Pelit
Alih-alih menekan pengeluaran keuangan, sebagai cowok kamu mesti hati-hati agar tidak terjebak antara hidup hemat dan pelit.(Foto: Pixabay)

Sabigaju.com – Menekan pengeluaran keuangan itu perlu dan bagus. Namun, sebagai cowok kamu mesti hati-hati loh terjebak antara hidup hemat dan pelit.

Lho memangnya beda ya? Keduanya sama-sama menekan pengeluaran kan. Ya jelas beda lah.

Hidup hemat itu berarti kamu mendasarkan pengeluaran pada prioritas dengan gak melakukan pengeluaran-pengeluaran yang gak penting.

Hal itu berbeda dengan gaya hidup  pelit yang memangkas pengeluaran, tapi gak menggunakan akal sehat dan pikir panjang. Ibarat kata nih ye, kalau bisa semua serba gretong alias gratisan.

Nah Sabigaju mau kasih nih beberapa ciri-ciri yang membedakan antara orang hemat dan pelit.

Soal Memberi Tip

Bagi kebanyakan orang Indonesia, memberi tip memang belum menjadi budaya. Padahal, tip adalah bentuk apresiasi pada jasa atau layanan.

Namun, bila kamu merasa puas dengan suatu layanan, kamu bisa memberi tip. Kebiasaan ini juga tidak harus dalam nominal besar.

Kamu bisa memberikannya sebagai bentuk ucapan terima kasih. Ingat, memberi juga akan membuat kamu lebih bersyukur dan bahagia.

Kalau Kamu nggak pernah memberi uang tip kepada orang yang sudah banyak membantu, kamu benar-benar seorang cowok pelit 24 karat.

Tak Mau Mengeluarkan Uang untuk Hal yang Dibutuhkannya

Kebutuhan berbeda dengan keinginan. Kamu boleh menunda pengeluaran untuk hal yang sifatnya keinginan. Namun, bila pengeluaran tersebut benar-benar menjadi kebutuhan, sangat tidak bijak menundanya. Kalau kamu melakukannya itu tandanya kamu cowok pelit.

Selalu makan dan berkumpul dengan teman-teman di restoran termasuk keinginan. Mengganti laptop yang rusak untuk bekerja adalah kebutuhan. Jangan tunda membeli laptop untuk meningkatkan produktivitas.

Menghindari Kewajiban Pajak

Menghindar dari pajak adalah tanda seorang cowok pelit. Hal ini sering terjadi saat makan bersama di restoran. Di sana, kamu  diharuskan membayar pajak restoran setidaknya 10%.

Meski begitu, di dalam daftar menu, mereka biasanya belum memasukkan daftar komponen pajak tersebut.

Saat membayar, jangan hanya membayar sesuai harga, karena itu bisa menyusahkan teman-teman karena harus membayar pajaknya.

Kalau kamu kebiasaan melakukan itu bersiaplah jadi cowok kesepian lantaran teman-teman apok mengajak kamu makan bersama.

Hal Bersosialisasi

Akan ada saatnya kita harus dengan rela mengeluarkan budget untuk punya waktu have fun bareng teman-teman.

Dan gak ada salahnya kok kalau kamu sesekali mentraktir teman-teman satu tim pas ulang tahun atau dapat kenaikan gaji atau promosi jabatan misalnya.

Gak bakal langsung bikin kita jadi blangsak kok kalau cuma traktir teman-teman makan di warteg atau order pizza.

Sementara si pelit sudah bisa ditebak ini mah, bakalan menolak untuk traktir, kalau bisa ditraktir aja terus. Ini nih yang namanya Si Pelit kelas kakap.

Menyikapi Diskon

Memanfaatkan diskon memang berguna untuk penghematan. Dalam hal belanja cowok hemat akan menyiasati pengeluaran belanja kebutuhan dan keinginan dengan selalu mencatat daftar belanja dan memanfaatkan setiap ada diskon atau promo.

Bagaimana dengan cowok pelit? Sudah bisa dipastikan mereka bakalan hanya belanja saat ada diskon saja. Padahal ini belum tentu menghemat loh.

Justru saat cuma bersikeras untuk belanja barang-barang yang didiskon saja, belum tentu sebenarnya barang-barang itulah yang dibutuhkan. Tapi karena sudah gelap mata oleh kata ‘sale’ ya sudah.

Membeli barang yang sama berulang kali pun hanya akan membuat pengeluaran semakin boros.

100 Persen Gag Mau Rugi

Ketika belanja di toko kecil dan kasir tidak memiliki kembalian dan kamu menagih dengan marah-marah dan teriak. Ini adalah tanda pelit.

Uang sekecil apa pun memang sangat berharga, tetapi jangan membuat kamu menjadi pribadi yang perhitungan. plus emosian.

Masih banyak cara berhemat tanpa harus menjadi cowok pelit. (Sbg/Rig)

Comments