(Grafis: Sabigaju/Sigit Sulistyo

Sabigaju.com – Di Amerika Serikat, angka pria bunuh diri meningkat pada tahun 2017. Angka ini lebih tinggi 3,54 persen lebih tinggi dari wanita. Jumlah pria yang akhirnya menjadi alcoholic dan terjerumus narkoba juga meningkat.

Seiring dengan angka-angka menyedihkan di atas, pria masih saja tak ingin mencari pertolongan soal depresi yang mereka alami. Kenapa?

BACA JUGA: Hal-hal yang Bisa Membuat Pria Tidak Lagi Mencintai Pasangannya 

Stigma yang Dihadapi Pria

Menurut dokter konsultan bernama Raymond Hobbs, angka depresi yang tinggi pada pria disebabkan oleh stigma jantan yang mereka hadapi.

“Banyak dari mereka yang tak mengakui. Mereka menganggap depresi adalah sebuah kelemahan,” urai Hobbs seperti dikutip Health Line.

Hobbs menambahkan bahwa pemikiran tersebut sebetulnya sangat kuno. Saat ini, depresi adalah salah satu isu kesehatan mental yang cukup serius. Bahkan Hobbs menilai bahwa penyakit mental sama saja dengan penyakit fisik seperti diabetes dan yang lainnya yang mesti diobati.

Namun sayang, masih banyak orang yang menganggap bahwa depresi adalah sesuatu yang sangat privasi dan pribadi. Sehingga terkadang, mereka merasa bahwa orang-orang tak perlu tahu.

“Terlebih pria. Mereka menghadapi tekanan dan stigma yang kuat,” lanjut Hobbs yang kemudian menerangkan bahwa itu sebabnya pria kesulitan (lebih tepatnya tak ingin) mencari bantuan ketika merasa depresi.

BACA JUGA: Terjebak Jerat Toxic Relationship, Nih Tips Mengakhirinya 

Beban Toxic Masculinity

Sebetulnya, menurut Hobbs, ini berawal dari cara pria dibesarkan oleh orangtuanya. Kerapkali pria diajarkan untuk jadi pendiam, kuat, tabah, tak boleh menangis dan sedih.

Hobbs mencontohkan beberapa film John Wayne yang seringkali dijadikan role model. Namun sayangnya, model ini jadi model yang disfungsional dalam banyak hal.

Itu sebabnya, model maskulinitas semacam ini membuat pria dewasa enggan melaporkan, atau sekedar bercerita soal depresinya. Akhirnya, mereka justru melarikan diri ke arah yang salah seperti narkoba atau bahkan bunuh diri.

“Jika pria tidak mau mencari bantuan, maka itu akan berkontribusi banyak pada gejala depresi. Akhirnya narkoba jadi pelarian yang seringkali terjadi,” ujar Zach Levin dari Hazelden Betty Ford Foundation.

BACA JUGA: Apa saja Hal Non Seksual yang Bisa Bikin Pasanganmu Tergila-Gila?

Saatnya Mengakhiri Stigma

Banyak pria yang masih terpengaruh oleh gagasan keliru soal ketangguhan tersebut. Dengan menunjukan sebuah “kelemahan”, mereka khawatir adanya kekerasan fisik atau kehilangan pengaruhnya terhadap orang lain.

” Tak ada orang kebal terhadap stres. Jika mereka mau meminta bantuan dan bercerita, inu justru akan menumbuhkan rasa empati, persahabatan, dan dukungan dari semua yang pernah merasakan hal sama,” kata Levin.

Sedangkan Hobbs mengatakan bahwa persoalan ini harus ada dalam sistem pendidikan. “Pada akhirnya kita membutuhkan orang yang sadar bahwa ini adalah masalah medis.”

BACA JUGA: Gaes, Sederet Rahasia yang Kerap Disembunyikan Pasanganmu

Kapan Kamu Harus Meminta Bantuan?

Jangan malu meminta bantuan. Kamu harus segera meminta bantuan, atau sekadar bercerita pada orang terdekat, ketika kamu merasa:

● Perubahan mood
● Perbedaan perbedaan kinerja
● Perubahan berat badan
● Sedih dan putus asa
● Gejala fisik seperti sakit kepala dan sakit perut

So, mau mulai perangi stigma, toxic masculinity dan mencintai diri sendiri? (Sbg/Dinda)

Comments