Sabigaju.com – Berangkat dari ide untuk melestarikan seni tari di berbagai belahan dunia, kala itu Profesor Alkis Raftis menggagas Hari Tari Sedunia. Pria yang juga adalah Presiden CID (Counsil Internasional de la Danse) ini berniat mengajak seluruh warga dunia untuk berpartisipasi menampilkan tarian yang sangat beragam.

Saat itu, lembaga atau organisasi belum banyak yang mau mendanai bidang seni tari secara memadai. Pendidikan seni tari pun sangat minim. Ketertarikan warga dunia untuk menekuni seni tari juga sangat rendah. Bersama UNESCO, CID pun berharap generasi muda dunia bisa melestarikan budayanya lewat seni tari.

Baca juga: Profesi Keliling Di Jakarta yang Masih Eksis Hingga Kini

Tahun 2003, Hari Tari Sedunia akhirnya resmi ditetapkan. Pada tahun 2007, program ini mulai fokus pada anak-anak. Tahun ini pun, Indonesia juga akan merayakannya di berbagai tempat. Monas, misalnya.

Memaknai Tarian

Tari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gerakan badan (tangan dan sebagainya) yang berirama dan biasanya diiringi dengan bunyi-bunyian. Jika kamu menari, maka kamu sedang memainkan tari dengan menggerak-gerakkan badan serta diiringi dengan bunyi-bunyian.

Menurut beberapa ahli, tari memiliki arti yang lebih luas. Misalnya saja Soedarsono. Ia mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan dengan gerakan ritmis yang indah.

Tari tradisional Indonesia. (Wikipedia)

B.P.A Soerdiningrat juga mengungkapkan hal sedikit beberbeda. Menurutnya, tari adalah gerak-gerak dari seluruh tubuh/badan yang selaras dengan bunyi music (gamelan), diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan di dalam tari.

Kemudian pakar internasional Corrie Hartong dalam buku Danskunst menjelaskan bahwa tari berasal dari seluruh tubuh/badan yang selaras dengan bunyi musik (gamelan), diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan di dalam tari.

Karena lahir sebagai ekspresi, tari harus lahir dalam jiwa seseorang agar pesan yang disampaikan dapat diterima para penontonnya. Tak hanya ditonton, tari juga harus bisa dinikmati dengan rasa.

Yang Nyaris Hilang dari Ingatan

Masuknya energi modern ke setiap elemen kehidupan manusia memang tak bisa dipungkiri lagi. Namun sekaligus demikian, fenomena ini tak bisa jadi pembenaran. Warisan para leluhur yang ada di Tanah Air tetap harus dilestarikan.

Berbicara soal warisan leluhur, tarian adalah salah satunya. Sayang, tarian tradisional kini mulai digeser dengan adanya tarian yang lebih modern, hip hop atau kpop misalnya. Setiap individu memang punya seleranya sendiri. Tapi apa salahnya mencoba sekadar mengingat kembali apa yang telah para pendahulu kita warisi?

Sobat Sabi mungkin sudah mulai jarang, atau bahkan tak pernah lagi mendengar Tari Laweut. Tari ini berasal dari Pidie, Aceh. Tari Laweut muncul sejak zaman penjajahan Belanda dan diisi dengan shalawat kepada Nabi Muhammad serta irama khas patriotisme rakyat Aceh. Namanya kini dinyatakan hampir punah di Indonesia.

Baca juga: Kuliner khas Bali yang Bakal Dirindukan Usai Hari Raya Nyepi

Tari Laweut tak sendiri. Di Banjarnegara, Tari Aplang nyaris mengalami nasib serupa. Tari ini bernapaskan Islam karena diiringi dengan rebana, bedug serta cerita syair puji-pujian dengan bahasa Arab dan Jawa.

Di Probolinggo ada Tari Sapi Pajengan yang juga nyaris punah. Sebabnya bikin miris. Pemerintah setempat merasa bahwa untuk mengapresiasi seni semacam tari ini dibutuhkan biaya yang cukup mahal.

Masih banyak tari tradisional lain yang mengalami hal serupa dengan tiga tari di atas. Jadi, masihkah kita harus lebih mencintai budaya baru dan asing di Indonesia pada Hari Tari Sedunia dan pada hari lainnya? Kenapa harus menunggu negara tetangga mengakui dulu baru mata kita mulai terbuka? (sbg/Dinda)

Comments