Sabigaju.com – Mungkin Anda pernah mendengar para aktivis feminisme seperti NH Dini, Ayu Utami, Dewi Lestari, Fira Basuki, dan masih banyak lagi. Sebagai seorang aktivis feminisme, tentu yang mereka gaungkan adalah perempuan memiliki kemerdekaan atas dirinya untuk menggunakan hak dan kepentingannya dalam berbagai kegiatan. Jika Anda melihat lebih jauh, hampir semua feminis di Indonesia didominasi oleh kaum hawa. Hal ini menjadi masuk akal sebab mereka melindungi kaumnya sendiri. Namun, tahukah Anda bahwa ada ulama sekaligus feminis di Indonesia?

Awal Kiprah Husein Muhammad sebagai Feminis

 Di tahun 1993, P3M mengadakan seminar tentang perempuan dalam pandangan-pandangan agama. Salah satu peserta seminar tersebut adalah Husein Muhammad. Dari seminar tersebut, Husein Muhammad menyadari bahwa harus ada peran agama untuk memperjuangkan hak dan kepentingan perempuan. Di situlah awal Husein Muhammad mengenal feminisme.

Menurut Husein Muhammad, agama tidak mengajarkan untuk menjatuhkan gender tertentu. Dalam Islam, agama seharusnya turun untuk menjunjung harkat dan martabat semua golongan, termasuk golongan perempuan juga. Selain itu, penindasan perempuan bagi Husein bukanlah hal yang bisa dianggap enteng. Penindasan terhadap perempuan sama saja tidak menjunjung kemanusiaan.

Selanjutnya, Husein mencoba melihat persoalan perempuan dari lingkungan terdekatnya; pesantren. Pesantren dianggap Husein memiliki budaya patriarki yang kuat, sehingga kaum adam memiliki peran yang lebih dibanding perempuan. Husein berkesimpulan bahwa untuk menggaungkan semangat feminisme di pesantren, hal tersebut harus dilakukan oleh laki-laki. Sebab, perjuangan feminis yang dilakukan oleh perempuan di lingkungan pesantren dianggap menyalahi nilai dan moral yang ada di dalam pesantren. Oleh karena itu, Husein menganggap bahwa laki-laki juga memiliki peran penting dalam fenimisme. Laki-laki mampu menyuarakan feminisme di situasi dan kondisi yang tidak bisa dijangkau oleh perempuan.

Pemikiran Husein Muhammad sebagai Ulama Feminis

Sebagai ulama yang membela hak-hak perempuan, tentu Husein memiliki berbagai pemikiran terkait feminisme. Pemikiran utama yang selalu Husein serukan adalah maknaa tentang seksualitas. Menurutnya, makna seksualitas dalam Islam yang sekarang dipengaruhi oleh dominasi laki-laki, sehingga menempatkan laki-laki sebagai pihak yang superior dan perempuan sebagai pihak yang inferior. Bahkan, seksualitas dalam peradaban manusia juga mereduksi eksistensi seksualitas perempuan dibanding seksualitas laki-laki. Seksualitas perempuan selalu di bawah dan hanya menjadi kesenangan kaum laki-laki saja. Dengan kata lain, Husein Muhammad menganggap budaya patriarki sedikit banyak telah mengikis eksistensi seksualitas perempuan.

Lebih lanjut lagi, Husein Muhammad menganggap bahwa agama Islam yang ideal tidak penuh dengan budaya patriarki. Agama memiliki tugas yang sama dengan negara, yaitu menegakkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Menurut Husein, dalam agama Islam menghendaki adanya kesetaraan dan keadilan bagi setiap makhluknya, termasuk perempuan. Dari berbagai ayat Al-Quran, Husein menyimpulkan bahwa Islam memberikan apresiasi yang setara antara seksualitas perempuan dan seksualitas laki-laki. Oleh karena itu, perlindungan dan derajatnya sama di mata Islam. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. (sbg/Erny)

Comments