Ilustrasi. (Pixabay)
Ilustrasi. (Pixabay)

Sabigaju.com – Citra orang asing di sebagian masyarakat Indonesia kadung dianggap serba positif, seperti terpelajar, disiplin, lebih sejahtera, dan lebih ‘beradab’.

Tak heran jika mereka baik dari Barat maupun Timur Tengah, termasuk negara tenggang Asia, kerap mendapat perlakuan istimewa.

Saking privilisenya orang asing atau sebagian mereka yang dari Barat kerap disapa Bule, tak jarang menjadi idaman para perempuan kekinian di negeri ini. Entah karena alasan cinta yang klise, atau yang blak-blakan jujur sekedar numpang hidup.

Sindrom Inlander Bikin Mereka Merasa Istimewa

Masalah lain adalah sindrom rendah diri yang berlebihan alias inlander kaum pribumi nusantara yang lama terjajah terlanjur menganggap hal-hal berbau asing itu lebih bagus dan serba unggul. Padahal pandangan itu jelas keliru.

Tahukah Anda jika tak semua Bule atau orang asing punya stereotype seperti yang dibayangkan selama ini. Banyak pria bule ataupun orang asing yang datang ke Indonesia hanya untuk menumpang hidup enak di Indonesia.

Mereka membayangkan, hidup di Indonesia bisa mendapat perlakuan yang spesial saat bekerja, pun ketika hidup sehari-hari yang mereka anggap longgar disiplin apalagi berada di tengah masyarakat yang permissif.

Beberapa Aksi  Orang Asing yang Mendapat Sorotan

Nicholas dengan berani menghadang pengendara motor yang menaiki trotoar jalan. (Instagram koalisipejalankaki)
Nicholas dengan berani menghadang pengendara motor yang menaiki trotoar jalan. (Instagram koalisipejalankaki)

Sorotan terhadap kasus bule pengendara motor yang dihadang Nicholas Saputra di Bali adalah cermin betapa para bule juga bisa seenaknya jadi pengendara tak disiplin.

Belum lagi kasus pegulat frustasi yang tahun lalu berulah membunuh polisi di Bali, karena di penghujung karirnya hidupnya harus terlunta-lunta tanpa pekerjaan.

Orang asing lainnya yang ingin serba hidup enak juga bisa kita saksikan di salah satu kawasan Puncak Bogor Jawa Barat. Mereka gemar mempersunting wanita Indonesia dengan kawin kontrak. Mereka umumnya datang dari negeri Timur Tengah, terutama Saudi Arabia yang dunia sudah tahu di negerinya sendiri mereka tak bisa leluasa mengumbar hasratnya, karena hukum yang ketat.

Di negera mereka, di Barat, di Timur Tengah, maupun di Asia, sekelas di Jepang dan Korea misalnya, mereka jelas tak bisa hidup berleha-leha apalagi tanpa pekerjaan, belum lagi cuaca yang ekstrim membuat mereka hidup bak mesin.

Aturan hukum yang ketat, bekerja mekanis hingga segala belenggu aturan membuat mereka ingin hidup longgar laiknya kehidupan di negeri ini. Maka tak heran, jika pelan-pelan kemampuan dan kapasitas mereka pun tertakar.

Tak sedikit dari mereka yang sudah kehabisan uang di Indonesia menjadi gelandangan, menjadi aktor-aktor penipuan seperti terbongkarnya kasus penipuan lewat internet, hingga menjadi kurir narkoba.

Sejumlah kasus perkawinan campuran asing-lokal pun banyak tak bertahan lama. Fenomena bule atau orang asing serba superior pun pelan tapi pasti ciut.

Tak Ada yang Lebih Beradab. Semua Sama!

Ilustrasi. (Pixabay)
Ilustrasi. (Pixabay)

Edward Said yang juga penulis buku Orientalism, mengingatkan bahwa tak ada yang paling beradab, antara Timur atau Barat termasuk Asia. Semua hanyalah kategorisasi yang dibentuk semata.

Bahkan pemikir postmodern, Claude Levi Strauss menegaskan jika istilah beradab atau tidak beradab hanyalah rekayasa konstitutif dari pemikiran barat.

Baginya, setiap masyarakat bahkan yang dianggap paling primitive sekalipun memiliki kebudayaan tersendiri. Mereka lebih jujur dan lugas mengungkapkan ekpresi dari pada masyarakat modern yang penuh rekayasa atau pencitraan yang sudah dikemas industri.

Imej positif sebagai warga negara kelas satu pun akhirnya memudar. Kini saat zaman sudah centang perentang, tak bisa lagi siapa mengklaim paling nomor satu di dunia.

Semua berkompetisi. Menjadi bule atau orang asing jelas bukan jaminan dia paling pinter, disiplin, dan paling beradab. (Sbg/Ink)

Comments