Beranda Lifestyle KULINER Kontroversi Seputar Diet Ular, Berani Coba?

Kontroversi Seputar Diet Ular, Berani Coba?

5 menit baca
0
0
62

Sabigaju.com – Kegiatan pengaturan pola makan alias diet, merupakan salah satu kegiatan yang kini tengah digandrungi oleh anak jaman now untuk menurunkan berat badan.

Banyak yang mencoba melakukan diet dengan mati-matian, mulai dari menjaga kesehatannya atas anjuran dokter, karena menderita penyakit tertentu, bermasalah dengan berat badannya, hingga keinginan untuk memiliki badan langsing.

Nah kali ini, Sabigaju mencoba membahas jenis diet ular yang kini banyak diikuti oleh anak jaman now. Apa saja itu? Yuk, check this out!

BACA JUGA: Manfaat Air Zamzam, Solusi Jitu Tangkal Penyakit Bagi Tubuh

Metode Diet Ular

Baru-baru sebuah jenis diet bernama Snake’s Diet atau diet ular diperkenalkan oleh Cole Robinson, sebagai diet yang mudah dan efektif untuk penurunan berat badan.

Aturan dari diet ular adalah mewajibkan Anda hanya satu kali makan besar dan benar-benar banyak. Lalu, Anda tidak boleh makan lagi sampai 22 jam ke depan.

Pola makan diet ini benar-benar sama seperti gaya makan ular yang hanya makan satu kali dalam porsi luar biasa besar.

Menurut Robinson diet ular memberikan waktu pada tubuh untuk memanfaatkan sisa makanan diubah sebagai sumber energi. Sementara tubuh tetap mendapatkan kalori, makro, dan mikro nutrisi yang dibutuhkan oleh manusia beraktivitas.

Tujuannya, untuk detoksifikasi tubuh, menurunkan tingkat kecanduan tubuh pada gula, dan mengubah sistem pembakaran lemak hanya dengan jus.

Kontroversi Diet Ular

Walaupun bersikukuh bahwa ajaran dietnya sesuai dengan kesehatan, namun, sejumlah pakar sangat menantang jenis diet ini karena bisa menempatkan tubuh pada kondisi benar-benar bahaya.

“Satu gelas hanya mengonsumsi jus diet yang mengandung 4.000 miligram sodium (melebih takaran standar yang dibutuhkan manusia per hari). Ini bisa menimbulkan reaksi negatif dalam tubuh, misalnya tekanan darah tinggi dan gangguan ginjal,” jelas Sarah Pfulugradt, seorang pakar gizi dari St Louis.

Dia mengatakan bahwa puasa intermiten yang mewajibkan tidak makan selama 12 hingga 18 jam memiliki landasan medis yang jelas. Namun, puasa selama 22 jam menjadikan tubuh kekurangan nutrisi, mengakibatkan vertigo, dan susah buang air.

BACA JUGA: Yuk Kenali Lebih Jauh Diet Intermittent dan Pro Kontra-nya

Pakar lain juga mendukung  Pfulugradt  dengan mengatakan bahwa diet ular sangat berbahaya dan sangat tidak merekomendasikannya.

“Aku tidak akan merekomendasikan diet ini kepada siapapun, meski dalam jangka waktu pendek. Sebab, diet ini tidak didukung dengan laporan medis dan bukti klinis yang jelas,” ujar Julie Upton, R.D, seorang pakar gizi dan pendiri Appetite for Health.

Senada dengan Upton, Beth Warren, R.D.N, pendiri Beth Warren Nutrition dan penulis Living a Real Life with Real Food juga menyebut tidak ada bukti bahwa diet ular bisa memberikan manfaat pada tubuh, kecuali rasa lapar.

Kritik tajam juga datang dari seorang nutritionist berlisensi, Sonya Angelone yang mengatakan jika diet ular tersebut hanya akan merusak tubuh manusia.

“Manusia tidak bisa bertahan hidup dengan puasa secara jangka panjang,” pungkas juru bicara dari Academy of Nutrition and Dietetics tersebut. (Sbg/Rig)

Comments
Tampilkan Lebih Banyak Artikel Terkait
Tampilkan Lebih Banyak rigo
Tampilkan Lebih Banyak Dalam KULINER
Komentar ditutup

Lihat juga

Ketupat Menjadi Makanan Khas Saat Lebaran, Begini Asal-Usulnya

Sabigaju.com – Ketupat menjadi makanan khas saat Lebaran yang paling familiar di Ind…