Presiden Joko Widodo menyerahkan sapi kurban kepada panitia kurban di Masjid Agung Sukabumi. (Foto: Biro Pers Setpres – Facebook Presiden Joko Widodo

Sabigaju.com – Takbir bergema, seluruh umat muslim di dunia tak terkecuali di Indonesia dengan penuh suka cita merayakan Hari Raya Idul Kurban. Ritual Kurban yang berakar kuat dari sejarah Nabi Ibrahim ini dipahami sebagai momen penting untuk berkorban.

Dalam versi ajaran Islam, qurban adalah momen ketika perintah Tuhan turun ke Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail, atau Nabi Ismail.Saat perintah itu jatuh, Ibrahim sontak dilanda kebimbangan yang hebat.

Bagaimana mungkin ia harus menyembelih putra yang sudah lama didambakannya itu. Saat kecintaan tumbuh, saat naluri kebapaan menguat, mengapa tiba-tiba putra yang begitu dicintainya harus disembelihnya?

Pergulatan bathin itu akhirnya sampai pada satu titik keputusan, jika Ibrahim benar-benar menyanggupi apa yang dititahkan sang maha pencipta. Untuk menunjukan kecintaannya pada sang khalik, ia rela memberikan apapun, meski harus melepas putra kesayangannya. (baca: Ibrahim)

Tapi apa yang terjadi, Ismail yang hendak disembelih itu tiba-tiba digantikan tuhan oleh seekor hewan yang umumnya dikenal berjenis Kambing. Lantas apa sesungguhnya pesan di balik kegelisahan Ibrahim, di balik kecintaan Ibrahim, juga di balik rahasia digantikannya Ismail dengan seekor hewan peliharaan (Kambing).

Makna Simbolik Qurban

Ada banyak pendapat tentang kurban, mulai dari yang memahaminya sebagai totalitas kecintaan Ibrahim pada yang ilahi, kritik atas tradisi tersebut, hingga menuding Kurban sebagai bagian dari benih-benih kekerasan dalam agama.

Dari sekian banyak uraian dan pemikiran, ritual Kurban secara simbolik bisa dimaknai sebagai sesuatu yang lahir dari dorongan spiritual yang total, lepas dari segala atribut keduniawian yang nisbi. Iman seorang hamba yang melampaui hasrat keduniaan.

Seorang anggota masyarakat yang akan menyerahkan sapi untuk Kurban (Foto Instagram museumpleret

Bahkan bisa dimengerti jika kesejatian agama sesungguhnya terletak pada kemampuan moral menempatkan kemanusiaan di atas segala-segalanya, serta menekan sejauh mungkin kekerasan terhadap manusia.

Pada momen pergantian Ismail menjadi seekor hewan itu pula, tersirat setiap manusia atau makhluk berakal budi bukanlah objek kurban apalagi kekerasan.

Implisit momen Kurban ini bisa dimaknai sebagai momen yang merefleksikan keteguhan iman pada yang ilahi lepas dari segala ikatan keduniawian disatu sisi, dan disisi lain adalah momen untuk memuliakan manusia sebagai sepenuhnya manusia, di atas hewan juga makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Momen Berbagi dan Melepas Takbir Dalam Hening

Karena itu sebagai ungkapan syukur setiap muslim yang mampu, biasanya ikut berkurban baik hewan berjenis Kambing, Sapi, Kerbau, atau hewan lainnya yang dianjurkan sesuai ajaran Islam.

Daging hewan kurban yang sudah disembelih siap di bagikan kepada anggota masyarakat yang mebutuhkan(Foto: Instagram niaryuniarr)

Kemudian sebagai wujud kasih sayang pada sesamanya, daging-daging hewan yang dipotong tersebut dibagikan kepada mereka membutuhkan.

Pada momen Kurban inilah, semoga kita mampu menepikan gemuruh hasrat,lalu mengalihkannya ke dalam dzikir dan takbir. Lalu bergegas menggali kedalaman maknanya dalam hening pikir dan beningnya hati. (Sbg/Ink/Rig)

Comments