Ilustrasi julid
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Perillaku julid di media sosial nampaknya menjadi momok yang sulit dihentikan  di media sosial saat ini.

Julid’ dilakukan atas rasa  iri dan dengki biasanya dilakukan dengan menulis komentar, status, atau pendapat di media sosial yang menyudutkan orang tertentu.

Kamu sudah tahu soal isu HAM Papua yang diangkat oleh negara kecil Vanuatu di forum terbuka PBB beberapa waktu lalu?

Permasalahan ini nampaknya sedang ramai sekali ya. Awalnya, Vanuatu dengan lantang mengangkat isu HAM di Papua yang menurutnya belum kelar hingga sekarang.

Dengan bangga diri, diplomat muda Indonesia bernama Silvany Pasaribu pun membalas Vanuatu dengan tegas.

“Anda bukanlah representasi dari orang Papua, dan berhentilah berfantasi untuk menjadi salah satunya,” kata Silvany Austin Pasaribu.

Peristiwa ini kemudian mendapat reaksi dari warga Indonesia, terlebih warga net alias netizen. Mereka mengapresiasi tindakan Silvany yang menentang tuduhan Vanuatu soal isu HAM di Papua.

Tapi reaksi netizen kemudian menjadi lebih brutal ketika mereka justru malah julid dan menyerang sebuah sosial media pariwisata milik Vanuatu. Terlebih, ada beberapa komentar julid  bernada rasisme yang disampaikan netizen Indonesia.

Hal ini memicu pernyataan dari pihak Vanuatu. Manajer Komunikasi Vanuatu Tourism Office, Nick Howlett, mengatakan pada ABC Radio bahwa mereka telah menjadi target perilaku rasis yang terkoordinasi.

BACA JUGA: Social Media Distancing Juga Perlu Kamu Lakukan

Bukan kali pertama netizen Indonesia jadi sorotan

Terlepas dari apakah Vanuatu memang terlalu mengintervensi atau apakah Indonesia yang memang denial soal isu HAM di Papua (karena keduanya selalu jadi argument netizen), nampaknya netizen Indonesia punya sifat yang terlalu reaktif terhadap isu apapun yang sedang beredar. Karena faktanya, ini bukan pertama kali netizen Indonesia bereaksi dan menjadi sorotan.

Belum lama ini , kita juga dihebohkan oleh reaksi julid netizen Indonesia yang menyerang seorang aktris Korea Selatan bernama Han Soo he. Ini soal perannya sebagai perebut suami orang di salah satu drama berjudul, A World of Married Couple.

Sebetulnya, yang berbahaya dari fenomena ini adalah adanya sifat yang terlalu reaktif sehingga cenderung menjadi kebiasaan “menghakimi”.

(Foto: nstagram.com/xeesoxee)

Banyak netizen berkomentar tanpa mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja ini bisa berdampak pada citra masyarakat kita di mata bangsa lain.

Terlebih, Indonesia menjadi negara paling cerewet di dunia ke lima menurut UNESCO. Indonesia juga masih di peringkat ke 11 sebagai netizen yang beradab.

Tapi di samping itu, kita juga punya minat baca yang sangat rendah, yakni 0,001! Artinya, kita ini sangat minim terhadap informasi. Sedih, ya?

Jika terus begini, kita bukan saja akan punya kebiasaan menghakimi, tapi juga selalu jadi sasaran empuk berita palsu alias hoaks. Duh!

BACA JUGA: Jangan Jadi Korban Doomscrolling di Masa Pandemi!

Membangun Kebiasaan Cari Tahu ketimbang Julid

Sudah saatnya kita membangun budaya “mencari tahu dulu” sebelum menilai apakah ini salah atau apakah ini benar. Ataupun asal julid.

Harus bisa disepakati, bahwa hal tersebut sebetulnya penting untuk kita yang hidup di era abu-abu informasi seperti sekarang ini.

Texting
(Foto: Unsplash)

Dengan kebiasaan tersebut, kita takkan terburu-buru untuk menilai sesuatu, apalagi melontarkan sebuah pernyataan jahat.

Tak hanya itu, kita juga bisa tahu bahwa ternyata seringkali sesuatu itu tak bisa dikatakan benar atau justru sebaliknya.

BACA JUGA: Begini Seharusnya Seorang Cowok Gentleman Bermedia Sosial 

Bagaimana maksudnya?

Kalau kamu tahu apa itu relativisme, kamu akan tahu bahwa ada mindset di mana satu hal tak bisa mentah-mentah dikategorikan menjadi salah atau menjadi benar.

Dengan sudut pandang relative, kita akan menilai bahwa satu hal bisa jadi salah dalam salah satu perspektif, bisa juga sebaliknya dalam perspektif lain.

Texting Anxiety
(Foto: Unsplash)

Kita juga bisa paham bahwa mengapa ini bisa dinilai seperti ini dan mengapa bisa dinilai seperti itu. Kita bisa memandang segala hal secara holistik tanpa perlu penghakiman yang terlalu terburu-buru.

Jadi, tinggal pilih nih, kamu mau jadi netizen nyantai tapi cerdas atau jadi netizen julid yang lalai plus beringas? (sbg/Dinda)

Comments