Ilustrasi penile fracture. (Foto: medium.com)

Sabigaju.com – Eksplorasi gaya saat melakukan hubungan seks memang menambah kenikmatan, tapi tanpa diimbangi dengan skill dan kehati-hatian ekstra, eksplorasi gaya bisa jadi celaka. Salah satu akibat fatal dari kesalahan dalam mengaplikasikan gaya bercinta adalah penile fracture alias penis patah.

Penis kan tidak bertulang, mengapa bisa patah?

Penile fracture terjadi ketika penis mengalami ereksi dan mendapat benturan atau tekanan yang berlebihan. Hal ini terjadi karena adanya trauma pada selaput tunika albuginea yang tak bisa menahan tekanan atau benturan.

Umumnya, penis yang patah atau retak ketika bercinta ditandai dengan bunyi retakan atau letupan yang datang dari tunika albuginea yang sobek. Ereksi pun mereda seketika. Selanjutnya, organ vital tersebut akan membengkak dan muncul memar.

Untuk itu, berhati-hatilah dengan pilihan gaya bercinta Anda. Bukan berarti harus membatasi diri, tapi pastikan Anda selalu “main aman”.

Posisi Bercinta yang Rawan Risiko Penile Fracture

1. Woman On Top

(Foto: iheartintelligence.com)

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Advances in Urology, 50% kasus penis patah saat bercinta terjadi saat pasangan menerapkan gaya woman on top. Ini berarti gaya cowgirl, reverse girls, atau duduk di atas pangkuan adalah posisi yang membahayakan alat vital para pria.

Gaya woman on top membahayakan para lelaki karena seluruh beban tubuh wanita bertumpu pada penis yang sedang ereksi. Pria pun tak bisa mengendallkan dan mengatur tekanan yang diterimanya.

2. Doggy Style

(Foto: boingboing.net)

Penelitian yang dilakukan oleh School of Medical Science, University of Campinas di Brazil, menunjukkan setidaknya 29% kasus penile fracture diakibatkan oleh posisi bercinta ala doggy style. Gerakan pria yang terlalu agresif saat penetrasi akan memperbesar kemungkinan benturan dengan tulang kemaluan wanita dalam keadaan penis ereksi. Tak heran kalau doggy style ini berisiko mematahkan penis.

Penis patah adalah kondisi darurat yang harus segera mendapatkan penanganan medis. Anda mungkin merasa sungkan menjelaskannya di depan dokter, tapi rasa malu itu takkan sebanding dengan risiko yang membayanginya yakni disfungsi ereksi atau impotensi. (Sbg/Fitri)

Comments