Pemerintah dinilai terburu-buru dalam menerapkan sistem HOTS (High Order Thinking Skill) pada UNBK 2018. (Foto: Pixabay tjevans)

Sabigaju.com – Tahun ini, UNBK yang dilaksanakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain menetapkan medium komputer yang menggantikan kertas sebagai tempat soal, pemerintah juga menetapkan standar yang lebih tinggi untuk para siswa.

HOTS (High Order Thinking Skill) adalah standar yang mengharuskan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah. Namun, para pengamat pendidikan menganggap bahwa pemerintah terlalu terburu-buru dalam mengimplementasikan standar tersebut ke dalam ujian. Siswa dirasa masih perlu waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi HOTS.

Apa itu HOTS?

HOTS (High Order Thinking Skill) adalah salah satu standar pendidikan yang dipakai di dunia. Dikutip dari Tirto.id, Edi Susanto dan Heri Retnawati dalam Jurnal Riset Pendidikan Matematika menjelaskan bahwa HOTS sebagai “kemampuan berpikir yang terdiri atas berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah.” Pada akhirnya, HOTS berharap mampu membuat siswa bisa memberikan inovasi baru, menciptakan ide kreatif, mampu membuat prediksi, dan mampu memecahkan masalah non rutin.

BACA JUGA: Meme Lucu UNBK 2018, Nomor 3 Kok Serem Banget Sih?

Mengapa pemerintah mencanangkan standar HOTS pada UNBK kali ini? Dalam hal pendidikan, Indonesia mendapat nilai jelek dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA), sebuah studi per tiga tahun yang menguji akademis anak sekolah usia remaja. Menurut PISA 2015, skor Indonesia dalam sains di angka 403, matematika di angka 386, dan literasi 297. Dalam 70 negara yang disurvei oleh PISA, Indonesia berada dalam urutan 62 untuk sains, 63 untuk matematika, dan 64 untuk literasi. Ini berarti, Indonesia masih menempati 10 peringkat terbawah dalam hal pendidikan.

Oleh karena itu, Menteri Pendidikan berinisiatif untuk memasukkan soal-soal yang membutuhkan daya nalar tinggi untuk mendongkrak daya pikir para siswa. Standar LOTS (Low Order Thinking Skill) yang selama ini dipakai untuk soal-soal ujian dianggap belum mampu mendongkrak daya pikir para siswa.

Dalam 40 soal yang muncul, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menjelaskan bahwa hanya 10 persen saja yang masuk dalam kategori HOTS. Meskipun begitu, banyak siswa yang merasa kesusahan dalam menjawab soal ujian.

Siswa dan Guru Perlu Waktu

Inisiatif pemerintah untuk menaikkan standar pendidikan dengan mencanangkan standar HOTS ke ujian menuai masalah. Strategi pemerintah yang menganggap pengimplementasian HOTS ke ujian sebagai “jalan cepat” mendongkrak nilai PISA hanya akan menambah masalah.

BACA JUGA: George Peabody, Jutawan yang Peduli dengan Dunia Pendidikan

Dari segi siswa, reaksi para murid sudah langsung muncul lewat media sosial. Muncul status, komentar, hingga meme yang berisi keluh kesah tentang susahnya UNBK. Selain itu, HOTS yang terburu-buru juga dirasa tidak menghargai usaha siswa. Meskipun sekarang UNBK bukan lagi penentu utama kelulusan, tapi segala fokus dan tenaga yang dimiliki siswa pasti dicurahkan semua untuk UNBK. Di hari ujian, mereka harus menelan pil pahit karena beberapa soal tidak sesuai dengan kisi-kisi maupun try out yang sudah dilakukan. Laporan yang diterima Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memaparkan ada beberapa materi yang tidak dipelajari tapi keluar dalam soal. Tentu hal tersebut akan menyulitkan para siswa.

Dari segi guru, adanya standar HOTS menimbulkan kecemasan tersendiri. Dengan datangnya standar HOTS yang mendadak, guru-guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk membekali para siswa dalam menghadapi soal ujian. Guru-guru belum siap membekali metode pemecahan masalah tingkat tinggi dalam waktu yang singkat. Penyelesaian masalah seperti yang menjadi tujuan HOTS harus dilakukan secara berkala, intens, dan terus-menerus. Pemerintah dianggap terlalu buru-buru memberikan soal berstandar HOTS tanpa memberikan persiapan yang matang.

Kesimpulannya, HOTS memang memiliki tujuan yang baik. HOTS mengajak para siswa untuk mampu berpikir kritis, inovatif, dan mampu memecahkan masalah yang kompleks. Ditambah lagi, HOTS mampu mendongkrak pendidikan di Indonesia. Namun, implementasi yang terlalu terburu-buru dan persiapan yang kurang matang akan membawa HOTS menjadi masalah tersendiri bagi pendidikan di Indonesia. (sbg/Erny)

Comments