Jika kamu menganggap perang Palestina-Israel adalah hasil konflik agama, maka kamu salah! Temukan fakta lain soal perang Palestina-Israel di artikel ini.

Sabigaju.com – Pada hari Senin, 14 Mei 2018 lalu, Amerika Serikat memindahkan kedutaan besarnya untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerussalem. Pemindahan ini dilakukan di tengah aksi unjuk rasa mematikan di Jalur Gaza yang memakan korban jiwa hingga 58 orang tewas dan lebih dari 1000 orang lainnya luka-luka. Ironinya, anak. Pemindahan ini merupakan realisasi dari janji Trump untuk memindahkan kedutaan besar ke Yerussalem dan pemindahan dilakukan tepat sehari sebelum ulang tahun ke-70 pendirian Israel.

Perdebatan terjadi di antara para pakar, pembuat kebijakan, dan warga biasa tentang perang Palestina-Israel ini. Sayangnya, perdebatan tersebut seringkali berada pada topik yang sama dan kurang jelas. Setidaknya, berikut ini tujuh topik percakapan yang paling sering menjadi perdebatan mereka:

Orang-Orang Israel dan Palestina telah Berjuang Selamanya

Salah satu komentar yang paling sering dikemukakan berulang kali adalah Israel dan Palestina telah berjuang selamanya. Penyataan ini terus diulang dan sayangnya tidak akurat dengan konflik yang ada. Yang benar, orang-orang Arab dan Yahudi belum berjuang selamanya. Pasalnya konflik bermula pada akhir abad ke-19 atau tepatnya awal periode wajib perang pasca World War British 1. Selain secara historis tidak akurat, klaim seperti itu membingkai isu tersebut sebagai sesuatu yang tak dapat dipecahkan dan memperkuat gagasan-gagasan lama tentang orang-orang Arab yang dikenal barbar dan lekat dengan image keras.

“Masyarakat Palestina menginginkan perdamaian. Namun keadilan selalu menjadi prasyarat dari perdamaian.”

Konflik Israel dan Palestina Didasari Konflik Agama

Palestina bukan monolit agama sehingga menyebut dasar konflik kedua negara adalah agama rasanya kurang akurat. Ditilik dari sisi sejarah, sebelum pemukiman Zionis di akhir kekaisaran Ottoman, keragaman agama adalah fitur Palestina. Walau memang betul, mayorita Muslim, tetapi komunitas Palestina selalu terdiri dari Muslim, Kristen, dan Yahudi. Bahkan setelah imigrasi Yahudi dimulai, para pemukim Zionis umumnya sekuler, seperti juga penduduk asli Palestina.

Namun, hal ini bukan hanya masalah akurasi sejarah saja. Dengan membingkai konflik agama, kita didorong untuk melihatnya sebagai pertikaian internecine antara dua pihak yang sama-sama bersungguh-sungguh yang memiliki teks-teks agama yang bersaing atau penafsiran tulisan suci. Sederhananya, ini bukan tentang agama. Ini tentang pencurian tanah, pengusiran dan pembersihan etnis oleh pemukim asing ke tanah adat.

Baca juga: Makin Panas! Donald Trump Jawab Ancaman Kim Jong Un

Masalah yang Rumit

Setelah pertikaian terjadi lebih dari satu abad, pasti ada banyak hal yang mempengaruhi klaim kebenaran, kebijakan, dan solusi. Hal tersebut membuat situasi lebih rumit dan fakta menjadi kabur. Namun, seringnya klaim “rumit” dikemukakan, akhirnya menjadi berfungsi sebagai alasan untuk menghindari realitas yang sederhana. Tentang fakta perjuangan 70 tahun dari orang-orang yang telah diusir, dibunuh, dirampok, dipenjarakan, dan diduduki. Meskipun ada kebutuhan untuk melibatkan poin-poin penting dari konflik, kita tidak pernah dapat melupakan titik dasar dan sangat tidak rumit ini.

Suasana konflik di Palestina. (Foto: Youtube)
Palestina Terus Menolak Kesepakatan yang Adil

Argumen ini salah mengandaikan bahwa setiap kesepakatan yang mencakup pembagian tanah yang dicuri dengan korban pencurian tersebut bisa adil. Tetapi bahkan dalam hal yang relatif dan pragmatis, ini tidak benar. Pikirkan kembali perjanjian partisi U.N. yang sangat tidak proporsional pada tahun 1947 yang mengalokasikan 55 persen lahan kepada populasi Yahudi meskipun hanya ada 33 persen populasi dan memiliki 7 persen dari tanah. Atau lihatlah perundingan 2008 antara Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas dan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert yang tidak mengizinkan wilayah Palestina yang berdekatan atau resolusi nyata untuk perjuangan atas Yerusalem. Orang-orang Palestina tidak pernah ditawari suatu kesepakatan yang memungkinkan negara yang benar-benar independen, subur, cukup dan aman.

Palestina Tidak Menginginkan Perdamaian

Argumen ini memainkan narasi Orientalis tentang orang-orang Arab sebagai yang identik dengan kekerasan, tidak masuk akal, pra-modern dan tidak layak demokrasi atau diplomasi Barat. Argumen itu juga menghukum warga Palestina karena menolak pendudukan dan penindasan brutal mereka. Orang yang diduduki memiliki hak hukum dan moral untuk membela diri. Meminta mereka untuk tidak menolak adalah meminta mereka untuk mati dengan tenang. Palestina menginginkan perdamaian. Tetapi keadilan selalu merupakan prasyarat perdamaian.

Beberapa poin di atas memang sering menjadi topik perbincangan hingga perdebatan soal konflik Palestina dan Israel. Sayangnya, hal-hal yang menjadi topik utama tersebut tidak serta merta benar dan justru mitos yang berbeda dari realita sesungguhnya. (Sbg/Erny)

Comments