Kebiasaan Memasak
Perkembangan teknologi punya andil besar terhadap merebaknya fenomena pesan makanan jadi via online ketimbang melakukan kebiasaan memasak(Foto: IMDB)

Sabigaju.com – Salah satu fenomena kekinian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat perkotaan di Indonesia adalah pesan makanan jadi via online alias aplikasi pesan antar yang seakan menggantikan kebiasaan memasak makanan sendiri.

Yup, perkembangan teknologi punya andil besar dari fenomena ini. Lewat smartphone, makanan sudah bisa dipesan, bahkan diantarkan langsung ke konsumen.

Seperti diketahui, sejumlah perusahaan aplikasi menawarkan jasa pesan antar makanan. Sebut saja Go-Jek dengan Go-Food atau Grab dengan Grab-Food nya. Sejumlah restoran cepat saji juga berlomba membuat aplikasi pesan antar untuk produk makanannya.

Namun Sebenarnya pola pesan makanan jadi via online punya dampak buruk untuk keuangan dan kesehatan. Kebiasaan Memasak makanan tetaplah hal terbaik untuk tubuh kita.

BACA JUGA: Mengapa Cewek Cinta Banget Sama Cowok yang Hobi Memasak

Pola Pesan Makanan Via Online Bisa Bikin Orang Kegemukan

Dalam sebuah survei baru mengungkapkan orang Australia senang dengan fasilitas pengiriman makanan.

Layanan itu rupanya dapat memengaruhi kesehatan dengan cara yang tidak baik. Satu dari 10 orang memesan makanan secara daring setidaknya sekali sepekan dan lebih dari sepertiga orang akan menambah porsi makan saat memesan secara online.

“Kami tahu hampir separuh warga Australia merasa mereka sering tergesa-gesa dan memiliki sedikit waktu.

BACA JUGA: Belajar Memasak Lewat You Tube Bikin Kita Tambah Mahir?

(Foto: Via uploadarticle.com)

Maka tidak mengherankan jika orang Australia memanfaatkan layanan tersebut untuk sarapan, makan siang, atau makan malam,” kata manajer kampanye LiveLighter, Alison McAleese belum lama ini.

McAleese mengungkapkan dengan mengandalkan membeli makanan di luar rumah atau dikirim melalui layanan daring, seseorang cenderung makan lebih banyak. Layanan pesan antar makanan juga dapat membuat orang memilih makanan yang tidak sehat.

Penelitian ini juga menemukan meskipun menyukai fasilitas pengiriman makanan, dua pertiga dari orang-orang tersebut benar-benar menikmati memasak.

BACA JUGA: Channel Video Tutorial Memasak Makanan Sehat yang Sederhana

Foto; Via swaggermagazine.com)

“Kami tidak mengatakan untuk mengurangi take away. Tetapi ketika menyiapkan makanan kami sendiri, jauh lebih mungkin menambah asupan buah-buahan dan sayuran,” ujar McAleese.

Manajer LiveLighter, Kelly Kennington, mengungkapkan menambahkan lebih banyak buah dan sayuran ke dalam makanan dapat menurunkan risiko diabetes tipe dua, penyakit jantung dan beberapa jenis kanker. Mengonsumsi buah dan sayuran juga membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol.

“Perlu sedikit waktu ekstra untuk membuat rencana dan memasak. Tetapi ketika mempertimbangkan manfaat dan biaya yang lebih murah dalam jangka panjang, itu sepadan dengan usaha,” tutur Kennington.

BACA JUGA: Nih Lima Makanan untuk Memulihkan Stamina 

Tak Sehat Buat Dompet

Kebiasaan pesan makan lewat juga punya dampak buruk untuk keuangan. memanfaatkan food delivery menghabiskan lebih banyak uang daripada kebiasaan memasak makanan sendiri di rumah.

Bahasa halusnya bisa dibilang sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi memudahkan  hidup dan perut saat kelaparan melanda. Namun, tanpa sadar juga memudahkan keluarnya aliran uang dengan deras.

(Foto: giphy.com)

Lihat saja para pemesan makanan via online yang setiap bulannya harus mengisi ulang aplikasi pemesanan transportasi online sebesar Rp1-3 juta rupiah, yang mayoritas digunakan untuk pesan antar makanan.

Mudahnya begini, bila setiap hari kamu melakukan pemesanan makanan senilai 50 ribu, kalikan saja dengan 30 hari dan lihatlah betapa banyak uang dihamburkan untuk jajan makanan via aplikasi.

Yuk kita  tetap jaga kebiasaan masak biar irit dan sehat. (Sbg/Rig)

Comments