Presiden perancis Emmanuel Macron menyaksikan Timnas Perancis Bertanding.
(Sumber: financialexpress.com)

Sabigaju.com – Presiden Perancis Emmanuel Macron tengah menjadi sorotan dunia lantaran  dinilai telah menghina agama Islam.

Hal tersebut dimulai ketika Macron berbicara tentang guru Samuel Paty yang dipenggal usai menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dalam pelajaran kebebasan berbicara awal bulan ini.

Macron bersumpah bahwa Perancis “tidak akan menyerah” soal kartun Nabi dan mengatakan Paty “dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kita”.

Macron bahkan menggambarkan Islam sebagai agama yang sedang dalam krisis dan mengumumkan rencana untuk undang-undang yang lebih keras untuk menangani apa yang disebutnya “separatisme Islam” di Prancis.

Pernyataan Presiden termuda sepanjang sejarah Perancis tersebut dinilai mengabaikan perasaan dan kontribusi umat Islam untuk Perancis.

Pernyataan islamfobia yang dilontarkan  Macron memunculkan kekhawatiran bagi komunitas Muslim Perancis yang jumlahnya terbanyak di Eropa.

Imigran-imigran lintas generasi di Perancis telah bertahun-tahun mengeluhkan diskriminasi dan rasialisme yang mereka hadapi. Komentar pukul rata Macron ditakutkan memperparah kondisi itu.

Penilaian Macron terhadap Islam membuat luka meskipun ia berdalih menyuarakan kebebasan ekspresi. Sudah seharusnya Macron meminta maaf kepada umat muslim dunia atas pernyataannya dan sikapnya yang jadi kontroversi tersebut.

BACA JUGA: Hagia Sophia, Monumen Kemanusiaan dan Kebersamaan 

Jasa Pemain Muslim Hantar Perancis Juara Dunia Sepakbola

Macron seakan lupa ingatan bagaimana Perancis menjadi juara Piala Dunia 1998 dan 2018, runner-up edisi 2006, serta juara Piala Eropa (Euro) 1984 dan 2000 tak lepas dari peran penting para pemain muslim.

Lewat sepak bola Perancis dikenal sebagai negara merdeka yang penuh kebebasan. Lewat sepakbola, para pemain yang memiliki latar belakang kultur dan agama berbeda dapat terpadu dalam satu unit bernama tim

Sosok Zidane tercatat sebagai satu-satunya imigran muslim di skuad 1998. Ini membuktikan persatuan ras di Prancis bisa menghadirkan prestasi.

Zinedine Zidana adalah pemain mulim yang turut mengantarkan Prancis Juara Piala Dunia 1998
(Foto: Instagram.com/zidane)

Zidane berhasil mencetak gol kemenangan Perancis di final Piala Dunia 1998 ini, adalah bukti bahwa dengan prestasi seorang imigran Aljazair yang notabene seorang muslim  bisa mendapatkan sanjungan setinggi langit dari masyarakat Perancis dan bahkan pecinta sepakbola dunia.

Ucapan Macron seakan mengecilkan jasa Zidane yang mengharumkan nama Perancis di Jagat Sepakbola dunia. Terlalu!

BACA JUGA: Askıda Ekmek, Tradisi Mulia dari Negeri Turki

Kontribusi Pemain Muslim  Saat Merebut Piala dunia 2018

Keragaman skuad Perancis berlanjut hingga sukses juara Piala Dunia 2018. Di ajang tersebut Perancis adalah salah satu tim nasional paling multikultur.

Dari komposisi pemainnya berasal dari latar belakang beragam dan bisa dikatakan mewakili spirit Revolusi Perancis: liberté, égalité, fraternité (kebebasan, kesetaraan, persaudaraan).

Tercatat ada 15 pemain di skuat Perancis dalam Piala Dunia 2018 yang lahir dari rahim seorang imigran.

Paul Pogba adalah salahsatu pemain muslim yang mengatarkan Prancis Meraih Juara Dunia di Tahun 2018
(Foto: Instagram.com/paulpogba)

BACA JUGA: Kekunoan vs Kekinian, Wujud Perseteruan Mourinho dengan Paul Pogba

Macron Seharusnya tidak lupa kalau ada 7 pemain imigran  itu yang  memeluk agama islam. Mereka adalah Paul Pogba, Ousmane Dembele, N’Golo Kante, Adil Rami, Djibril Sidibe, Benjamin Mendy, dan Nabil Fekir.

Ketujuh pemain trsebut berlaga habis-habisan karena ajang tersebut digelar bertepatan dengan bulan Puasa dan Hari Raya Lebaran.

Final Piala Dunia 2018 yang ditunggu para pecinta sepak bola di seluruh dunia telah berakhir. Prancis berhasil keluar sebagai juara setelah membekuk Kroasia dengan skor akhir 4-2. (Sbg/Rig)

Comments