Di masa Pandemi ini sebaaiknya kita jangan menjadi korban doomscrolling yang bisa membuat depresi
(Sumber: hopeondemand.com)

Sabigaju.com – Di masa pandemi ini begitu banyak orang yang sebelum tidur malah membuka ponsel untuk mencari informasi yang berkaitan dengan bagaimana menjaga kesehatan fisik dan mental guna membantu mereka dalam menghindari penularan virus Covid-19.

Namun sayangnya sebagian besar dari apa yang disajikan di media sosial berisi berita atau informasi negatif seputar pandemi, pertengkaran, hingga gosip-gosip, dan itu membuat kita depresi.

Hal itu secara tak langsung membuat kita menjadi korban aktivitas doomscrolling tupun doomsurfing alias kecenderungan untuk melihat atau menelusuri berita negatif, meskipun berita itu menyedihkan, mengecewakan, atau membuat kita depresi.

BACA JUGA: Social Media Distancing Juga Perlu Kamu Lakukan 

Doomscrolling Sebagai Bentuk Kecanduan Digital

Paul L. Hokemeyer, spesialis kecanduan dan penulis “Fragile Power: Why Having Everything Is Never Enough” meyakini doomscrolling mencakup tanda-tanda yang sama seperti kecanduan digital.

“Tampak tidak masuk akal bahwa orang akan mengonsumsi berita negatif di media untuk membantu mereka mengatasi perasaan kelebihan atas semua hal negatif di dunia. Namun itu adalah sifat dari gangguan kecanduan,” ujar Hokemeyer.

Ia melanjutkan, doomscrolling adalah gangguan yang membuat ketagihan. Itu terjadi bukan berdasarkan logika, tetapi melalui dorongan primer yang berasal dari bagian paling primitif dari otak kita yang dikenal sebagai sistem limbik.

Sistem limbik adalah sekelompok struktur yang saling berkaitan di dalam otak yang bertanggung jawab atas respon perilaku dan emosional seseorang.

BACA JUGA: Begini Seharusnya Seorang Cowok Gentleman Bermedia Sosial 

Pikirkan Dampaknya

Direktur Klinik di Pusat Perawatan dan Studi Kecemasan di Perlman School of Medicine, Universitas Pennsylvania, Thea Gallagher mengatakan, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka melakukan ini.

Menurutnya, banyak orang berasumsi bahwa mendapat jawaban atas kabar buruk itu membuat mereka merasa lebih baik.

Padahal, hal itu justru berdampak lebih buruk. “Orang-orang tertarik pada doomscrolling karena mereka merasa mampu mengendalikan semua berita buruk itu. Tapi doomscrolling tidak menciptakan kendali dan hanya membuatmu sengsara.” kata dia.

Dampak keseluruhan dari doomscrolling terhadap orang-orang dapat bervarias. Namun, biasanya hal itu dapat membuat Anda merasa sangat cemas, depresi, dan terisolasi.

Untuk menghentikan kebiasaan doomscrolling, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, kata Gallagher, penting untuk menyadari bahwa Anda benar-benar melakukannya.

“Kebiasaan Anda untuk menjelajahi berita Covid-19 online segera setelah Anda bangun? Doomscrolling. Keinginan Anda untuk tetap up to date pada setiap informasi tentang bagaimana sekolah di seluruh negeri sedang berjuang untuk membuka kembali? Juga doomscrolling,” jelas dia.

BACA JUGA: Dukungan Sosial yang Dibutuhkan selama Pandemi 

Alasan Mengapa Kita Melakukannya

Ada alasan tersendiri mengapa kita lebih gemar melakukan doomscrolling.

“Kita semua terprogram untuk melihat yang negatif dan tertarik pada hal negatif, meski itu dapat membahayakan kita secara fisik,” kata psikiater di Ohio State Univercity Wexner Medical Center, Kenneth Yeager.

Melihat hal positif Kedua, latih diri Anda untuk melihat hal-hal positif. Namun langkah ini tidak datang secara alami dan harus dilatih.

Yeagar merokomendasikan untuk mencari setidaknya tiga hal positif sehari, bahkan jika itu hanya berpikir bahwa kopi Anda sangat enak pagi ini. “Seiring waktu, pikiran positif ini menjadi lebih bermakna,” tutup Yeager

Nah semoga informasi bisa membuka wawasan kita bahwa kebiasaaan mengakses berita negatif alias doomscrolling patut untuk kita hentikan  demi menjaga kesehatan mental kita di masa pandemi ini.  (Sbg/Rig)

Comments