Malam Takbiran
Salah satu kegiatan yang banyak dilakukan orang saat malam takbiran adalah dengan melakukan pawai berkeliling sambil mengumandangkan takbir.(Sumber Foto: Geunta .com)

Sabigaju.com – Entah siapa yang memulai tradisi menyalakan petasan di malam takbiran, namun begitulah fenomena yang terjadi hingga kini.

Malam Takbiran yang seharusnya diisi dengan kumandang takbir seakan tergantinkan dengan suara ledakan petasan yang mendominasi di malam lebaran.

Hal itu diperparah dengan penjualan segala jenis petasan yang seakan legal diperjualbelikan.

BACA JUGA: Tradisi Unik Sambut Lebaran Asli Indonesia yang Instagramable 

Dampak Petasan Terhadap Kesehatan

Dalam sebuah studi baru-baru ini, para peneliti dari Indian Institute of Technology Guwahati dan Indian Institute of Technology Delhi telah menganalisis polusi udara dan kebisingan yang berlebihan yang disebabkan oleh petasan selama perayaan Diwali dan potensi dampaknya terhadap kesehatan.

Dalam hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Health and Pollution ditemukan fakta bahwa wanita hamil, anak-anak, dan mereka yang menderita asma kronis adalah yang paling rentan terhadap paparan zat-zat partikulat akibat ledakan petasan.

BACA JUGA: 

Dampaknya dapat berpengaruh pada timbulnya masalah tenggorokan, hidung, mata, juga dapat menyebabkan sakit kepala dan mengurangi ketajaman mental.

Kondisi akan lebih parah pada orang dengan gangguan jantung, pernapasan, atau sistem saraf. Kembang api juga dapat menyebabkan masalah pernapasan seperti bronkitis kronis atau alergi, asma bronkial, sinusitis, rinitis, radang paru-paru, dan radang tenggorokan.

Selain itu kebisingan akibat ledakan petasan juga memiliki efek berbahaya. Tingkat kebisingan standar aman untuk lingkungan umumnya berada di sekitar angka 60 desibel (dB) pada siang hari dan 50 dB pada malam hari.

Sedangkan keluaran suara ledakan kembang api bisa melebihi 140 dB. Kebisingan pada 85 desibel ke atas dapat merusak pendengaran. Peningkatan tingkat suara dapat menyebabkan kegelisahan, gangguan pendengaran sementara atau permanen, tekanan darah tinggi, dan gangguan tidur.

Melihat dampak tadi sudah waktunya pembuat, penjual pembeli ataupun mereka yang dengan sengaja main petasan harus dipenjarakan?

BACA JUGA: Libur Lebaran, Cobain Serunya 5 Tradisi Unik di Daerah Ini 

Akhiri Ketidaktegasan

Padahal aturan larangan memainkan petasan alias benda yang disulut lalu menyalak serta mengeluarkan bunyi ledakan memekakan telinga itu ada dan tertulis hukumnya dalam Undang-undang(UU).

Aturan tersebut ada di dalam UU Darurat no 12 Tahun 1951 dan Pasal 187 KUH Pidana tentang bahan peledak sudah diatur soal bahan peledak yang dapat menimbulkan ledakan serta dianggap mengganggu lingkungan masyarakat.

Bahkan dalam UU tersebut dijelaskan, pembuat, penjual, penyimpan, dan pengangkut petasan bisa dikenakan hukuman minimal 12 tahun penjara.

BACA JUGA: Libur Lebaran, Waktu Pas Buat Jajal Wisata Halal

Namun hingga kini belum ada seorang pun yang pernah menyalakan petasan  dihukum 12 tahun penjara.

Maka sangat disayangkan jika penjualan petasan dibiarkan oleh pihak yang berwenang tanpa proses hukum.

Sebab petasan berpotensi mengganggu ketentraman dan keamanan. Apalagi jika petasan dimainkan di jalan raya. Ini akan sangat mengganggu para pengguna jalan.

Membeli dan menggunakan petasan untuk merayakan malam takbiran adalah sebuah pemborosan dan tidak berguna serta tidak ada manfaat rasional maupun keagamaan yang dapat kita petik dari petasan.

Kita tentunya menginginkan suasana malam takbiran yang khidmat untuk meningkatkan iman tanpa terganggu oleh bunyi petasan dimana-mana melainkan kita bisa mendengarkan alunan indah takbir yang membahana. (Sbg/Rig)

Comments