Psikolog Addi Chandra tengah membimbing sejumlah pasien untuk menlukis untuk dipamerkan dalam acara bertajuk ARTOTEL FOR HOPE (Foto Yovita Sabigaju.com
Psikolog Addi Chandra tengah membimbing sejumlah pasien untuk menlukis untuk dipamerkan dalam acara bertajuk ARTOTEL FOR HOPE (Foto Yovita Sabigaju.com)

Sabigaju.com – Begitu banyak  orang yang menantikan kesempatan kedua untuk berbuat baik dalam kehidupan ini. Namun  tak jarang banyak yang putus asa lantaran kesempatan itu tak pernah di lihatnya.

Dalam waktu dekat Artotel Jakarta menghadirkan pameran lukisan dan kegiatan seni yang berpadu dengan kegiatan sosial bertajuk ARTOTEL FOR HOPE.

Kegiatan tersebut rencanaya akan resmi dibuka pada Selasa, 28 November 2017 mendatang  bertempat di ARTSPACE, ARTOTEL kawasan Thamrin, Jakarta.

Satu keunikan dari acara ini adalah bagaimana seorang yang memiliki masalah kejiwaan seperti Schizophrenia ataupun mental retards ternyata memiliki kemampuan untuk melukis. Sejumlah karya lukis mereka pun bakal dipamerkan dalam acara ARTOTEL FOR HOPE.

Nah belum lama ini Sabigaju secara khusus mewancarai psikolog Addi Chandra, salah seorang yang terlibat dalam ARTOTEL FOR HOPE yang bertugas membimbing sejumlah pasien dengan masalah kejiwaan yang turut serta dalam pameran tersebut.

Seni Sebagai Kesempatan Kedua





Beberapa waktu lalu tim Sabigaju bekunjung ke Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan di kawasan Grogol Jakarta Barat menemui psikolog Addi Chandra bertugas sebagai voluntir di sana.

Tak hanya itu, tim Sabigaju juga melihat dari dekat secara langsung kegiatan sejumlah pasien yang tengah melukis sebagai bahan persiapan persiapan diri untuk kegiatan pameran ARTOTEL FOR HOPE.

Dengan seksama Psikolog Addi Chandra membimbing pasiennya saat melukis (Foto by Yovita Sabigaju.com)

Para peserta nampak asyik dan menikmati kegiatan tersebut. Berbagai tema pun terlihat dari karya peserta, mulai dari tema keluarga hingga superhero, tertuang dalam karya mereka.

Kepada tim Sabigaju, Addi Chandra mengemukakan bahwa keikutsertaan sejumlah pasien dalam kegiatan ARTOTEL FOR HOPE adalah upaya memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan pesan ataupun ekspresi mereka yang selama ini bisa dibilang sangat terbatas.

“Ada value ketika mereka tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan secara verbal ekspresikan kemampuan mereka karena masyarakat melihat mereka sebagai orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Nah, di sini aku mau buat pesan kepada masyarakat luas tentang keberadaan mereka,” papar Addi kepada tim Sabigaju.

Addi menambahkan, karya-karya para pasien itu mengandung pesan mendalam buat semua orang, bahwa setiap individu memiliki kesempatan ke-dua untuk menjadi berarti dalam kehidupan ini.

“Lewat karya itu mereka mengirimkan pesan, ini ada saya dan ada kesempatan kedua untuk masyarakat di luar sana,” tambah Addi Chandra.

Apakah Seni Menyembuhkan Masalah Kejiwaan?

Sejumlah lukisan karya para pasien yang dibimbimg psikolog Addi Chandra. akan dipamerkan dalam ARTOTEL FORHOPE memuat pesan mendalam tentang kesempatan kedua.(Foto by Yovita Sabigaju.com )
Sejumlah lukisan karya para pasien yang dibimbimg psikolog Addi Chandra. akan dipamerkan dalam ARTOTEL FORHOPE memuat pesan mendalam tentang kesempatan kedua.(Foto by Yovita Sabigaju.com )

Tim Sabigaju sempat menanyakan, apakah program ini memiliki terobosan untuk menyembuhkan seseorang yang didera masalah kejiwaan. Addi pun menanggapi, bahwa masalah kesembuhan memiliki banyak faktor. Namun, seni menurutnya membantu seseorang yang memiliki masalah kejiwaan dalam banyak hal.

“Yah peserta pameran disini adalah pasien penderita schizophrenia dan retardasi mental (perkembangan otak yang terbatas). Kegiatan ini sendiri sangat membantu terapi secara psikologis dan motorik dari pasien,” ujar Addi.

Addi melanjutkan, “Nah, terapi psikologi lewat jalur ini, kita mencoba membangun cara untuk mereka beradaptasi secara sosial. Sedang terapi motorik, kegiatan melukis ini membantu membuat tubuh mereka tidak kaku usai mereka minum obat,” papar Addi Chandra.

Addi mengingatkan, selain melatih skill dan bakat melukis dalam diri pasien yang memiliki masalah kejiwaan, kegiatan ini menurutnya sarana yang paling aman bagi mereka untuk berekspresi. (Sbg/Rig)

Comments