Sabigaju.com – Ajip Rosidi calon suami Nani Wijaya, di kalangan sastrawan adalah sosok yang begitu dikenal. Di dunia sastra, banyak karya sastra Ajip yang sudah beredar di masyarakat. Namanya pun dikenal di dunia pendidikan Jepang. Ia pernah menjadi dosen tamu di Osaka Gaikokugo Daikagu, Osaka, Jepang tahun 1981. Ia juga pernah menjadi guru besar luar biasa pada Tenri Daigaku, Nara dan Kyoto Sangyo Daigaku, Kyoto. Padahal, tercatat, ia tidak pernah menamatkan pendidikan SMA-nya.

Hal itu terekam dalam buku otobiografinya yang di beri judul oleh Ajip ”Hidup Tanpa Ijazah, yang Terekam dalam Kenangan” Karena Ajip tak punya ijazah apa pun, ijazah SMA pun tidak, sebab ia keluar sebelum ujian akhir SMA (Taman Madya). Ajip tidak pernah kuliah, bukan sarjana, tentu bukan master, apalagi doktor. Ia hanya seorang otodidaktis (pelaku otodidak) tulen. Tetapi, lihat karya, sepak terjang, dan pengakuannya. Itu semua melebihi pencapaian rata-rata sarjana, master, doktor, dan profesor pada umumnya.

Buku otobiografi Ajip Rosidi (Facebook)

Dalam buku otobiografi yang tebalnya setebal bantal, tepatnya 1364 halaman, Ajip menuliskan.

”Dalam membaca aku dapat melampaui kebanyakan orang yang punya ijazah lebar. Dengan kian luasnya bacaanku, maka tulisanku akan lebih berbobot. Kalau tulisanku berbobot, niscaya orang-orang akan menghargaiku sebagai pengarang. Akhirnya yang penting dalam hidup adalah prestasi yang diakui oleh masyarakat. Berapa banyak orang yang mempunyai ijazah tinggi dan menduduki jabatan penting dalam masyarakat tetapi tidak pernah memperlihatkan prestasi pribadi?” tulis Ajip dalam otobiografinya.

Ajip Rosidi mulai menulis saat usianya 12 tahun. Saat itu tulisannya dimuat di kolom anak-anak Harian Indonesia Raya. Sejak saat itu, ia kemudian aktif menulis di sejumlah media. Seiring berjalannya waktu, Ajip pun aktif di dunia penerbitan. Ia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Mingguan Sunda dan Budaya Jaya. Tulisannya tentang budaya, banyak memikat pecinta karya sastra.

Ratusan judul buku-bukunya pun hingga saat ini masih dijual di pasaran. Ia pun masih aktif menjadi dosen tamu di beberapa universitas. Ajip tercatat pernah menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung tahun 1967. Buku-bukunya pun banyak dijadikan referensi untuk mengulas dunia sastra.

Sebagai sastrawan kawakan, Ajip telah banyak menerima penghargaan. Dedikasinya terhadap dunia sastra pernah diganjar penghargaan Sastra Nasional BMKN untuk karyanya yang berjudul Sebuah Rumah Buat Hari Tua tahun 1957. Tercatat ia juga mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa untuk program studi Budaya Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung.

Ajip Rosidi Saat mendapat gelar Doktor Honori causa dari UNPAD Bandung (Youtube unpad)

Penghargaan luar biasa juga diperolehnya dari pemerintah Jepang lantaran kontribusinya terhadap pendidikan di Jepang yang mempererat hubungan Indonesia-Jepang tahun 1999. Sebagai budayawan, ia juga pernah mendapatkan penghargaan Anugerah Hamengkubuwono IX tahun 2008 atas sumbangan positifnya di bidang sastra dan budaya.

Pada Bulan Mei 2016 lalu, budayawan Ajip Rosidi mengembalikan Habibie Award yang ia terima pada 11 November 2009 atas karya dalam bidang ilmu kebudayaan. Ajip mengembalikan penghargaan itu sebagai bentuk protes atas penghargaan Habibie Award 2015 yang diterima Nina Herlina Lubis. Ajip menganggap Nina tak pantas menerima anugerah itu lantaran dinilai sebagai penjiplak.Ajip mengatakan penghargaan itu lebih pantas diberikan kepada Sapardi Djoko Damono atau Zawawi Imron, yang saat itu juga menjadi nomine. Selain mengembalikan piagam, uang sebesar US$ 25 ribu juga diserahkan ke pihak yayasan.

Kini, setelah sang istri meninggal dunia, Ajip yang dikaruniai enam anak itu akan segera menikah dengan Nani Wijaya, janda sutradara senior Misbach Yusa Biran. Pernikahan tersebut rencananya akan berlangsung di Cirebon, Jawa Barat dalam waktu dekat ini. (Sbg/Nia)

Comments