexitarian Diet bagi mereka yang ingin mengonsumsi lebih banyak sayuran.

Istilah flexitarian, diciptakan oleh Blatner, berasal dari kata “fleksibel” dan “vegetarian.” Blatner mengatakan, ia telah melihat peningkatan minat dalam pola diet yang ia cetuskan di tengah pandemi.

“Orang-orang lebih fokus pada kesehatan mereka sekarang, dan pendekatan pro-tanaman, bukan anti-daging, menarik bagi mereka yang ingin membuat pilihan makanan yang lebih sehat,” kata Blatner.

Berbagai jenis makanan yang mengandung Vitamin D
(Foto: Freepik.com)

Blatner menawarkan beberapa saran tentang bagaimana mengubah pola makan standar menjadi plant-based food:

– Sesuaikan porsi: “Jika kita biasanya menyajikan steak 255 gram, kurangi menjadi 113 gram.”

– Modifikasi menu harian: “Saat menyajikan ayam tumis, coba ganti setengah ayam dengan kacang. Atau untuk taco daging sapi, ganti setengah dari daging sapi dengan lentil (kacang-kacangan dengan bentuk menyerupai kacang hijau).”

– Coba resep vegetarian baru setiap minggu: “Ambil satu resep dari buku masak favorit, pencarian online atau rekomendasi dari teman bisa menjadi referensi. Pada akhir tahun kita akan memiliki 50 resep vegetarian baru.” Tutupnya. (Sbg/Rig)

Comments