Sabigaju.com – Aksi terorisme dalam beberapa waktu terakhir, dimulai dari kericuhan di Mako Brimob, penusukan polisi, ditangkapnya dua orang perempuan muda yang hendak menyerang polisi, sampai rentetan bom di Jawa Timur sejak Minggu (13/5) pagi, telah mengisap habis ketenangan kita semua. Kemarahan meluap-luap, mengutuk tindakan para teroris yang mengatasnamakan agama untuk membunuh, terlebih ketika mengetahui dilibatkannya anak-anak dalam aksi tak berprikemanusiaan tersebut.

Para pelaku teror tidak melakukan aksinya demi mengisi waktu luang semata. Mereka telah terdoktrin hingga memiliki keyakinan yang demikian kuat sampai rela mengorbankan hidupnya. Bayangkan, dalam kondisi pikiran sehat, siapa sih orang yang ingin dirinya mati dengan kondisi tubuh hancur akibat ledakan? Pasti tidak ada. Mereka memang telah teracuni oleh ajaran yang menyesatkan.

BACA JUGA: Pengeboman di Surabaya Berkaitan dengan Penusukan di Paris

Banyak yang mengecam aksi tersebut, tapi jangan lupakan satu hal yang lebih penting; bagaimana cara mencegahnya?

Paham radikal tidak langsung menyerbu institusi besar. Ia menyebar seperti virus, masuk melalui celah-celah terkecil yang dimiliki setiap lingkup sosial seperti sekolah, kampus, tempat ibadah, sampai keluarga—yang mana seharusnya jadi benteng terkuat kita. Untuk itu, seharusnya setiap orang memiliki kesadaran untuk melakukan tindak pencegahan.

Bentengi diri agar tak mudah terpengaruh. Salah satunya dengan cara memberanikan diri menolak setiap tindak radikal. Aksi membunuh orang lain karena keyakinannya pribadi itu muncul dari fanatisme terhadap suatu ajaran tertentu. Mereka yang benar-benar bersedia jadi ‘pelaku’ mungkin takkan mengunggah perihal niatannya di media sosial atau menggembar-gemborkan kepada orang lain sebelum bertindak, tapi tidak ada salahnya jika kamu mengonfrontasi mereka yang tertangkap basah sedang menebarkan bibit-bibit radikalisme itu. Jika dirasa meresahkan, laporkan kepada pihak berwajib.

Selain itu, menurut Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, “Terorisme tidak bisa ditangkal hanya dengan menangkap dan menembak pelaku. Melawan ideologi dilakukan dengan memoderasi narasi radikal mereka,” sebagaimana dilansir Sabigaju dari artikel Kompas.com. Peran ahli agama pun sangat dibutuhkan dalam hal ini, mengingat radikalisme seringkali muncul dari kutipan ayat-ayat kitab suci yang multiinterpretasi.

BACA JUGA: Polda Metro Jaya Tetapkan Status Siaga Satu, Warga diminta Jangan Termakan Hoax

Dari segi ilmu komunikasi, masih dilansir dari Kompas.com, ada lima cara yang harus diperhatikan dalam mencegah paham radikal ini semakin menyebar. Pertama, dengan menetralisasi orang-orang yang berpotensi menjadi sender atau melakukan perekrutan. Kedua, lemahkan ideologi radikal tersebut dengan ideologi tandingan yang bersifat moderat. Ketiga, sebarkan ideologi tandingan itu ke kelompok masyarakat yang rentang jadi target radikalisasi. Keempat, awasi media-media yang jadi sarana penyebaran paham radikalisme. Kelima, pahami konteks sosial budaya yang ada di setiap lapisan masyarakat.

Jangan lupa untuk selalu menyaring setiap informasi yang kamu dapat, apapun itu bentuknya. Jadilah murid yang selalu haus akan pengetahuan, jangan pernah puas hanya belajar pada satu sumber. Pertanyakan setiap “ilmu” yang kamu dapat dan pelajarilah secara menyeluruh. Jangan berhenti pada satu yang kamu anggap benar lalu mengagungkannya tanpa logika. Biar bagaimanapun, hidup butuh keseimbangan dan semua itu dimulai dari pikiran. (sbg/Fitri)

Comments