Beranda SABIGAJU+ Ketika Ternyata Kamu Adalah Seorang Selingkuhan

Ketika Ternyata Kamu Adalah Seorang Selingkuhan

6 menit baca
0
0
79

Sabigaju.com – Keinginan mencaci orang ketiga atau seorang selingkuhan yang masuk ke tengah-tengah hubungan kita dengan pasangan memang tak ada habisnya. Sejak pertama mengetahui keberadaannya, semua kepingan hati yang hancur akibat perbuatannya berbalik menjadi senjata yang siap menyakiti dia sebanyak yang kita bisa.

Kata-kata hujatan, makian, dan segala hal yang bersifat merendahkan pasti terlontar. Untuk apa? Untuk membuat kita merasa bahwa kita ini lebih dari dia—mereka; orang-orang yang memilih jadi selingkuhan. Meninggikan diri dengan cara merendahkan orang lain. Lucu, bukan?

Ironinya, korban perselingkuhan umumnya cuma akan melihat dari satu sisi dan menutup mata dari sisi lainnya. Ia menyerahkan semua kesalahan di pundak seorang selingkuhan, sementara pasangannya sendiri disayang-sayang, diperlakukan seperti ia adalah hal terbaik di dunia. Padahal perselingkuhan terjadi atas kesepakatan keduanya. Dia tidak akan menjadi seorang selingkuhan pasanganmu kalau pasanganmu tidak membuka diri untuk berselingkuh. Fakta ini jelas ada, tapi tak banyak orang mau menggubrisnya.

Tiga Sisi, Tiga Alasan Berbeda dan Luka Hatinya Sendiri-sendiri

Tak jarang perselingkuhan berawal dari hal yang sederhana, sesederhana pertemanan yang nyaman dan dibiarkan kebablasan. Bahkan mungkin pihak ketiga ini memulai tanpa tahu kalau si pihak kedua sebenarnya sudah punya pasangan, kemudian merasa sudah terlanjur; lalu mencari pembenaran lagi untuk meneruskan apa yang sudah terjadi.

Dalam perselingkuhan, semua pihak pasti punya pembelaannya sendiri-sendiri. Pihak pertama—yang diselingkuhi—pasti merasa dia punya segala hak atas pasangannya dan hubungannya, lantas ia menjadi yang paling tersakiti oleh keadaan ini. Pihak kedua–yang selingkuh—pasti punya pembenaran mengenai kenapa dia berselingkuh, pembenaran itu bisa jadi kekurangan yang dia temukan dalam hubungan resmi dengan pihak pertama, atau memang sekadar napsu belaka saja. Sementara pihak ketiga—yang jadi selingkuhan—mungkin tidak merasa salah karena ia hadir di tengah-tengah hubungan itu atas sambutan pihak kedua, sehingga bagaimanapun pihak pertama mencacinya ia akan tetap berlindung di balik punggung si pihak kedua.

Ketika semuanya merasa punya pembenaran, apa gunanya mencari yang salah?

Menggunakan prinsip logika untuk penyelesaiannya jauh lebih penting daripada merasa benar sendiri ataupun menyalahkan salah satu pihak saja. Jika kamu merupakan korban yang diselingkuhi dalam hubungan resmi, pakai sisa-sisa energimu untuk berpikir jernih mengenai masa depan dirimu sendiri. Tak apa mempertahankan, asal ketahui konsekuensinya. Kamu akan menjalani hari-hari dengan sisa-sisa pengkhianatan yang tergambar di wajah pasanganmu. Apa kamu sanggup? Apa kamu siap mengesampingkan itu agar hubunganmu tetap harmonis? Sebab, tidak akan ada gunanya juga kamu bertahan kalau yang kamu lakukan hanyalah mengungkit-ungkit kesalahan yang pernah ada.

 Ketika ternyata kamu adalah seorang selingkuhan..

Pikirkan juga dengan logika, keuntungan apa yang akan kamu dapat dari si dia? Apakah dengan merebut dia dari pasangannya, kamu bisa membangun hubungan yang lebih serius dan mampu menjaganya agar dia tidak berpaling, seperti awal mula kebersamaanmu dengannya dulu? Apa dia sesungguh-sungguh itu untuk bersamamu?

Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk memikirkan bagaimana perasaan si pihak pertama, yang pasti tersakiti atau mungkin tersingkirkan dengan keberadaanmu. Sebab jika kamu bisa, kamu pasti akan melakukan itu dan melangkah mundur semenjak tahu bahwa ia ada. Sekarang, setelah kamu berjalan sejauh ini, kamu cukup pastikan kalau langkah yang kamu ambil ini benar-benar dapat membawa hidupmu ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya.

Jika dia tidak bisa menjanjikan masa depan hubungan yang layak diperjuangkan kamu tidak perlu berkorban lebih banyak lagi untuknya, dan kalau dia tidak memperjuangkan kamu, kamu pun tak perlu bersusah payah memperjuangkannya. Jatuh cinta pada seseorang yang sudah punya pasangan, boleh. Dibodohi olehnya, jangan! (Sbg/Fitri)

Comments
Tampilkan Lebih Banyak Artikel Terkait
Tampilkan Lebih Banyak faridsabi
Tampilkan Lebih Banyak Dalam SABIGAJU+
Komentar ditutup

Lihat juga

5 Hal Penting Agar Kembali Semangat Kerja Usai Libur Lebaran

Sabigaju.com – Libur panjang Lebaran bakal segera berakhir. Mayoritas pekerja pun ak…