Senioritas
Sikap senioritas yang tidak baik sering menjadikan orang lain merasa jengkel lantaran menjadi target dan ajang pamer kekuasaan (Foto: Forbes Italy)

Sabigaju.com – Ada semacam adagium tentang senioritas yang berlaku dalam masyarakat kita bahwa sosok senior harus selalu menjadi perhatian.

Dimana-mana, yang namanya junior memang selalu dituntut untuk menurut pada semua yang dikatakan senior.

Padahal, tak selamanya yang dilakukan atau dikatakan oleh si senior adalah hal yang benar.

Hal itu tak lepas dari adanya peraturan tak tertulis yang menyebutkan kalau
1. Senior tidak pernah salah
2. Jika senior salah, lihat pasal 1

Nah, Kali ini sabigaju mau kasih info bagaimana menghadapi orang orang yang kerap melakukan senioritas secara berlebihan?

BACA JUGA :

Fenomena Senioritas di Sekolah

Bagi kalian yang saat ini sekarang duduk di bangku SMA, ataupun baru masuk dunia perkuliahan, atau baru masuk organisasi pasti pernah mengalami rasanya masuk ke lingkungan baru yang asing.

Rasa enggan, was-was, sungkan, canggung yang mungkin menghantui kalian. Tapi, dari semua perasaan nggak enak waktu masuk ke lingkungan baru, sepertinya nggak ada yang bisa mengalahkan rasa takut dengan tekanan dari pihak senior.

Kita paham banget kok, betapa para junior kadang merasa jengkel banget dengan sikap-sikap jahil senior yang suka menggoda iseng ataupun ngerjain nggak lucu, hazing, bullying,  yang intinya menjadikan para junior ini jadi target dan ajang pamer kekuasaan.

Fenomena seperti ini memang sudah turun-temurun terjadi dari zaman dinosaurus sampai sekarang, lho! Dari mulai kecenderungan para senior yang ingin menyalahgunakan posisinya jadi cenderung menindas yang junior.

Parahnya, yang junior juga pasrah sambil berharap untuk cepat-cepat cepetan ada junior baru biar bisa bales dendam ke mereka. Nah ini, budaya senioritas ini berputar terus antar generasi dan tidak ada habis-habisnya.Yes, caranya cuma satu!

Bersikap Ramah

Nah, ada hal yang paling simpel untuk menghadapi kondisi ini yang justru sering dilewatkan, yakni Keramahan.

Hal itu bisa kalian bisa hadirkan dengan berbagai cara seperti cara kalian senyum, bahasa tubuh, cara kalian berbicara, nada bicara, kosakata yang kalian gunakan, mimik muka, cara kalian berpakaian, dan lain lain.

Percaya saja, walaupun kalian pikir itu adalah hal-hal sepele yang nggak ngaruh, tapi sebetulnya itu justru sangat berperan waktu orang pertama kali menilai kalian.

Tidak Ada Senioritas di Dunia Kerja

Nah kalau di dunia kerja, sikap senioritas yang tidak baik seperti kebiasaan mengalihkan tanggung jawab bukanlah budaya kerja yang patut dilestarikan. Apalagi, setiap orang sudah memiliki jatah tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

Sebagai profesional kamu harus jeli menandai orang-orang yang sering mengambil kesempatan dalam kesempitan ini. Tekankan bahwa dunia profesionalisme tidak memperhitungkan senioritas sebagai identitas yang menentukan strata seseorang dalam lingkungan pekerjaan.

Dengan demikian, setiap pegawai, baik senior maupun junior memiliki hak yang sama dalam mengutarakan pendapat dan menyatakan sikap.

Terapkan budaya kerja yang berpanduan pada to-do list. Jadi, seseorang tidak bisa seenaknya saja melemparkan tanggung jawab atau mendelegasikan tugas, apabila kondisi memang tidak memungkinkan bagi si rekan kerja untuk mengerjakan permintaannya tersebut.

Di dunia kerja, segalanya profesional, bukan personal. Walau misalnya rekan kerja di kantormu melakukan kamu seakan-akan ‘ancaman’ baginya, kamu harus tetap tenang dan berkepala dingin. Gunakan rapat sebagai tempat untuk bersuara.

Caranya, sampaikan laporan pekerjaan Anda, ide Anda, juga peran Anda dalam sebuah proyek, serta pencapaian kamu. Jelaskan pula peran rekan tim mu, dengan memberi pujian pada pencapaian dan andil rekan lain.

Dengan demikian senior dan juga bos akan melihat kamu berani, juga sekaligus menghargai orang lain. (Sbg/Rig)

Comments