Berbagai program televisi konvensional saat ini dinilai sudah nggak oke.
(Foto: Unsplas.com)

Sabigaju.com – Di saat kegaduhan netizen atas gugatan RCTI terhadap UU Penyiaraan   wajah siaran televisi dunia rupanya  kini  berevelusi dengan menerapkan sistem televisi daring.

Hal ini tak lepas dari kenyataan dimata , proliferasi gadget seperti smartphone dan tablet dengan cepat mengubah kebiasaan menonton TV, khususnya di kalangan generasi muda.

Siaran TV yang sebelumnya hanya dapat dinikmati secara pasif, saat ini dengan dukungan media sosial telah menjadi media interaksi dua arah. Publik bisa menanggapi siaran yang diterimanya, dengan menggunakan gadget.

Lantas, seperti apa masa depan televisi konvensional?

BACA JUGA: RCTI, Sejak Kapan TV jadi Penjaga Moral dan Nasionalisme? 

Sadar Deh Pola Konsumsi Kontens di Masyarakat Sudah Berubah!

Beralihnya masyarakat tehadap tontonan juga dipengaruhi dari sisi konten. Tayangan televisi kini tak lagi menarik bagi generasi muda.

Bisa dibilang consumer behaviour sekarang sudah sangat segmented. Pola konsumsi sekarang makin personal aketimbang umum untuk dinikmati bersama-sama seperti dulu.

banyak orang menonton di media sosial ketimbang di televisi
(Foto: Freepik.com)

Maka sudah tidak relevan lagi bagi sebuah televisisaat ini untuk menayangkan sebuah konten dan langsung otomatis diterima ataupun disukai untuk semua se-Indonesia.

Kini tiba saatnya, industri televisi harus mengubah format bisnisnya agar bisa bertahan di era disrupsi digital. Bukan dengan langkah konyol alias sinis terhadap media sosial yang makin canggih dengan layanan livestreamingnya tapi dengan jalan kreativitas.

BACA JUGA: Petisi Menolak Gugatan RCTI, Kamu Ikut yang Mana Nih? 

Televisi Masa Depan

Pengalaman Netflix bisa dijadikan contoh untuk melihat bagaimana perubahan pemaknaan terhadap televisi – dari mulai model bisnis, isi siaran televisi, sampai perilaku warga menonton televisi – bisa demikian dramatis.

Netflix sendiri awalnya bukan sebuah stasiun TV, Perusahaan yang didirikan tahun 1997, hanya perusahaan penyewaan DVD. Namun demikian Netflix selalu belajar dan terus beradaptasi dengan alam perubahan.

Menikmati sajian seru Netflix di akhir pekan ebih asyik ketimbang menonton siaran televisi
(Foto: Freepik.com)

Tahun 2007, Netflix mulai menjalankan model layanan streaming. Tayangan televisi atau film yang bekerja sama dengannya bisa diakses langsung dari komputer personal. Hal ini pun disambut gembira di kalangan penikmat hiburan.

Inovasi ini mendapat respon positif dari para penonton. Angka pelanggannya mero ket dari 300 ribu pelanggan pada tahun 2000 menjadi 31 juta pelanggan pada tahun 2007.

Hal itupun membuat NBC dan Fox membuat Hulu, laman yang memungkinkan penonton menyaksikan tayangan televisi yang sedang dan sudah berlangsung.

Salah satu yang membuatnya unggul dari televisi konvensional adalah tidak adanya iklan yang mengganggu ketika pemirsa sedang menyaksikan tayangan tertentu.

Pendapatan yang dihasilkan mereka peroleh dari biaya berlangganan penonton. Hal inilah yang menjadikan Netflix juga memunculkan model bisnis baru di industri penyiaran.

BACA JUGA: Bau Disrupsi dan Gugatan RCTI Terhadap UU Penyiaran

Bagaimana dengan TV Konvensional?

Banyak orang masih optimis dan merasa TV akan terus ada.Hanya saja,batas-batas antara TV dan media sosial seperti YouTube dan lainlainya  akan semakin kabur.

Sebab perkembangan teknologi gadget dan alat produksi yang bakal semakin terjangkau dan mudah dipakai untuk membuat konten dan makin mirip dalam hal kualitas dengan konten TV atau film sekalipun.

Konser Live Streaming
(Foto: Freepik.com)

Dan  lagi kehadiranberbagai media sosial -termasuk YouTube- adalah sarana demokratisasi teknologi yang menghilangkan barrier of entry atau penghalang bagi seiap orang yang ingin  memulai kiprah di bidang kreatif.

Kini  kalian tak harus mengandalkan media konvensional untuk mempublikasikan kreasinya. Hadirny fitur  livestreaming  menciptakan peluang untuk konten bergaya baru, dan menyediakan outlet kreativitas  buat banyak orang

Maka peran televisi sudah  tidak relevanlagi sebagai satu-satunya penentu tren satu arah di masyarakat.

Siaran i Livestreaming lebih seru ketimbang siaran televisi
(Foto: Unsplash.com)

Sebab tren budaya di masa depan apakah itu fesyen gaya hidup, makanan sampai tontonan dan lain-lain akan ditentukan oleh masyarakat lewat outlet media sosial. Bukan lagi monopoli segelintir pihak

Nah, televisi konvensional harus segera berbenah dan segera beradaptasi dengan masyarakat. yang semakin cerdas. Buatlah konten-konten berkualitas. agar tidak punah terlindas.

Jangan ngaku-ngaku oke kalau sebenarnya nggak oke. (Sbg/Rig)

Comments