Fast Fashion
Tanpa disadari oleh banyak orang, tren fast fashion rupanya punya dampak buruk terhadap lingkungan hidup. (Foto: Unsplash)

Sabigaju.com – Saat ini, perubahan tren fashion yang serba cepat memang menuntut sektor industri tersebut untuk mengimbanginya. Itulah sebabnya fast fashion menjadi fenomena yang dianggap mampu mengimbangi peningkatan permintaan di bidang fashion.

Lantaran itulah, siklus fashion kini tak lagi berpatokan pada dua atau empat pakem musim. Kini, setiap saat kita bisa mendapat busana mode terbaru keluaran merek papan tengah yang selalu mengadakan sale berkala. Istilahnya adalah fast fashion.

Yup, fast fashion tersebut digunakan untuk menyebut brand fashion yang membanderol produknya dengan harga terjangkau tanpa mengabaikan tren yang sedang digandrungi.

Sehingga masyarakat kalangan menengah ke bawah bisa tetap bergaya sesuai tren fashion terkini dengan harga relatif murah.

BACA JUGA:

 

Harga Produknya Murah Bikin Kamu Jadi Boros Belanja?

Bisnis fast fashion menyiapkan bahan baku dalam jumlah yang sangat banyak. Sehingga biaya bahan bakunya jelas lebih murah dibandingkan produk yang dijual secara eksklusif.

Biasanya, brand-brand tersebut mempercayakan proses produksi pada pabrik outsourcing yang berada di negara berkembang. Biaya tenaga kerja di negara berkembang jelas jauh lebih murah dibandingkan biaya di negara maju.

Fast Fashion
Foto: Otter.org.au

Proses produksi yang dilakukan secara massal dan sangat cepat akan menghasilkan produk-produk paling up to date. Masyarakat pun semakin tergugah untuk memiliki koleksi pakaian yang harganya terbilang ramah di kantong.

Tren fast fashion berupa produk murah menginginkan kamu untuk berbelanja minimal sekali dalam sebulan. Selain memanfaatkan momen istimewa berupa hari raya, sektor bisnis tersebut juga kerap menciptakan tema tersendiri. Misalnya, tema denim season, outfit musim hujan, dan outfit untuk liburan.

Saat kamu mengira bahwa harga-harga produk tersebut terjangkau, maka kamu cenderung ingin berbelanja lebih banyak lagi.

Meskipun sebenarnya belum tentu kamu membutuhkan barang yang kamu beli. Hasilnya, pakaianmu pun menumpuk di lemari bahkan ada yang sama sekali tidak pernah digunakan.

Fast Fashion dan Kerusakan Lingkungan

Namun demikian, industri fast fashion ini berdampak sangat buruk bagi lingkungan. Sebab, tekanan untuk mengurangi biaya dan waktu untuk mendapatkan produk dari mulai desain sampai ke gerai di mal berarti mengabaikan perspektif lingkungan.

Kritik terhadap fast fashion meliputi dampak negatif terhadap lingkungan, polusi air, penggunaan bahan kimia beracun dan peningkatan kadar limbah tekstil.

Warna-warna cerah, cetakan dan finishing kain adalah fitur menarik dari mode busana, namun banyak di antaranya menggunakan bahan kimia beracun. Pencelupan tekstil adalah pencemar air bersih terbesar kedua di dunia, setelah pertanian.

Fast Fashion
(Foto: gatornews.org)

Banyak dari penggunaan bahan ini dilarang atau diatur secara ketat di berbagai negara karena beracun, bio-akumulatif, mengganggu hormon dan karsinogenik. Poliester adalah kain yang paling populer digunakan untuk busana.

Namun, ketika busana poliester dicuci di mesin cuci, mereka menumpahkan mikrofiber yang menambah peningkatan kadar plastik di lautan. Mikrofiber ini hanya sebentar dan dengan mudah bisa melewati pabrik pengolahan air limbah dan air limbah ke saluran air. Namun karena tidak terurai sempurna, bahan ini menjadi ancaman serius bagi biota air.

Nah, yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar pakaian kita tetap digunakan lebih lama—dan mengurangi barang baru. Setuju? (Sbg/Rig)

Comments