Selfitis
Jika kamu terlalu sering melakukan swafoto alias selfie untuk meningkatkan rasa percaya diri, harap waspada jangan-jangan kamu bisa tergolong mengidap penyakit selfitis.(Foto: Pixabay)

Sabigaju.com – Lahirnya teknologi kamera pada ponsel pintar memang menciptakan budaya baru, yakni selfie.

Jika dulunya setiap orang harus menempuh jalan sulit untuk mendapatkan gambar bagus (kamera dengan film roll atau kamera digital dengan harga mahal), kini mereka bisa dengan mudah mendapatkannya karena kamera ponsel jauh lebih compact.

Saking mudahnya, orang-orang bahkan bisa melihat sendiri hasil foto dirinya secara langsung melalui kamera depan.

Di sini lah kebiasaan selfie dimulai. Hasil foto kerap digunakan untuk koleksi pribadi, atau diunggah di media sosial. Kamu salah satu yang sering melakukannya?

It’s okay. Everybody does. Tapi, kalau kamu terlalu sering mengunggah foto selfie ke media sosial, kamu perlu waspada terhadap selfitis.

BACA JUGA: Hasil Selfie Jelek? Ternyata Bukan Salah Wajahmu! 

Membedah Selfitis

Sebuah studi yang dilakukan Janarthanan Balakrishnan of Thiagarajar School of Management, India dan Mark Griffiths from Nottingham Trent University di Inggris menyebutkan bahwa ada beberapa faktor seseorang melakukan banyak selfie.

1. Mencari perhatian

Media sosial adalah media terampuh seseorang untuk mencari perhatian dari audiensnya atau seseorang.

Dengan mengunggah foto selfie ini, mereka mengharapkan bisa mendapat simpati, empati, atau apresiasi dari khalayak.

2. Mood Modification

Banyak juga yang berpendapat bahwa selfie bisa mengubah mood seseorang jadi lebih baik. Misal, senang melihat penampilannya bagus di dalam foto tersebut.

BACA JUGA: Jangan di Tempat Bencana, Ini 8 Etiket Saat Berfoto Selfie 

3. Percaya Diri

Selfitis juga bisa dilihat saat seseorang menganggap tindakan mempublikasikan foto selfie diyakininya bisa meningkatkan kepercayaan diri. Terlebih jika mereka mampu mengedit fotonya jadi lebih baik.

4. Kompetisi sosial

Beberapa orang menganggap bahwa selfie bisa jadi kepuasaan mereka karena mampu berkompetisi sosial secara online.

Jadi, jangan kaget jika ada beberapa teman kamu yang seneng banget pamer sesuatu, entah itu jalan-jalan di luar negeri atau punya barang mahal.

BACA JUGA: 

Gaes, Pamer Kemesraan di Sosmed Ternyata Salah Satu Tanda Ketidakbahagiaan

5. Social acceptance

Karena ingin diterima di satu kalangan tertentu, seseorang perlu membuktikan bahwa diri mereka layak.

Misal, kamu ingin sekali diakui bahwa kamu juga jago main bola. Maka, kamu bisa mengunggah kebiasaan kamu dalam bermain bola.

Nah dari sekian alasan di atas, banyak orang yang akhirnya mau mengunggah foto selfie mereka, sering maupun tidak.

Tingkatan Selfitis

Nah, dikutip Psychology Today, ada beberapa kategori orang mengidap selfitis.

Borderline, seseorang bisa berselfie ria selama tiga kali sehari, tapi tidak pernah mengunggahnya ke sosial media.

Untuk borderline, biasanya mereka berselfie hanya untuk meningkatkan kepercayaan diri dan sebagai mood modification saja.

BACA JUGA: Lima Gaya Foto Pria yang Paling Disukai Kaum Wanita

Akut, taking selfie selama tiga kali sehari dan mengunggahnya ke sosial media. Dalam kategori ini, alasan social acceptance paling banyak dialami.

Kronis, berselfie ria sepanjang hari dan mengunggah setidaknya enam foto per hari. Biasanya grup ini merasa harus berkompetisi sosial, mencari perhatian, dan merasa harus bisa mengekspresikan dirinya sebebas mungkin.

Banyak yang mengungkapkan bahwa selfitis bisa membahayakan diri seseorang karena membawa impact yang kurang baik, terlebih untuk kelompok akut dan kronis.

Mereka akan merasa tidak akan pernah puas terhadap sesuatu yang mereka miliki hingga akhirnya bisa mengalami depresi.

Namun beberapa juga berpendapat bahwa taking selfie as always can be juga merupakan sesuatu yang lumrah mengingat sekarang eranya media sosial. Seseorang bisa mengunggah sesuatu dengan sangat mudah.

Kalau menurut kamu, gimana? (Sbg/Dinda)

Comments