Jaga jarak sosial dengan teman wajib dilakukan di tengah meloknya penularan Covid-19
(Foto: Unsplash.com)

Sabigaju.com – Sabigaju.com – Banyak masyarakat mengabaikan anjuran jaga jarak sosial dan beranggapan kalau teman atau orang terdekat tidak menularkan virus Covid-19.

Hal ini pula yang membuat banyak anggota masyarakat yang tidak patuh akan protokol kesehatan pada saat bertemu teman maupun sanak keluarga.

Padahal menerapkan jaga jarak sosial adalah salah satu cara terbaik bagi setiap orang untuk menurunkan risiko tertular infeksi virus corona jenis baru (Covid-19).

Jadi demi menghilangkan anggapan bahwa teman atau keluarga tidak menularkan Covid-19, bisa dengan memahami lewat pentingnya jaga jarak sosial terlebih di masa PSBB total.

BACA JUGA: Cuek Bebek Anjuran Jaga Jarak, Bisa Jadi Kamu Psikopat 

Jaga Jarak Penting untuk dilakukan di Masa Pandemi

Menurut sebuah studi baru yang dilakukan para eneliti dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, mensurvei sampel acak lebih dari 1.000 orang di Maryland pada akhir Juni. ditemukan fakta bahwa mereka yang sering menggunakan transportasi umum empat kali lebih mungkin melaporkan riwayat dites positif virus corona jenis baru.

Sementara, hanya mereka yang mempraktikkan jaga jarak sosial luar ruangan yang ketat hanya sepersepuluh cenderung melaporkan positif.

Selain itu, riwayat infeksi enam belas kali lebih tinggi di antara mereka yang melaporkan pernah mengunjungi tempat ibadah tiga kali atau lebih dalam dua minggu sebelumnya. Jumlah ini dibandingkan dengan mereka yang melaporkan tidak melakukan kunjungan.

Hasil penelitian menunjukkan 5,3 persen responden pernah dites positif Covid-19. Sementara, 1,7 persen dilaporkan positif terinfeksi virus corona jenis baru dalam waktu dua minggu sebelum survei.

“Temuan kami mendukung gagasan bahwa jika Anda pergi keluar, Anda harus mempraktikkan jarak sosial sejauh mungkin karena tampaknya sangat terkait dengan kemungkinan yang lebih rendah untuk terinfeksi,” ujar Sunil Solomon, profesor di Fakultas Kedokteran Johns Hopkins, sekaligus penulis senior studi tersebut.

BACA JUGA: Tegaslah Kepada Mereka yang Melanggar Aturan Jaga Jarak

Jaga Jarak Sosial Mudah Dilakukan

Solomon juga mengatakan studi tersebut relatif mudah dilakukan. Karena itu, penelitian tersebut berpotensi menjadi alat berguna untuk mengidentifikasi tempat atau subkelompok populasi dengan kerentanan yang lebih tinggi.

Data penelitian juga mengungkapkan adopsi yang lebih besar dari praktek jarak sosial di antara kelompok berisiko tinggi.

Lebih dari 80 persen responden berusia 65 tahun ke atas, melaporkan bahwa mereka selalu menjaga jarak sosial ketika melakukan aktivitas di luar ruanga.

Sementara, hanya 58 persen dari mereka yang berusia 18 hingga 24 tahun melakukan hal yang sama.

Hasilnya sejalan dengan pesan kesehatan masyarakat umum yang menggembar-gemborkan manfaat keselamatan dari pemakaian masker, jarak sosial, dan membatasi perjalanan.

BACA JUGA: Jakarta dalam Kondisi Mengkhawatirkan, Jaga Imunitas Tubuh!

Belum ditemukannya vaksin untuk digunakan,  maka  mengandalkan langkahsederhana ini bisa diandalkan untuk membatasi penyebaran virus corona lebih lanjut.

Para peneliti menambahkan survei sejenis dapat membantu menentukan di mana hot spot atau titik panas terkait Covid-19 berikutnya akan berada.

“Jadi, ini menunjukkan kemungkinan menggunakan survei cepat dan murah ini untuk memprediksi di mana wabah akan terjadi berdasarkan perilaku. Dan kemudian memobilisasi sumber daya kesehatan masyarakat yang sesuai,” tutup  Solomon. (Sbg/rig)

Comments