Pegunungan Jayawijaya
(Sumber: Wikimedia comons)

Sabigaju.com – Gunung Jayawijaya merupakan pegunungan yang berdiri kokoh di tanah Papua, Indonesia dengan ketinggian mencapai 4.884 mdpl.

Buat kamu para pendaki sejati, pastinya mencapai gunung tertinggi di Indonesia ini menjadi sebuah impian dan cita-cita. Pasalnya Jayawijaya dengan puncak tertingginya bernama Cartenz menjadi salah satu dari 7 puncak tertinggi dunia yang disebut sebagai Seven Summit.

Buat kamu yang punya impian dan cita-cita menjajal Jayawijaya, gak ada salahnya kamu bekali diri dengan beberapa informasi penting soal gunung yang memiliki es abadi ini, apa saja? berikut ini ulasannya.

BACA JUGA: Mau Nyoba Mendaki Gunung? Nih Rekomendasi Buat Pemula

1. Trek yang Sulit

Berada di ketinggian yang ekstrim tentu saja gunung Jayawijaya tidak mudah untuk ditaklukan. Menurut para pendaki yang berhasil sampai ke summit, trek yang dilalui di gunung ini sangat berbatu, curam dan terjal.

Aktivitas mendaki di Jayawijaya bisa dikategorikan sebagai aktivitas ekstrim ditambah dengan cuaca yang tidak menentu kadang angin berhembus sangat kencang hingga membuat pendaki mudah kelelahan.

Untuk itu bukan hanya kemampuan fisik saya yang dibutuhkan untuk menaklukan Jayawijaya, kamu harus memiliki kemampuan survive untuk hidup, navigasi dan perbekalan yang memadai.

2. Cuaca yang Ekstrim

Berada di ketinggian lebih dari 4.000 mdpl bukan perkara mudah, jangankan untuk melangkahkan kaki, untuk kamu menarik satu tarikan nafas saja membutuhkan tenaga yang ekstra karena tipisnya kadar oksigen di lingkungan seperti ini.

Bukan hanya itu, kamu juga bakal diuji dengan cuaca super ekstrim seperti hujan angin, hujan salju dan hujan es.

BACA JUGA: Pegunungan Dolomites, Surga Dunia Para Fotograper 

3. Puncak

Pegunungan Jayawijaya memiliki beberapa puncak pendakian dengan ketinggian yang berbeda-beda. Puncak tertinggi adalah puncak Jaya (Cartenz) dengan ketinggian 4.884 mdpl.

Selain itu ada juga Puncak Mandala dengan ketinggian 4.760 mdpl, Puncak Trikora 4.730 mdpl, Puncak Idenbreg 4.673 mdpl, Puncak Yamin 4.535 mdpl, dan puncak Carstenz Timur 4.400 mdpl.

4. Salju dan Es Abadi

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, rasanya mustahil membenarkan adanya salju di negara tropis seperti Indonesia. Bahkan seorang petualang asal Belanda bernama Jan Cartenz pada 1623 mengaku melihat salju di pegunungan di Indonesia kemudian ia dianggap pembohong bahkan gila.

Sampai tahun 1962 Heinrich Harrer petualang dari Austria membuktikannya, ia bersama beberapa orang dalam timnya membuktikan akan keajaiban di puncak Jayawijaya yang memang ada tumpukan salju di sana.

Selain itu, Jayawijaya juga memiliki tumpukan salju yang telah terbentuk selama ratusan tahun yang disebut Gletser. Gletser ini disebut sebagai salju abadi dan sangat bermanfaat bagi penduduk sekitar lereng gunung untuk mendapatkan sumber air tawar.

BACA JUGA: Pilihan Menikmati Vitamin Sea di Gunung Kidul, Yogyakarta 

5. Es Terakhir

Jika 5 sampai 10 tahun yang lalu kamu pernah mendaki puncak Jayawijaya mungkin kamu masih bisa melihat hamparan salju yang amat luas sob, tapi sayangnya salju di iklim tropis lebih rentan terkena dampak pemanasan global alhasil salju di Jayawijaya pun mulai menipis bahkan diprediksi akan menghilang pada tahun 2022.

Setiap tahunnya salju-salju di puncak pegunungan Jayawijaya mengalami penipisan bahkan puncak Mandala sudah tidak memiliki salju sejak tahun 2003, dan puncak-puncak lainnya pun sudah tidak memiliki salju lagi kecuali puncak Jaya yang saat ini masih memiliki lapisan salju yang terus menipis.

Sedih yah sob, karena pemanasan global yang gak lain ulah kita-kita ini para manusia membuat alam jadi lemah dan rusak. Salju di puncak Jayawijaya yang merupakan keajaiban alam pun harus kalah dengan ulah manusia yang seenaknya menciptakan pemanasan global.

BACA JUGA: Situ Gunung, Indahnya Bikin Hati dan Pikiran Fresh

6. Mahal

Bukan hanya butuh stamina yang kuat dan naluri bertahan hidup yang besar untuk menaklukan Jayawijaya, kamu juga butuh uang yang nggak sedikit untuk mendakinya.

Paling tidak kamu harus menyiapkan uang puluhan juta rupiah untuk melakukan perjalanan mendaki di area ekstrim ini.

Soalnya pendakian ke Jayawijaya tidak dilakukan seperti pendakian gunung biasa, dia akan menggunakan bantuan dari helikopter, bahkan helikopter tidak menunggu para pendaki sambil kembali lagi ke titik awal pengantaran

Gimana, cukup ekstrim kan gaes, tapi tentunya puncak Jayawijaya menjadi tantangan tersendiri buat para pecinta alam sejati dan para pemburu summit di Indonesia bahkan di dunia.

Jayawijaya hanya dikhususkan untuk para pendaki kelas atas yang memiliki stamina kuat, kemampuan bertahan hidup di cuaca dan trek yang ekstrim dan memiliki banyak uang tentunya. (Sbg/Rig)

Comments