Sabigaju.com – Isu transgender sepertinya tak pernah lepas dari pro kontra. Selalu ada kubu yang setuju dengan wacana tersebut, tetapi tak sedikit juga yang tidak menyetujuinya. Pro kontra transgender ini terjadi hampir di semua negara. Itu artinya, isu transgender ada di seluruh belahan dunia. Namun, sebelum membahas lebih lanjut tentang pro kontra tersebut di belahan dunia lain, kita juga perlu memahami bagaimana isu pro kontra transgender tersebut terjadi di Indonesia.

Pro Kontra Transgender di Indonesia

Mendengar istilah transgender saja bisa langsung memicu pro kontra di kalangan masyarakat Indonesia. Tak bisa dipungkiri kalau hal tersebut masih sering dikonotasikan negatif karena dianggap melanggar kodrat oleh sebagian orang. Tak heran bila baru-baru ini Lucinta Luna, penyanyi dangdut yang diisukan sebagai transgender harus menerima komentar beragam dari warganet.

View this post on Instagram

🌷🌷

A post shared by LUCINTA LUNA (@lucintaluna) on

Meskipun isu transgender yang dituduhkan kepadan pelantu lagu “Lain di Mulut Lain di Hati” itu masih simpang siur, tapi suara masyarakat sudah terbagi menjadi dua kubu. Banyak yang mendukung karena berpindah kelamin dianggap sebagai hak individu atas dirinya. Banyak juga yang menolak karena transgender sama saja dengan menyalahi kodrat hidup.

Sementara itu, Saleh Partaonan Daulay, anggota DPR RI pada tahun 2016 menyebut bahwa gerakan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) berpotensi mengancam keamanan dan ketertiban di masyarakat. Seperti yang dikutip dari Tirto.id yang mengutip dari Antara, Rabu (2/24/2016), Saleh Partaonan Daulay menjelaskan bahwa hal-hal yang bersifat mengganggu seperti LGBT seharusnya tidak boleh disebarluaskan, apalagi dipromosikan, kepada masyarakat banyak.

Lantas, apa pernyataan Saleh Partaonan Dauly senada dengan mayoritas masyarakat di Indonesia? Saiful Mujani Research Center (SMRC) pada tahun 2017 mengeluarkan survei terkait persepsi publik terhadap LGBT selama 2016-2017. Hasil survei menyatakan bahwa 41,1% responden menyatakan LGBT tidak memiliki hak untuk hidup di Indonesia. 57,7% responden menyatakan sebaliknya, bahwa LGBT sama haknya dengan warga Indonesia lainnya. Kesimpulannya, orang mau menerima keberadaan transgender. Transgender dianggap memiliki hak yang sama terhadap warga Indonesia pria maupun wanita.

Namun, ketika berbicara mengenai persepsi transgender, hasil survei berkata lain. Dari 58,3% yang pernah mendengar tentang LGBT, 46,2% menganggap bahwa transgender dianggap sangat mengancam, sedangkan 41,1% menganggap bahwa transgender dianggap mengancam.

Meskipun masyarakat Indonesia sudah mulai mau menerima keberadaan transgender. Namun, persepsi negatif transgender tetap tinggi di pikiran masyarakat. Umumnya, persepi negatif tersebut didasarkan pada nilai-nilai agama yang dianut masyarakat. Mereka sering menggunakan pernyataan-pernyataan bersifat agama untuk menilai bahwa transgender melanggar hukum Tuhan.

Dalam kacamata agama Islam, Kiai Imam Nakhei menjelaskan transgender bukan sebuah dosa jika tidak ada perbuatan yang dilakukan. Selama pergeseran orientasi seksual hanya berada dalam pikiran dan perasaan, transgender tidak bisa disalahkan.

Pro-Kontra Transgender di Dunia

Pakistan menjadi salah satu negara yang mengakui hak-hak transgender sebagai warga negara. Belakangan, Pemerintah Pakistan memperbolehkan warga transgender untuk mendapatkan warisan keluarga tanpa harus memeriksakan diri ke dokter. Pun begitu, kebijakan pemerintah tidak sejalan dengan keadaan masyarakat Pakistan. Sampai sekarang, warga transgender masih mendapat pelakuan diskriminatif yang dilakukan warga Pakistan non transgender. Sejauh pada tahun 2018 ini, warga transgender sudah mendapat serangan sebanyak 22 kali.

Negara adidaya macam Amerika Serikat juga masih menganggap transgender sebagai hal yang negatif. Dilansir di Tirto.id, tahun 2017 Donald Trump menuliskan tweet yang menyatakan bahwa warga transgender AS tidak boleh bergabung ke dalam militer, apapun kapasitasnya. Sontak hal tersebut menimbulkan berbagai macam respon negatif. Para CEO perusahaan terkemuka di AS seperti Twitter, Facebook, dan Apple menganggap bahwa transgender tidak berbeda dengan orang pada umumnya dan memiliki hak juga untuk membela negara.

Selain sikap pro kontra transgender yang terjadi di dua negara tersebut, pada tahun 2016 silam kontes kecantikan untuk para transgender, atau Miss Waria, menjadi perbincangan di ranah internasional. Pasalnya, acara berskala nasional tersebut dilaksanakan secara tertutup. Bahkan, para wartawan baru diberitahu mengenai kontes Miss Waria beberapa jam sebelum acara dimulai.

Kasus-kasus tersebut menjadi tanda bahwa persepsi masyarakat pada transgender didasarkan pada latar kebudayaan masyarakat tersebut. Pemerintah bisa merumuskan kebijakan yang bisa mempengaruhi hak-hak warga transgender sebagai warga negara. Namun, penerimaan masyarakat terhadap transgender belum tentu sejalan dengan pemerintah. Nilai-nilai agama dan budaya yang berlaku di lingkungan setempat tetap menjadi prioritas utama dalam menilai transgender. (sbg/Erny)

Comments