Berbagai jenis makanan yang mengandung Vitamin D
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Hingga kini banyak orang beranggapan kalau Vitamin D dapat memberi perlindungan dari penularan penyakit yang disebabkan oleh virus corona.

Bahkan Di Amerika Serikat dan Inggris, vitamin D sempat viral sebagai obat corona. Semua berawal ketika para peneliti di AS dan Inggris membandingkan tingkat vitamin D dari berbagai negara dengan tingkat kematian corona.

Tapi apakah Vitamin jenis ini ampuh menangkal infeksi corona ataupun membuat seseorang sembuh?

BACA JUGA: Gaes, Suplemen Nggak Efektif Cegah Infeksi Corona!

Kebutuhan vitamin Setiap Orang Tidak Sama

Konsumsi vitamin D yang terlalu banyak dapat menyebabkan penumpukan kalsium yang beracun dalam darah.

Efeknya, dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi dan masalah dengan ritme jantung, serta nyeri tulang, hingga kerusakan ginjal dan batu ginjal yang menyakitkan.

Menurut Institute of Medicine of The National Academies’ Food and Nutrition Board, kebutuhan harian vitamin jenis ini  disarankan berbeda-beda bagi setiap orang.

Bahkan, tidak hanya berdasarkan usia, tetapi di setiap negara aturan dosis konsumsi atau kebutuhan vitaminini juga berbeda.

Setiap wilayah atau negara di belahan dunia lain, pasti juga memiliki anjuran dosis yang berbeda. Khusus untuk negara dengan perbedaan lingkungan dan pola makan, biasanya dosis vitamin jenis ini  yang diperlukan berkisar antara 400 IU dan 800 IU per hari.

Di Amerika Serikat, bagi anak di atas usia 4 tahun dosisnya 600 IU per hari dan usia lebih dari 70 tahun dosis yang diberikan bisa mencapai 800 IU per hari. Sedangkan di Inggris, jumlah kebutuhan vitamin ini yang disarankan adalah 400 IU per hari.

Selain itu, di Inggris, penelitian menunjukkan penggunaan vitamin D dalam waktu yang lama mungkin dapat meningkatkan penyebab kematian. Di antaranya kanker, penyakit kardiovaskular, atau bahkan akan lebih banyak potensi patah tulang pada orang tua karena jatuh.

BACA JUGA: Nggak Ampuh Cegah Corona, Vitamin dan Suplemen Kok Laris

Belum Ada Bukti untuk Melindungi dari Virus Covid-19

Bukti ilmiah vitamin D pada Covid-19 kurang Terkait vitamin D dapat melindungi dari Covid-19, Robin May dari Institut Mikrobiologi dan Infeksi di University of Birmingham di Inggris mengungkapkan sampai saat ini tidak ada bukti kadar tertentu vitamin ini dapat melindungi dari penyakit tersebut.

Untuk mengatasi lonjakan masyarakat terhadap konsumsi vitamin D, National Health Service Inggris menambahkan pembaruan virus corona ke halaman informasi mereka tentang vitaminini

Mereka menulis ada beberapa laporan berita tentang vitamin D yang mengurangi risiko virus corona.

Namun, tidak ada bukti dari kasus ini. Peringatan tersebut digaungkan sekelompok ilmuwan lain di Inggris, Eropa dan Amerika Serikat.

Para ilmuwan ini menulis meluasnya penyebaran Covid-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2 telah menyebabkan seruan konsumsi suplemen vitamin jenis ini dalam dosis tinggi.

“Seruan ini tanpa dukungan dari studi terkait pada manusia, tetapi lebih didasarkan pada spekulasi tentang mekanisme dugaan,” kata mereka.

BACA JUGA: Sampai Gosong Sekalipun, Berjemur Tidak Mematikan Corona

Soal Dampak Tehadap Kondisi Kesehatan

Kendati demikian, vitamin ini tidak hanya melindungi perkembangan tulang dan otot, tetapi juga dapat membantu meningkatkan fungsi sel otak, serta membantu sistem kekebalan tubuh melawan bakteri dan virus yang menyerang.

Mantan Direktur CDC Dr Tom Friedan mengatakan suplemen tambahan mungkin baik untuk  orang tua dan mereka  dengankondisi kronis.

Sementara itu, Michael Head, peneliti senior bidang kesehatan global di University of Shouthampton Inggris mengatakan ada beragam bukti peran vitamin jenis ini dan infeksi saluran pernapasan.

“Ada sejumlah korelasi tertentu, tetapi ketidakpastian besar tentang sebab-akibat. Ini tentu saja memerlukan penelitian lebih lanjut,” kata Head. Kendati demikian, para ahli menegaskan vitamin ini  sebagai mikronutrien utama harus diberikan fokus khusus.

Vitamin D jangan lantas dijadikan sebagai senjata andalan untuk mengalahkan Covid-19, karena basis bukti ilmiah saat ini tidak mencukupi. (Sbg/Rig)

Comments