Rokok Elektrik
pemerintah di negara maju seperti Amerika dan Inggris kini mulai menetapkan berbagai aturan pengguna rokok elektrik di negaranya. (Foto: Unsplash)

Sabigaju.com – Saat ini penggunaan vape alias rokok elektrik begitu marak di kalangan anak muda. Dan kondisi tersebut rupanya begitu mengkhawatirkan terutama di Amerika serikat (AS)

Dilansir laman Business inside belum lama ini, lantaran itulah, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (US Food and Drug Administration/FDA) mengeluarkan pernyataan bahwa penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja Amerika Serikat telah mencapai tahap epidemi.

FDA menemukan ada lebih dari dua juta pelajar baik tingkat SMA maupun SMP yang menggunakan rokok elektrik sepanjang tahun 2017 lalu dan bertambah di tahun 2018 ini.

BACA JUGA :

Larangan Penjualan VAPE Terhadap Remaja

Pihak FDA khawatir terkait penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja dan menilai perlu ada pengaturan lebih lanjut agar peredaran rokok elektrik tidak disalahgunakan.

Maka, pemerintah federal di Amerika Serikat menetapkan aturan untuk melarang praktik penjualan produk tembakau elektrik pada remaja di bawah usia 18 tahun.

Komisaris FDA Scott Gottlieb mengakui pihaknya telah lalai memperhitungkan daya tarik rasa dari rokok elektrik terhadap remaja. Karenanya, FDA menyatakan penggunaan tembakau elektrik yang dapat menyebabkan ketergantungan pada remaja harus diakhiri.

Berdasarkan survei National Youth Tobacco pada 2016 lalu, sebanyak 1,7 juta pelajar SMA dan 500 ribu pelajar SMP mengakui bahwa mereka mengkonsumsi rokok elektrik dalam rentang waktu 30 hari terakhir saat survei dilakukan.

Tantangan Buat FDA

FDA masih terus mempelajari rokok elektrik sebagai salah satu produk tembakau alternatif yang bisa membantu perokok dewasa untuk berhenti secara bertahap mengingat produk ini berpotensi memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional yang penggunaannya dengan cara dibakar.

Gottlieb juga menjelaskan bahwa hal utama yang menyebabkan penyakit berbahaya dari penggunaan produk tembakau bukanlah nikotin, melainkan TAR.

TAR merupakan zat kimia yang dihasilkan dari proses pembakaran, salah satunya pada pembakaran tembakau. TAR mengandung bahan kimia berbahaya yang merupakan penyebab penyakit seperti kanker, jantung, dan paru-paru.

Sampai saat ini, FDA berpendapat bahwa rokok elektrik sebagai alternatif bagi perokok dewasa untuk menghentikan kebiasaan mereka yaitu dengan beralih ke produk tembakau yang berpotensi memiliki tingkat risiko lebih rendah. ”

“Bagi kami, hal ini merupakan kesempatan untuk memanfaatkan potensi dari teknologi baru, dimana perokok bisa tetap mendapatkan nikotin, namun dengan potensi risiko yang lebih sedikit daripada rokok karena tidak adanya proses pembakaran,” sambung Gottlieb.

Tiru Pembatasan Rokok Elektrik  di Inggris

Jika berkaca dari negara lain seperti Inggris, penggunaan produk tembakau alternatif ini telah diatur dalam sebuah peraturan yang tegas.

Pada bulan Mei 2017, Inggris mulai memperketat aturan penggunaan rokok elektrik seperti pengurangan ukuran isi ulang, pengurangan ukuran tangki dan cartridge, hingga pengetatan pada pengguna remaja di bawah umur.

Selain Inggris, Selandia Baru juga sudah menerapkan aturan terkait penggunaan produk tembakau alternatif.

Hal itu dilakukan dengan menerapkan regulasi khusus iklan rokok elektrik yang bertujuan mengurangi daya tariknya bagi masyarakat yang tidak merokok dan remaja di bawah umur.

Kondisi di Indonesia

Jika di Amerika dan Inggris sudah mulai menerapkan batas umur pengguna vape, lantas Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, produk Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) yang terdiri dari rokok elektrik atau vape, molase tembakau, tembakau kunyah, dan tembakau hirup diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan No.146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau yang berlaku sejak Juli 2018 lalu.

Hingga kini belum ada kebijakan yang secara khusus mengatur batasan umur penggunaan produk tembakau alternatif di Indonesia. Namun, beberapa penjual produk rokok elektrik  di Indonesia  berinisiatif melakukan pencegahan penggunaan produk tersebut pada remaja di bawah umur.

Misalnya, Vaporizer Jakarta, yang sejak awal 2018 menerapkan kebijakan verifikasi kartu identitas calon pembeli yang membeli rokok vape. (Sbg/Rig)

Comments