Warganet ramai memperbinsngkan nama Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto yang dipecat oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). (Foto: Facebook Kabar Dokter)
Warganet ramai memperbincangkan nama Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto yang dipecat oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). (Foto: Facebook Kabar Dokter)

Sabigaju.com – Kabar mengejutkan datang dari dunia kedokteran Indonesia. Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto dipecat sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Bagi dokter-dokter di Indonesia, dipecat dari keanggotaan lembaga profesi seperti IDI merupakan hantaman yang menyakitkan karena reputasi mereka dianggap tercela.

Keputusan IDI ini seakan menjadi hantaman bagi dokter sekaliber Terawan, yang sudah mendapat sejumlah penghargaan dan metode pengobatannya sudah membantu banyak orang, sehingga tak heran bila pemecatannya dari IDI ini menghebohkan masyarakat.

Kabar pemecatan tersebut beredar di media sosial dengan disertai sebuah foto menunjukan surat pemecatan dari Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).

Pemecatan dr Terawan Selama 1 Tahun

Dalam surat tersebut, Terawan, yang kini menjadi Kepala RSPAD Gatot Soebroto diberhentikan sementara per tanggal 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019.

Menurut edaran tersebut dr Terawan terbukti melakukan pelanggaran etik kedokteran yang berat, sehingga MKEK PB IDI harus memecat sementara (selama setahun)  Terawan sebagai anggota IDI.

Surat pemecatan dr.Terawan
Surat pemecatan dr.Terawan

Sanksi keras itu diteken langsung oleh Ketua MKEK Prof Prijo Sidipratomo tanggal 12 Februari 2018. Dalam surat keputusannya, IDI mengumumkan bahwa Dr Terawan terbukti, dengan sah dan meyakinkan telah melakukan pelanggaran kode etik.

Beberapa Pelanggaran

Surat dari IDI itu menyebutkan bahwa dr Terawan melanggar kode etik. Di antaranya, dr Terawan disebutkan tidak kooperatif, dan melakukan niat penolakan untuk hadir di persidangan MKEK sebagai lembaga penegak etika kedokteran. Hal itu dinilai menghalangi sidang dan bentuk pelanggaran berat.

Kemudian, dr Terawan juga dikatakan terbukti tidak berperilaku layaknya seorang dokter yang paham sumpah dokter dan KODEKI serta tatanan organisasi (AD/ART IDI). Sehingga perilakunya menimbulkan masalah dalam etika kedokteran.

Bagi MKEK, bobot pelanggaran yang dilakukan dr Terawan adalah pelanggaran berat sehingga ia dijatuhkan sanksi pemecatan yang diikuti pernyataan soal tertulis pencabutan rekomendasi izin praktiknya.

Keputusan IDI yang melakukan pemecatan  Terawan  tentu sangat mengejutkan, menimbang bahwa prestasi dr Terawan dalam dunia medis cukup mumpuni. Terlebih  terobosan terbarunya ‘cuci otak’ dikatakan bisa menyelamatkan para penderita stroke.

Karenanya banyak yang menduga bahwa keputusan MKEK PB IDI ini terlalu kolot bahkan tak sedikit yang berpandangan sangat sembrono

Reaksi ini muncul karena Terawan yang kini menjabat kepala RSPAD tersebut sudah banyak menolong ribuan pasien.

Pasiennya pun bukan sembarang. Sejumlah tokoh nasional pernah menjadi pasiennya.

Mereka diantaranya jurnalis yang juga musisi rock Tanah Air Rodrigo Pasaribu, seniman Butet Kertarajasa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil PresidenTry Sutrisno, mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendro priyono, mantan menteri BUMN Dahlan Iskan, mantan Menkumham Yusril Ihza Mahendra dan masih banyak lagi.

Hingga artikel ini diturunkan Sabigaju terus berusaha mengkonfirmasi dr Terawan lewat Sambungan telepon guna mendapat tanggapan perihal keputusan IDI akan pemecatan dirinya tersebut. (Sbg/Rig)

Comments