Kebijakan Gage diterapkan kembali
(Foto: Instagram.com/jakfoni)

Sabigaju.com – Kebijakan ganjil genap alias gage yang mengatur kendaraan pribadi di DKI Jakarta mulai diberlakukan Pemprov DKI Jakarta pada Senin (3/8) kemarin.

Pemberlakuan aturan kembali ganjil genap disebut telah melalui perhitungan yang matang dan hasil evaluasi yang selama ini dilakukan.

Alasan diberlakukannya kebijakan Gage ini karena kondisi lalu lintas sekarang ini sudah sangat padat sekali. Pada beberapa ruas jalan seperti di Jakarta Selatan, bahkan angkanya terus tumbuh dan melebihi dari kondisi normal saat sebelum ada pandemi

Apakah gkebijakan Gage lanas membuat lalu-lintas lancar? Pada kenyataannya kemarin kemacetan tetap terjadi saat dan arus kendaraan tetap mengular di jalan utama Ibu Kota pada jam sibuk meski sistem Ganjil Genap kembali diberlakukan.

BACA JUGA: Cara Aman Pakai Kendaraan Pribadi Saat Pandemi COVID-19 

Kerumunan  Pengguna Transportasi Umum?

Diberlakukannnya kembali kebijakan gage di tengah pandemi yang belum juga mereda, memang dilematis.

Membiarkan warga menggunakan kendaraan pribadi berlebihan sebabkan kemacetan. Namun jika dipaksa menggunakan angkutan umum, berpotensi memperluas penyebaran virus.

Penumpang Trasportasi umum
(Foto: Freepik.com)

Bagi golongan masyarakat mampu, kebijakan gage ini bukan masalah. Mereka dapat membeli mobil lagi sesuai nomor polisi gage yang dikehendaki atau beli kendaraan roda dua baru.

Tentunya, tidak semua golongan masyarakat kita mampu membeli mobil lagi dan beli kendaraan roda dua.

Mereka yang tidak mampu inilah yang bakal kembali mengakses  angkutan massal seperti MRT, KRL dan BRT. yang berisiko menimbulkan kerumunan orang.

BACA JUGA: Fesyen Lengan Panjang, Busana Wajib di Era New Normal!

Mewaspadai  Potensi Penularan Virus di Transsportasi Umum

Seberapa besar risiko penularan virus corona di transportasi umum? Perlu diketahui, seperti semua virus pernapasan lainnya, virus corona menyebar melalui transmisi tetesan.

Artinya, ketika seseorang yang terinfeksi sedang batuk atau bersin, mereka mengeluarkan tetesan kecil yang mengandung virus. Virus ini kemudian menyebar sejauh sekitar 6 kaki atau 1,8 meter.

(Foto: pexels.com)

Tetesan-tetesan itu cukup berat sehingga tidak dapat bertahan di udara selama lebih dari beberapa menit.

Tetesan itu akan jatuh ke apa pun yang ada di bawahnya, seperti kursi di transportasi umum, lantai, gagang pintu, dan lainnya.

BACA JUGA: Penularan Corona Lewat Udara, Ini yang Perlu Kamu Lakukan 

Waspada Potensi penularan lewat Udara

Hal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah soal potensi penularan lewat udara berarti partikel virus bisa bertahan di suatu ruangan dan berputar-putar di situ saja.

Karena itu untuk menekan risiko penularan virus corona di ruang tertutup saat di transportasi umum, sirkulasi udara harus diatur dengan baik. guna memungkinkan pengaturan sirkulasi udara dari dalam ke luar kendaraan.

Dengan begitu perputaran udara pun diharapkan bisa lebih baik dan mengurangi konsentrasi virus.

Transportasi Umum
(Foto: Freepik.com)

Para penumpang kini harus lebih taat dan tertib menjaga jarak ketika di transportasi umum. Setiap orang juga wajib memakai masker di transportasi umum.

Banyak pihak menyarankan agar Pemprov DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya segera melakukan evaluasi terkait kebijakan ganjil genap.

Pemerintah melarang berkumpul. Namun, ajaibnya, Pemprov DKI dan Polda Metro Jaya justru memberlakukan kembali kebijakan Gage yangmemiliki  potensi menimbulkan kerumunan yang sekaligus menjadi ancaman terhadap keselamatan jiwa masyarakat. (Sbg/Rig)

Comments