Ilustrasi (Pixabay)
Ilustrasi (Pixabay)

Sabigaju.com – Berbagai fungsi televisi sebagai media hiburan, kontrol sosial, pendidikan, dan penyampai informasi.  Namun belum lama ini sejumlah acara hiburan malah diwarnai sebuah kontroversi hingga menimbulkan ketegangan.

Seperti yang belum lama ini terjadi, saat sejumlah tayangan di televisi di beberapa negara menimbulkan kontroversi hingga menjadi bahan pembicaraan banyak orang di negeri ini.

Beberapa tayangan yang ditampilkan oleh televisi itu dianggap melecehkan keyakinan penganut agama ataupun kepercayaan tertentu.

Opera Sabun yang Dianggap Menista Agama

Drama Korea 'Man Whoe Dies to Live' yang menuai kontroversi dan mendapat kecaman banyak orang.(Foto: MBC)
Drama Korea ‘Man Whoe Dies to Live’ yang menuai kontroversi dan mendapat kecaman banyak orang.(Foto: MBC)

Belum lama ini serial opera sabun buatan Korea yang bertajuk “Man Whoe Dies to Live” yang terus menerus menuai kontroversi lantaran serial drama yang tayang di saluran televisi Korea MBC itu dianggap telah melecehkan agama Islam.

Bermaksud ingin menggambarkan kehidupan mewah Said Fahd Ali atau Jang Dal Koo (Choi Min Soo), adegan-adegan dalam drama tersebut malah menampilkan sesuatu yang tak pantas karena berhubungan dengan hijab, tempat ibadah dan Alquran.

Sontak badai protes pun menerjang dan menghujat serial tersebut dan membuat pihak MBC melayangkan permintaan maaf melalui akun Twitternya dalam tiga bahasa yakni Arab, Korea dan Inggris.

Dilansir dari laman Soompi, MBC mengatakan jika dalam membuat drama “Man Whoe Dies to Live” hanya ingin membuat cerita fiksi tanpa menyinggung agama atau budaya apapun.

Namun, permintaan maaf itu dinilai tak serius oleh para warganet. Terbukti dengan beredarnya kembali pemeran utama Choi Min Soo yang masuk ke dalam masjid tanpa melepaskan sepatu.

Padahal masjid dikenal sebagai bangunan suci untuk beribadah umat muslim. Di adegan lain, ada beberapa wanita yang seperti memakai hijab namun tetap menggunakan bikini.

Protes pun kembali merebak bahkan para penggemar Korea pun banyak yang meminta produksi dan penayangan drama ini ditutup.

Kecaman datang tidak hanya dari penggemar serial Korea, salah satu media besar asal Negeri Ginseng tersebut, enews24 yang menyebut pihak produksi “Man Whoe Dies to Live” seakan melakukan kebodohan yang terus berulang.

Iklan Kontrovesi yang Dianggap Melecehkan Agama

Tampilan Ganesha dalam Iklan yang tayang di Australia (Foto Youtube Lamb The Meat More People Can Eat You Never Lamb Alone)

Tayangan kontroversi lain juga terjadi di Negeri Kangguru, Australia, saat sebuah iklan dengan tajuk ‘Lamb. The Meat More People Can Eat You Never Lamb Alone’ dari pengiklan Meat Livestock Australia (MLA) tayang di televisi dengan menggambarkan sosok dewa Hindu, Ganesha tengah menyantap daging.

Tayangan iklan tersebut membuat warga keturunan India di Australia mengungkapkan kemarahan mereka. Iklan itu dianggap menghina, lantaran sosok Ganesha adalah salah satu dewa Hinduisme yang paling penting. Selain itu sang dewa dikenal sebagai sosok vegetarian.

Kecaman dan Protes Warga Hindu di Australia

Jurubicara dari Indian Society of Western Australia Nitin Vashisht menyebut iklan tersebut sama sekali tidak sensitif.

Vashisht mengatakan MLA perlu memahami betapa sensitifnya isu tersebut bagi ratusan ribu umat Hindu yang sebagian besar merupakan vegetarian.

“Saya kira mereka tidak menyadari betapa berharganya Dewa Ganesha dalam komunitas Hindu dan oleh sebagian besar masyarakat India,” kata Vanishit.

“Dia itu vegetarian yang tidak minum minuman keras. Dia merupakan Dewa bagi kami dan sebagian besar masyarakat India,” tambahnya.

Warga lainnya pun mengecam keras dan menyatakan kemarahan terhadap iklan tersebut lewat media sosial.

Namun pihak MLA melalui Manajer pemasarannya, Andrew Howie menjelaskan bahwa kampanye iklan daging domba bertujuan mempromosikan persatuan dan inklusivitas.

“Kampanye tersebut menampilkan Tuhan, Nabi dan Dewa dari berbagai agama bersama dengan atheisme, dengan tujuan untuk menjadi seinklusif mungkin.”

“Untuk mencapai hal ini kami melakukan penelitian dan konsultasi yang ekstensif,” kata Howie.

Pihak televisi ke depan perlu mempertimbangkan tayangan televisi yang layak agar tidak menimbulkan kontroversi serta menguras emosi terhadap sebuah keyakinan yang dianut suatu umat tertentu. (Sbg/Rig)

 

Comments